Mudik Dan Rakyat Indonesia

Hampir setiap tahun lebih dari 10 juta rakyat Indonesia melakukan mudik ke kampung halaman masing-masing. Bahkan, pada tahun 2010, pihak Kepolisian memperkirakan jumlah pemudik mencapai 16 juta, atau sekitar 7% dari jumlah penduduk. Meskipun mudik menjadi tradisi “tahunan” bagi rakyat Indonesia, namun sudah menjadi “tradisi” pula bahwa pemerintah selalu gagal mengurus rakyat yang mudik ini.

Mudik selalu menjadi “sorotan” besar di Indonesia dikarenakan berbagai persoalan, yaitu; pertama, jumlah angkutan umum (darat, laut, dan udara) yang tidak sebanding dengan jumlah pemudik. Kedua, kondisi jalur perhubungan, khususnya jalan raya, masih banyak yang rusak dan kurang memadai untuk pemudik angkutan darat. Ketiga, biaya atau ongkos mudik semakin mahal, seiring dengan kenaikan harga bahan bakar dan kebutuhan pokok lainnya. Keempat, persoalan keamanan para pemudik saat melakukan perjalanan, terutama dari ancaman kriminalitas.

Fenomena mudik tidak dapat dipisahkan dengan persoalan umum dalam pembangunan ekonomi. Sebagian besar proyek industrialisasi dimulai dikota, dan menarik tenaga kerja murah dari pedesaan. Ketika Orde Baru berkuasa, ketimpangan ini semakin melebar antara kota dan desa, dan antara jawa dan luar jawa.

Pertanian, yang seharusnya menjadi basis industrialisasi, justru diabaikan perkembangannya dan sengaja dimatikan setelah liberalisasi perdagangan diperkenankan. Akibatnya, sebagian besar orang desa kehilangan pekerjaan pokok mereka dan memilih pindah ke kota-kota atau menjadi tenaga kerja di luar negeri. Jakarta, kota utama yang menjadi tujuan kaum urban di Indonesia, adalah pemegang 80% peredaran uang di negeri ini. Kenyataan ini menarik jutaan orang dari berbagai tempat di Indonesia untuk mengadu nasib.

Dengan penuh antusias rakyat Indonesia, bukan hanya yang beragama islam tetapi juga non-islam, menyambut dan meramaikan tradisi ini. Dan, dengan segala macam usaha, mereka telah menjadikan mudik ini sebagai ajang silaturahmi dan bersosialisasi antara sesama keluarga, sesama warga kampung, sesama rekan kerja, teman sekolah, dan lain sebagainya. Ini sangat menarik, sebab meskipun sistim komunikasi telah menyambungkan setiap orang sehingga seolah-olah sudah dekat, tetapi rakyat Indonesia tetap memilih untuk berjabat-tangan langsung.

Dan, harus pula diingat, bahwa fenomena mudik ini juga telah mendorong redistribusi capital; kalau sebelumnya berputar di kota dan keluar negeri, maka sekarang terdistribusi ke desa dan kampung-kampung. Para pekerja di kota dan luar negeri akan menggunakan kesempatan mudik ini untuk membawa pulang tabungannya selama setahun. Tidak hanya itu, proses arus mudik ini juga menghidupkan ekonomi rakyat di sepanjang jalan yang dipergunakan oleh para pemudik.

Ada yang memperkirakan, bahwa para pemudik membawa serta sekitar Rp80,9 triliun uang ke desa-desa dan kota-kota kecil. Sementara, menurut data Bank Indonesia, Dana yang mengalir ke desa-desa di seluruh Indonesia selama mudik Lebaran sejak 20 Agustus-18 September 2009 mencapai sekitar Rp26,5 triliun. Jumlah tersebut setara dengan 61% dari total uang yang beredar nasional senilai Rp43,4 triliun. Pergeseran capital ini, jika dikelola dengan baik dan diberdayakan pada sektor produktif, maka ini bisa membangkitkan ekonomi desa yang selama ini tertinggal.

Oleh karena itu, pemerintah tidak semestinya berpangku tangan melihat fenomena ini, apalagi membiarkan rakyat kesulitan untuk melakukan mudik. Pemerintah sudah harus menseriusi pembangunan sistim transportasi murah, massal, dan modern, supaya tidak ada lagi rakyat Indonesia yang terlunta-luta, berhimpit-himpitan, atau terinjak-injak saat mencari angkutan mudik.

Selain itu, ini yang sangat penting, bahwa proses pembangunan dan industrialiasi perlu digeser ke daerah luar Jawa dan daerah pedalaman. Pemerintah sudah harus memikirkan untuk menarik industri ke wilayah pedesaan, dengan mengutamakan industri pengolahan hasil bumi dan bahan baku, supaya bisa menggairahkan pula sektor pertaniaan.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut