Munich 1972

munich-original.jpg

Olahraga dan politik memang sulit dipisahkan. Sudah sejak lama olahraga sering menjadi ruang untuk penyampaian pesan-pesan berbau politik.

Tahun 1972, sebuah perhelatan olahraga terbesar di dunia digelar di Munich, Jerman. Itulah Olympiade Munich 1972. Perhatian sebagian besar warga dunia tertuju ke sana.

Sekelompok militan Palestina, yang menyebut dirinya “Black September”, tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Mereka kemudian memutuskan untuk menculik atlet-atlet Israel. Target mereka jelas: menarik perhatian dunia atas penderitaan rakyat Palestina dan memaksa Israel membebaskan 200-an orang Palestina dan Lebanon yang ditahan di penjara Israel.

Sayang, rencana mereka tidak berjalan lancar. Pemerintah Israel menolak untuk bernegosiasi. Tak hanya itu, pemerintah dan aparat keamanan Jerman juga tidak mau meloloskan permintaan para penyandera, yakni sebuah pesawat Lufthansa yang akan mengangkut para penyandera dan sandera ke Mesir.

Akhirnya, rencana para militan Palestina itu berakhir di sebuah bandara di Fürstenfeldbruck. Saat para penyandera bernegosiasi meminta diangkut ke Mesir, polisi dan militer Jerman justru menyerang. Kontak senjata tak terhindarkan. Hingga sebuah ledakan dahsyat mengakhiri semuanya. Seluruh atlet Israel yang disandera tewas. Demikian pula para militan Palestina yang menjadi penyandera.

Kejadian itu dikisahkan kembali oleh sutradara Amerika Serikat, Steven Spielberg, melalui film “Munich”. Namun, kendati diilhami oleh kejadian nyata, Spielberg justru mengemas film ini menjadi setengah-fiksi. Ia banyak merujuk pada buku karya George Gonas, Vengeance: The True Story of an Israeli Counter-Terrorist Team. Buku itu mengangkat kisah Juval Aviv, seorang yang mengaku agen Mossad, dan kiprahnya dalam mengejar dan membunuh anggota PLO dan Black September di sejumlah negara di Eropa.

Film ini dibuka dengan aksi militan Black September dalam menyandera para atlet Palestina di hotelnya. Juga pemberitaan media internasional mengenai peristiwa tersebut. Namun, alur utama film ini justru pada reaksi pemerintah Israel dan aksi balas dendamnya terhadap para pejuang Palestina yang teridentifikasi berada di balik aksi penyanderaan dan pembunuhan atlet tersebut.

Yang menarik, seperti ditunjukkan di film ini, bagaimana pemerintah Israel kala itu mencari legitimasi untuk membenarkan tindakan mereka membunuh 11 orang aktor di balik Black September. Golda Meir (Lynn Cohen), Perdana Menteri Israel saat itu, sempat mengutip tokoh NAZI Adolf Eichmaan: “anda tidak mau berbagi dunia dengan kami, kami pun tidak perlu berbagi dunia dengan anda.”

Tapi itu belum cukup. Untuk memberi landasan ideologis pada aksinya, sehingga nampak sebagai misi suci, Golda Meir bilang kepada para pejabat militer dan petinggi Mossad: “lupakan damai sekarang. Kita harus tunjukkan kepada mereka kalau kita kuat. Kita punya hukum, kita mewakili peradaban…setiap peradaban merasa perlu untuk menegosiasikan kompromi dengan nilainya sendiri.”

Operasi pengejaran dan pembunuhan terhadap 11 orang pejuang Palestina pun dimulai. Avner Kauffman (Eric Bana), seorang agen Mossad, ditugasi memimpin operasi ini. Ia dibantu oleh empat orang: seorang yahudi Afrika Selaran, Steve (Daniel Craig); seorang Yahudi Belgia ahli perakit bom, Robert (Mathieu Kassovitz); seorang yahudi Jerman yang jago memalsukan dokumen, Hans (Hanns Zischler); dan seorang bekas tentara Israel, Carl (Ciarán Hinds).

Tim ini dirancang seolah-olah tidak punya hubungan dengan Mossad dan militer Israel. Mereka ditugaskan mengejar 11 orang pejuang Palestina yang tinggal di sejumlah kota di Eropa, seperti Roma, Paris, Siprus, Beirut dan Athena.

Dan pembunuhan pun dimulai. Kita segera disuguhi adegan penembakan dan pengeboman. Di Roma, Avner cs menembak mati seorang penyair Palestina, Abdel Wael Zwaiter. Di Paris, mereka mengebom Mahmoud Hamshari; di Siprus, tim ini membunuh Hussein Al Bashir; kemudian di Beirut, mereka menyerbu markas PLO dan membunuh tiga orang sekaligus: Muhammad Youssef al-Najjar (Abu Youssef); Kamal Adwan; dan Kamal Nasser.

Ada hal menarik yang ditonjolkan oleh Spielberg di film ini, yakni gejolak moral Avner dan kawan-kawannya. Dalam beberapa dialog, Avner selalu meminta bukti yang akurat kepada pimpinannya, bahwa target pembunuhan mereka adalah orang-orang yang memang terkait langsung dalam tragedi Munich. Tak hanya itu, tim ini selalu berupaya untuk menghindari kesalahan target. Dalam kasus pembunuhan Mahmoud Hamshari, misalnya, diperlihatkan Avner Cs berjibaku menunda peledakan bom karena nyaris menyasar orang lain: anak perempuan dari Mahmoud Hamshari.

Tetapi tetap saja terjadi kesalahan. Saat penyerbuan Mossad ke markas PLO di Beirut, Lebanon, seorang perempuan menjadi korban berondongan senapan. Kemudian saat pembunuhan Zaiad Muchasi, pimpinan baru Black September, seorang anggota PLO yang tidak masuk target dan seorang agen Soviet ikut terbunuh.

Ini juga menjadi ironi. Di satu sisi, para agen Mossad ini seolah-olah masih punya pertimbangan kemanusiaan dalam menjalankan aksinya. Sementara di sisi lain, aksi para agen Mossad ini tetap saja menjadi bagian dari mesin kekerasan yang dijalankan Israel untuk menduduki wilayah Palestina dan menyingkirkan rakyatnya. Dan, jangan lupa, bahwa selain aksi pembalasan yang dilakukan oleh agen Mossad ini, segera setelah peristiwa Munich, Israel melancarkan menjatuhkan bom di sejumlah kamp pengungsi Palestina. Sedikitnya 200-an rakyat Palestina, yang tidak tahu-menahu dengan peristiwa Munich,menjadi korban tewas dalam serangan tersebut. Laporan PBB juga menyebutkan, bahwa sepanjang tahun 1968-1974, serangan udara Israel membunuh sedikitnya 3500 orang Palestina di Lebanon, Suriah, dan Yordania.

Kalau kita cermati, ada pesan utama yang hendak disampaikan oleh Spielberg melalui film ini, yakni bahwa kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan. Aksi penyanderaan oleh militan Palestina telah memicu reaksi balik dari Israel dan Mossad. Selanjutnya, aksi pembunuhan oleh Mossad juga dibalas oleh pejuang Palestina. Jadi, bagi Spielberg, di sini terjadi rantai kekerasan yang tak mengenal ujung. Satu pejuang Palestina terbunuh, lahir tujuh pejuang baru. Dan, bagi Spielberg, rantai kekerasan ini hanya bisa berakhir kalau kedua belah pihak, yakni Israel dan Palestina, sama-sama menghentikan jalan kekerasan dan mengutamakan dialog damai.

Inilah dilema besar dari film ini. Spielberg menyamakan aksi para pejuang Palestina dengan tindakan militer Israel. Di sini Spielberg gagal membedakan mana mana penyebab dan mana reaksi; mana penjajah dan mana terjajah; mana penindas dan mana kaum tertindas. Seolah-olah aksi yang dilakukan oleh pejuang Palestina, termasuk peristiwa Black September di Munich, berdiri sendiri. Padahal, aksi para pejuang Palestina itu merupakan reaksi mereka atas agresi Israel terhadap bangsa Palestina.

Spielberg juga gagal menangkap fakta historis yang menjadi motif pejuang Palestina melakukan penyanderaan dan pembunuhan terhadap atlet Israel di Olympiade Munich. Bahwa, sebelum kejadian tersebut, ada rentetan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Israel terhadap bangsa Palestina. Bahwa di tahun 1948, Israel dengan kekuatan militernya mengusir paksa 750.000 rakyat Palestina keluar dari rumah dan kampung halamannya. Sejak itu, bangsa Palestina menjadi ‘bangsa pengungsi’ di berbagai negara. Kemudian, pada tahun 1967, Israel kembali melancarkan agresi dan mengusir 400.000 rakyat Palestina keluar dari tanah-airnya.

Ironisnya, dalam berbagai agresi Israel itu, dunia internasional seolah-olah tutup mata. Negara-negara Eropa yang seringkali mendendangkan humanisme juga bergeming. PBB juga tidak bisa berbuat banyak. Karena itu, sejak akhir 1960-an, para pejuang Palestina mulai menggunakan metode radikal, seperti pembajakan pesawat dan penyanderaan, sebagai jalan untuk meminta perhatian dunia internasional agar memperhatikan nasib bangsa Palestina.

Ada kejadian menarik ketika Avner cs berada serumah selama satu malam dengan sekelompok pejuang PLO. Avner, yang mengaku ‘kaum merah Eropa, terlibat dialog dengan salah seorang dari pejuang PLO tersebut,  Ali (Omar Metwally). Ali menjelaskan betapa pentingnya sebuah tanah air bagi sebuah bangsa, termasuk Palestina. “Kalian tidak tahu rasanya tidak punya rumah (tanah-air). Kamu bilang itu tidak masalah, tapi kalian punya rumah yang bisa didatangi. Rumah (tanah-air) adalah segalanya,” kata Ali.

Di sinilah seruan perdamain dari Spielberg menjadi absurd. Tidak ada perdamaian sejati ketika penghisapan manusia atas manusia dan penindasan bangsa atas bangsa masih terus terjadi.

Film ini cukup menarik. Karena Spielberg membuatnya menjadi setengah fiksi, yang tak terpatok pada uji validitas sejarah, maka ia bisa membuat bumbu-bumbu yang menarik. Ada adegan percintaan dan seks. Ada cerita tentang agen-agen rahasia yang bisa dibayar oleh siapapun dan tidak pernah loyal kepada siapapun. Kelemahannya adalah sebagian besar karakter Palestina di film ini diperankan oleh orang Arab. Banyak dialog berbahasa Arab tidak diterjemahkan.

Mahesa Danu

Munich (2005)
Sutradara: Steven Spielberg
Skenario:  Tony Kushner dan Eric Roth
Durasi: 164 menit
Pemain: Eric Bana, Daniel Craig, Ciarán Hinds, Mathieu Kassovitz, Hanns Zischler, Geoffrey Rush, dan lain-lain.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut