Metode Kampanye Ala Caleg Aktivis

Kampanye terbuka untuk Pemilu 2014 baru saja berlalu. Kalau kita lihat, metode kampanye yang dilakukan sebagian besar partai dan caleg belum banyak berubah: massa rakyat dikumpulkan di sebuah lapangan, lalu disuguhi pidato dan musik dangdut.

Namun, ada cara berbeda yang diterapkan oleh para calon legislatif (Caleg) yang berasal dari latar-belakang aktivis pergerakan. Di sejumlah Daerah Pemilihan (Dapil), yang didalamnya para caleg aktivis ini turut bertarung, metode kampanye berbeda pun dilakukan.

Seperti di Dapil Makassar III, yang meliputi Kecamatan Tamalanrea dan Biringkanaya, Sulawesi Selatan, caleg aktivis di sana justru mengandalkan metode ‘turun ke rakyat’ alias Turba sebagai jalan untuk mengenalkan diri dan program perjuangannya kepada rakyat.

Metode itu digunakan oleh Anshar Manrulu, aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD), yang maju dari partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) untuk kursi DPRD Kota Makassar.

Sejak kampanye terbuka dimulai sejak tanggal 16 Maret lalu, Anshar justru lebih banyak menyusuri kampung-kampung di makassar, masuk ke gang-gang sempit, berjalan dari rumah ke rumah, dan berdiskusi dengan setiap warga yang ditemuinya.

Di hadapan warga itu, Anshar tidak hanya mengenal diri dan program perjuangannya, tetapi juga mendiskusikan berbagai persoalan sosial dan keluhan warga, seperti soal pendidikan, kesehatan, administrasi kependudukan, dan lain-lain.

“Dengan cara ini, saya kira, rakyat akan lebih mengenal sosok calon legistilatif dan programnya. Jadi, ketika rakyat memilih caleg, mereka mengenal caleg tersebut dan program politiknya,” ujarnya.

Bagi Anshar, caranya ini juga bagian dari upaya mengenalkan politik kepada rakyat. Dengan mengajak rakyat berdiskusi banyak hal tentang persoalan dan kehidupan keseharian mereka, yang sedikit-banyaknya ada kaitanya dengan kebijakan pemerintah, dengan sendirinya rakyat mulai membicarakan politik.

Selama kampanye terbuka ini, Anshar dan timnya–disebut gerakan ‘Se’remo–sudah keluar-masuk di banyak kampung. Ia juga sudah bertatap muka dan berdiskusi langsung dengan ribuan warga.

Di Dapil Muara Enim, Sumatera Selatan, caleg aktivis juga melakukan hal serupa. Eka Subakti, caleg aktivis yang maju melalui Partai Amanat Nasional (PAN), juga hampir setiap hari keluar-masuk kampung dan mendatangi rumah-rumah rakyat.

Yang menarik, setiap memasuki kampung, Eka dan teman-teman seperjuangannya melakukan orasi. Tak hanya itu, ia juga membagi-bagikan selebaran berisi profil dan program perjuangan kepada warga yang ditemuinya.

“Ya, inilah yang namanya orasi keliling kampung. Jadi, kami bukan hanya mengenalkan diri dan program kepada rakyat, tetapi juga mengenalkan politik yang lebih luas kepada rakyat,” kata Eka.

Tak jarang, ketika sedang berkeliling dari desa ke desa, Eka juga singgah ke rumah-rumah warga dan berdiskusi dengan mereka. Dari situ ia mendapat berbagai keluhan dan masukan mengenai persoalan konkret yang dihadapi oleh warga setempat.

“Di sejumlah desa yang saya datangi, umumnya mereka mengalami persoalan konflik agraria, mahalnya harga pupuk, dan soal harga karet,” ungkapnya.

Setiap keluhan dan masukan masyarakat itu kemudian dicatat oleh Eka. Kelak, kata dia, kalau dirinya mendapat mandat sebagai anggota DPRD Muara Enim, maka keluhan dan masukan warga itulah yang akan menjadi prioritas untuk diperjuangkannya.

Respon Masyarakat

Respon masyarakat terhadap metode yang ditempuh para caleg aktivis ini sangat beragam. Tetapi sebagian besar warga tersebut menyambut positif metode yang dipergunakan caleg aktivis itu.

“Sejauh ini, saya sudah masuk ke banyak kampung dan bertemu ribuan warga, sebagian besar merespon sangat positif. Mereka mengaku tidak pernah melihat ada caleg yang melakukan metode ini,” kata Anshar.

Malahan, menurut pengakuan Anshar, banyak warga di daerah yang belum sempat didatanginya meminta agar dirinya bisa menyempatkan diri untuk datang. “Relawan saya didatangi oleh warga dari kampung itu dan meminta saya untuk datang ke kampungnya,” kata Anshar.

Ditanya soal seberapa efektif metode yang ditempuhnya itu untuk meraih dukungan suara di pemilu, Anshar mengatakan, “saya kira target kita bukan hanya soal meraih kursi atau tidak, tetapi juga soal pengenalan metode politik baru dan penyadaran politik kepada rakyat.”

Ia yakin, metodenya itu hanya merupakan pijakan awal untuk bersentuhan lebih luas dengan massa rakyat. Sehabis pemilu, ia berharap komunikasi dan interaksi dengan massa rakyat luas itu tetap terjalin.

Anshar menceritakan, dari pengalamannya keluar-masuk kampung dan berdiskusi dengan rakyat itu, banyak warga yang awalnya hanya relawan kemudian menyatakan keinginan untuk bergabung dengan organisasi-organisasi rakyat.

Dalam pemilu ini, Anshar memang lebih banyak menonjolkan pendekatan mendatangi rakyat ketimbang pencitraan. Jumlah spanduk dan poster bergambar dirinya sangat terbatas. Itupun, kepada tim kampanyenya, ia menekankan agar spanduk dan posternya jangan ditempel di pohon dan mengganggu fasilitas umum.

Namun demikian, dari sejumlah survei mengenai keterpilihan caleg di Dapilnya, namanya selalu masuk. Ia yakin, dengan metode kampanye yang lebih mendidik dan merakyat, rakyat lebih percaya kepada caleg tersebut.

Mahesa Danu/Ulfa Ilyas

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut