Mereka Yang Berharap “Jokowi Effect”

Semula Jokowi-Basuki tidak diunggulkan sebagai pemenang. Pada putaran kedua Pilkada DKI Jakarta, Jokowi menggambarkan dirinya sebagai “semut melawan gajah”. Mayoritas lembaga survei dan analis politik  pun lebih mengunggulkan Foke-Nara.

Tetapi semua prediksi itu berbalik 180 derajat. Pada kenyataannya, semut berhasil menjungkalkan gajah. Petahana yang telanjur percaya diri bisa menang, harus gigit jari. Rupanya, dalam pilkada DKI Jakarta, kekuatan modal besar—juga didukung oleh mayoritas partai besar, mesin birokrasi hingga RT/RW, propaganda SARA—berhasil ditaklukkan oleh kekuatan massa rakyat.

Banyak yang terpukau dengan kemenangan Jokowi-Basuki itu. Efek kemenangan Jokowi-Basuki merembes ke pilkada berbagai daerah. Sejak itu, banyak kandidat dalam berbagai Pilkada di berbagai daerah berusaha meniru Jokowi: pakaian kotak-kotak, kartu sakti (kartu Jakarta Pintar dan kartu Jakarta sehat), jargon perubahan, dan lain-lain.

Di Pilgub Sulawesi Selatan, kandidat yang diusung partai Gerindra, Andi Rudiyanto Asapa dan Andi Nawir Pasinringi (Garuda-Na), juga mengenakan kotak-kotak. Di Pilkada Bau-Bau, Sulawesi Tenggara, pasangan yang diusung oleh koalisi PDIP-Golkar-PKS, yakni Ibrahim Marsela/H Muirun Awi, juga percaya diri dengan kotak-kotak.

Di pilkada Minahasa, Sulawesi Utara, pasangan yang diusung oleh PDI Perjuangan, Jantje Sayouw dan Ivan Sarundajang, juga mengenakan seragam kotak-kotak khas Jokowi. Seragam kotak-kotak juga dikenakan oleh kandidat yang diusung oleh PDIP-PAN di Pilkada Tangerang,  Ahmad Suwandi – Muhlis.

Yang terakhir, di Pilgub Jawa Barat, pasangan Rieke-Teten (Paten) juga mengenakan seragam kotak-kotak. Bahkan, berharap Jokowi effect bisa merembes ke Pilgub Jabar, PDIP memasang Jokowi sebagai salah satu juru kampanye Rieke-Teten. Di Pilgub Sumatera Utara, meski Effendi Simbolon enggan disebut-sebut meniru Jokowi, tetapi mereka jelas berharap ada “Jokowi effect” dengan menghadirkan Jokowi sebagai juru kampanyenya.

Apa hasilnya? Satu per satu para peniru itu bertumbangan. Hanya kandidat kotak-kotak di Pilkada Minahasa, Jantje Sayouw dan Ivan Sarundajang, yang menang. Itupun karena dukungan mesin politik, klientalisme dan logistik yang besar. Ivan Sarundajang sendiri adalah anak Gubernur Sulut saat ini, SH Sarundajang.

Ada beberapa pelajaran yang bisa dicatat di sini. Pertama, perubahan tidak bisa diimpor dari luar. Banyak yang bermimpi bisa memindahkan semangat perubahan di Jakarta ke daerah. Namun, mereka lupa, bahwa faktor geopolitik dan dinamika perjuangan sosial masing-masing daerah lebih menentukan.

Kedua, di tengah meluasnya apatisme rakyat terhadap politik, faktor integritas (kejujuran, bersih, kesederhanaan) dan rekam jejak dari si figur kandidat lebih menentukan. Saya kira, dalam Pilgub DKI Jakarta, dua faktor itu dimiliki oleh Jokowi dan bertemu dengan kehendak rakyat yang menghendaki perubahan. Masalahnya, para peniru Jokowi ini belum tentu punya integritas dan rekam jejak seperti Jokowi.

Ketiga, Di Pilgub DKI Jakarta, Jokowi mengusung proposal perubahan yang sangat jelas, yang dikemas dalam “Jakarta Baru”, yang dikampanyekan langsung oleh Jokowi dan sukarelawannya hingga ke pelosok-pelosok kampung, gang-gang sempit, dari pertemuan ke pertemuan, dan dari rumah ke rumah. Sudah begitu, beberapa proposal itu sudah pernah dipraktekkan oleh Jokowi ketika memerintah di Solo, Jawa Tengah.

Keempat, model kampanye Jokowi yang mengandalkan Turba (Turun Ke Bawah) sangat efektif. Di situ terjadi proses mendengar, menyerap, dan diskusi mengenai berbagai persoalan yang dihadapi rakyat. Selain itu, militansi Jokowi menembus gang-gang sempit dan becek menjadi faktor penting mengapa rakyat menaruh kepercayaan padanya. Para peniru Jokowi belum tentu sanggup melakukan taktik ini.

Kelima, Jakarta adalah kota besar yang penduduknya terkonsentrasi, yang terbelah antara pemukiman kaum elit dan perkampungan klas menengah dan kaum miskin. Hal ini memudahkan Jokowi-Basuki bergerak dari kampung ke kampung. Ini berbeda, misalnya dengan Jabar dan Sulsel, yang geografinya sangat luas dan penduduknya juga tersebar.

Keenam, Jokowi-Basuki dan timnya berhasil menciptakan gaya dan identitas politik yang kreatif dan orisinil. Ini yang membuat banyak kaum muda dan klas menengah berbaris mendukungnya. Sebaliknya, para peniru Jokowi di berbagai Pilkada di daerah terkesan asal jiplak dan tidak punya kreasi sendiri.

Saya tidak menyangkal bahwa kemenangan Jokowi punya dampak terhadap bangkitnya harapan perubahan. Namun, siap dan tidaknya rakyat berpartisipasi dalam gerakan perubahan, saya kira itu akan bergantung pada kesiapan kekuatan politik dan proposal alternatif yang sanggup mengartikulasikan kehendak mereka.

Aditya Thamrinpenggiat kelompok diskusi “Mardika”. Email: [email protected]

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut