Mewarisi Gagasan Perjuangan Kartini

SERATUS tiga puluh dua tahun yang lalu, tepatnya 21 April 1879, terlahir seorang bayi yang kelak menjadi “pembawa terang” bagi kemajuan bangsa Indonesia. Gagasan-gagasan Kartini sangat berpengaruh pada kebangkitan gerakan pembebasan nasional, dan juga mempengaruhi tokoh-tokoh terkemuka gerakan pembebasan itu. Soekarno adalah salah satunya.

Sayang sekali, gagasan Kartini yang sangat luas, yang mengcakup begitu banyak bidang pengetahuan, justru disempitkan dan diminimalkan oleh rejim Soeharto. Akibatnya, ada banyak generasi baru yang hanya mengenal Kartini sebagai tokoh emansipasi, bahkan lebih konyol lagi, hanya mengenal Kartini dengan potret mengenakan kebaya.

Perayaan Hari Kartini memang masih berlangsung setiap tahun, tetapi semangat dan gagasan Kartini semakin layu di kalangan generasi baru dan di kalangan rakyat banyak. Untuk merayakan Hari Kartini, instansi pemerintah maupun masyarakat umum suka menggelar berbagai lomba dan kegiatan-kegiatan. Ya, itu memang tidak terlalu buruk, karena setidaknya masih ada perayaan.

Akan tetapi, apa yang lebih penting di sini, adalah memperkenalkan kembali dan meluaskan gagasan-gagasan Kartini kepada generasi baru dan masyarakat luas. Jika kita sekarang ini berhadapan dengan sebuah bentuk baru dari kolonialisme, bukankah Kartini juga punya ulasan yang sangat panjang dan mendalam soal kolonialisme.

Orang jaman sekarang boleh berkata sinis, “Duh, Kartini itu cuma anak priayi yang kesepian, yang kerjanya hanya menulis surat dan curhat pada teman-temannya.” Akan tetapi, kalau kembali ke jaman Kartini, apa yang dilakukannya adalah yang paling maju dan paling progressif di jaman itu. Tidak ada perempuan seberani Kartini, yang pada jamannya feodalisme masih kuat mencengkeram, tetapi dia sudah berani berkata: “bukan terhadap pria kami melancarkan peperangan, tetapi terhadap anggapan kuno, adat, yang tidak lagi mendatangkan kebajikan bagi Jawa kami di kemudian hari..”

Terhadap kolonialisme yang mengurasi habis kekayaan pribumi dan nusantara, Kartini tidak tanggung-tanggung untuk berkata: “Aku naik pitam jika mendengar orang mengatakan Hindia yang miskin. Orang mudah sekali lupa kalau negeri kera yang miskin ini telah mengisi penuh kantong kosong mereka dengan emas saat mereka pulang ke Patria setelah beberapa lama saja tinggal di sini.”

Sekarang ini, sebagaimana banyak diakui, kekayaan alam bangsa kita pun habis diangkut oleh perusahaan-perusahaan besar dari negeri-negeri imperialis, tanpa menyisakan sedkit pun untuk mengangkat derajat penghidupan rakyat kita.

Karena itu, kami tidak tanggung-tanggung untuk mengatakan bahwa gagasan-gagasan anti-kolonial Kartini masih sangat relevan. Dan, untuk itu, jauh lebih berharga dari seremonial belaka, adalah mendorong pengajaran fikiran-fikiran Kartini di sekolah-sekolah Indonesia (dasar, menengah, atas, dan perguruan tinggi). Fikiran-fikiran founding father yang lain pun, seperti Bung Karno, Amir Sjarifuddin, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, dan lain-lain, perlu untuk diajarkan di sekolah-sekolah tersebut.

Pegawai di instansi pemerintah pun, ketimbang merayakan Kartini hanya dengan batik, kebaya, atau perlombaan, lebih baik menyerap gagasan-gagasan progressif Kartini dan mengamalkannya dalam tindakan konkret berupa etos kerja, patriotisme, kecintaan kepada rakyat, dan pengabdian tanpa kenal menyerah terhadap bangsa dan negara.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut