Musdah Mulia: Buat Saya, Poligami Itu Kekerasan Seksual!

“Buat saya, poligami itu kekerasan seksual, ” kata-kata tegas itu dilontarkan oleh intelektual muslim Musdah Mulia dalam diskusi Perspektif – Perspektif Islam tentang Kekerasan Terhadap Perempuan di Cemara 6 Galeri-Museum Jalan HOS Cokroaminoto Nomor 9-11 Menteng, Jakarta, Sabtu (18/8/2018).

Menurut Musdah, ada beberapa prinsip dalam relasi seksual, di antaranya cinta kasih, kesetaraan, sopan-santun dan kelembutan, musyawarah dan komunikasi yang hangat, serta monogami.

Terkait interpretasi dalam Islam, Musdah menjelaskan, bicara tentang Islam berarti bicara interpretasi. Menurutnya, tidak ada satu pun agama di dunia ini yang punya interpretasi tunggal.

“Interpretasi itu ada di tangan kita,” tegas Direktur Indonesian Conference on Religions for Peace (ICRP).

Lebih jauh, Musdah mengatakan, penafsiran terhadap kitab juga bergantung pada paradigma yang dianut pembacanya.

“Apakah kita membacanya dengan perspektif otoritarian atau dengan perspektif inklusif yang memandang Tuhan sebagai Maha Rahman dan pemberi rahmat,” katanya.

Musdah mengungkapkan, banyak intelektual muslim yang betul-betul mengerti Islam yang membaca kitab secara kritis.  Hanya saja, karena takut dicaci-maki, mereka memilih bungkam atau menuliskan pikirannya menggunakan Bahasa Inggris.

Musdah mengatakan, banyak nilai-nilai agama yang diajarkan pada masyarakat sekarang bernuansa maskulin.

“Itu yang harusnya membuat kita bertanya kenapa ayat dan hadis yang itu-itu lagi yang dimunculkan dan disosialiasikan? Kenapa tidak ayat dan hadis lainnya yang mengetengahkan kedamaian dan kesetaraan?” tuturnya.

Dia kemudian menjelaskan beberapa hal yang mendasar tentang Islam.

Yang pertama, kata Musdah, Islam adalah serangkaian aturan untuk kedamaian manusia. Kata Islam berasal dari kata salam, artinya damai. Kedamaian adalah inti dari Islam.

“Kedamaian bukan hanya tidak ada kekerasan, tapi bagaimana kita lebih mengedepankan kasih sayang, cinta, keadilan, dan kesetaraan,” jelasnya.

Yang kedua, lanjut dia, manusia diciptakan sebagai khalifah fil ardh. Khalifah yang adalah pemimpin atau pengelola dunia ini, dan tugas sebagai khalifah itu tidak melihat laki-laki atau perempuan.

“Dalam rumah tangga, suami-istri sama-sama berfungsi sebagai khalifah. Karena itu bermusyawarahlah kalian dalam tiap urusan dalam rumah tangga,” katanya

Hanya saja, kata Musdah, UU Perkawinan di Indonesia yang menjadikan suami sebagai kepala rumah tangga.

“Kalau kamu mengartikan dharaba sebagai memukul (istrimu), saya akan membenturkan kamu dengan ayat-ayat lain yang mengedepankan perlunya kasih sayang,” paparnya.

Yang terakhir, jelas Musdah, mayoritas asma Allah menggelorakan femininitas, misalnya, Rahman (Maha Pengasih), Rahim (Maha Penyayang), dan  Lathiif (Maha Lembut). Karena itu, sifat-sifat feminine amatlah penting dalam membangun peradaban manusia.

 

Dalam acara yang dimoderatori oleh Feby Indirani itu, Musdah juga mengapresiasi gerakan House of the Unsilenced sebagai gerakan para peny yang menolak bungkam.

Di akhir diskus, dia berpesan agar umat mau memperdalam pengetahuan tentang agama (Islam). Karena agama bukan hanya urusan ustad dan ustadzah, siapa pun bisa belajar.

Acara diskusi ini satu acara dalam rangkaian dalam ajang seni bertema House Of The Unsilenced (Rumah kami yang tidak bungkam) yang diadakan oleh Intersastra bersama Koalisi Seni Indonesia.

Ajang seni ini sendiri merupakan kerja kolabolasi antara seniman dengan para penyintas kekerasan seksual yang menghasilkan karya serta menawarkan beragam medium kepada para panyintas, mulai dari menulis, membuat kolase, merajut, melukis, menggambar, bernyanyi, dan medium lainnya sesuai minat dan bakat masing-masing.

Ajang seni kolaborasi ini dipamerkan dari tanggal 15 Agustus sampai 2 September 2018 di Cemara 6 Galeri-Museum.

Siti Rubaidah

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut