Monolog Inggit Garnasih Akan Dipentaskan Di UI Depok

Happy Salma (Foto: http://www.djarumfoundation.org/)

Kabar gembira untuk para penikmat seni teater dan sejarah di Indonesia datang dari lingkungan Kampus Universitas Indonesia (UI) Depok. Kelompok teater mahasiswa, Klub Teater Masalalu UI dan Studi Klub Sejarah UI akan mengadakan Pementasan Monolog Inggit Garnasih pada tanggal 13-14 April 2013 di Auditorium Gedung IX FIB UI. Pementasan monolog yang akan berlangsung selama 2 jam ini akan dimainkan oleh Happy Salma, yang berperan sebagai Inggit Garnasih.

Selain pementasan monolog, acara ini juga akan disertai diskusi santai dengan menghadirkan pembicara, yaitu Peter Kasenda (Pengarang buku “Soekarno Muda” ), Rocky Gerung (Ahli filsafat UI), dan Linda Sunarti (Sejarawan). Diskusi ini diadakan sehari sebelum pementasan, yaitu pada tanggal 12 April 2013, bertempat di Auditorium Gedung IX FIB UI.

Menurut Aras Bakasdo, Ketua Panitia Pelaksana dari Monolog Inggit Garnasih, pementasan ini bertujuan untuk mengenalkan sosok Inggit Garnasih, istri kedua Soekarno, ke masyarakat luas. Menurutnya, pementasan monolog ini sesuai dengan visi dan misi dari Klub Teater Masalalu UI yang ingin menjadikan pengemasan sejarah tidak lagi membosankan, namun berbentuk lebih populer.

Pementasan Monolog Inggit Garnasih, yang disutradarai oleh Yayan Sofyan dan ditulis oleh Ahda Imran, sebelumnya pernah dipentaskan di Teater Komunitas Salihara dan Sekolah Tinggi Seni Indonesia di Bandung.

Sebelumnya, pementasan ini berjudul Monolog Inggit, namun untuk pementasan kali ini, panitia memberikan nama pementasan Monolog Inggit Garnasih. Untuk pemesanan tiket, panitia membuat dua jalur, yaitu online (via twitter @teaterMASALALU) atau datang langsung ke kampus FIB UI Depok. Panitia memberikan harga Rp. 50.000,- untuk mahasiswa dengan waktu pementasan pada tanggal 13 April 2013; sedangkan untuk umum, panitia memberikan kesempatan menonton pada hari Minggu 14 April 2013 dengan harga tiket Rp. 100.000,-.

***

Artis kawakan Happy Salma kembali memerankan sosok istri kedua dari Bung Karno, Inggit Garnasih, dalam sebuah pementasan monolog. Kali ini, pementasan yang berlangsung selama 1,5 jam itu di mainkan di Auditorium Gdg IX Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, selama dua hari 13-14 April 2013 pukul 19.00 WIB.

Sosok Inggit Garnasih sebelumnya juga dimainkan oleh Happy Salma di STSI Bandung pada tahun 2011, di teater Salihara pada tahun 2012, dan tahun ini dipentaskan di dua Universitas Negeri di Indonesia, yaitu UI dan UNPAD.

Inggit Garnasih lahir di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada 17 Februari 1888. Ia adalah istri Bung Karno. Sayang, sejarah Indonesia hanya menghadirkan Inggit sebagai pendamping Bung Karno saja, tetapi mengabaikan kiprahnya yang lain.

Inggit menemani Bung Karno dalam pahit-getirnya perjuangan. Ketika Bung Karno ditahan di penjara Banceuy, Bandung, pada tahun 1930, Inggit rajin menyelundupkan buku-buku kiri dan informasi ke Bung Karno. Buku-buku itulah yang menjadi bahan Bung Karno menyusun pidato pembelaannya yang terkenal “Indonesia Menggugat”.

Inggit juga berperan penting saat Bung Karno ditahan di penjara Sukamiskin. Dalam keadaan yang serba sulit, Inggit membanting tulang. Ia membuat rokok lintingan daun kawung. Setiap bungkus berisi sepuluh batang. Rokok itu diberi nama ”Rokok Kawung Ratna Djuami bikinan Ibu Inggit Garnasih”.

Ketika Bung Karno dibuang ke Ende, Nusa Tenggara Timur, Inggit juga turut menyertai. Selama 20 tahun mendampingi Bung Karno, Inggit berperan dalam mematangkan fikiran-fikiran sang pendiri Republik Indonesia tersebut.

Tahun 1943, bahtera rumah tangga Bung Karno-Inggit retak. Mereka kemudian bercerai. Inggit kembali ke Bandung. Di sana ia memulai kembali pekerjaanya: membuat jamu dan bedak. Dalam sejarah kita tahu, Soekarno justru mendahului Inggit menemui tuhan. Tatkala Sukarno wafat tahun 1971, Inggit masih sempat datang melayat.

Ia meninggal Bandung, Jawa Barat, 13 April 1984. Beberapa saat lalu, beberapa kalangan dan sejarawan mengusulkan Inggit Garnasih sebagai Pahlawan Nasional.

Lifany Husnul Kurnia

Editor: Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut