Merdeka Itu Memanusiakan Manusia!

Soegija (2012)
Sutradara: Garin Nugroho
Penulis: Armantono, Garin Nugroho
Durasi: 115 menit
Produksi: 2012
Pemain : Nirwan Dewanto, Annisa Hertami, Wouter Zweers, Wouter Braaf, Nobuyuki Suzuki, Olga Lydia, Butet Kartaredjasa, dan Andrea Reva.

Ada kebanggaan tersendiri ketika—pada jaman kolonialisme masih berjaya—seorang pribumi diangkat menjadi seorang uskup. Bayangkan, orang-orang dari bangsa penjajah harus menaruh hormat kepada sang uskup.

Itulah pembuka film “Soegija”. Hendrik (Wouter Braaf), seorang wartawan Belanda, ditugaskan meliput upacara pengangkatan seorang pribumi menjadi Uskup Danaba. Hendrik harus rela dicemooh oleh temannya yang serdadu, Robert (Wouter Zweers), yang terbiasa menganggap pribumi itu tak ubahnya seekor “kerbau”.

Mariyem (diperankan oleh Annisa Hertami), seorang perempuan pribumi yang bercita-cita menjadi perawat, juga menunjukkan hal itu ketika berkata berulang-kali: “Saya Mariyem, bukan Maria.” Mariyem juga tersinggung tatkala Hendrik, wartawan Belanda yang menyukainya, membacakan sebuah puisi yang memandang rendah perempuan pribumi.

Romo Soegijo (diperankan Nirwan Dewanto) dilantik menjadi uskup tahun 1940. Begitu dilantik, Romo Soegijo—sering disapa Romo Kanjeng—langsung menggunakan posisinya untuk melayani rakyat dan sekaligus mengabdi kepada republik. Ia dengan tegas mengatakan, “Jika kita benar-benar Katolik sejati sekaligus kita juga patriot sejati. Karenanya kita adalah 100% patriot, karena kita adalah 100% katolik.”

Tahun 1942, Jepang menduduki Indonesia. Penangkapan terhadap orang-orang Belanda terjadi di mana-mana, termasuk mereka para imam gereja. Bahkan, Jepang ingin menjadikan gereja sebagai markasnya. Romo Soegija berkata dengan lantang: “Ini adalah tempat yang disucikan. Penggal dulu kepala saya, baru tuan boleh memakainya.”

Jepang pun mundur. Di sini muncul cerita kesedihan. Banyak keluarga yang kehilangan anggota keluarga mereka. Mariyem harus kehilangan kakaknya tercinta, Maryono, yang anggota gerakan perlawanan. Sedangkan Lingling, anak keturunan Tionghoa, kehilangan ibunya yang tercinta (diperankan oleh Olga Lydia).

Penderitaan rakyat di bawah Jepang sangat parah: kelaparan melanda rakyat di mana-mana. Romo Soegija memerintahkan umat Katolik untuk melayani rakyat. Ia dengan tegas mengatakan, “kalau rakyat kenyang, biarlah para imam kenyang belakangan. Kalau rakyat lapar, maka biarkanlah para imam lapar duluan.”

Soegijo juga mendukung ide Bung Karno membentuk barisan pemuda. Kelak, barisan pemuda ini sangat berguna: sebagai kekuatan bersenjata melawan Belanda, sebagai tenaga bantuan rakyat, dan lain-lain.

17 Agustus 1945: Indonesia merdeka. Harapan besar muncul di tengah rakyat: kita akan bebas dan merdeka. Akan tetapi, kemerdekaan tak semudah yang dibayangkan. Di Semarang, tentara Jepang tidak mau menyerahkan senjata. Perang pun berkobar selama berhari-hari. Bersamaan dengan itu, kekacauan terjadi di mana-mana: penjarahan, kelaparan, dan lain-lain. Lagi-lagi, Romo Soegija punya andil besar: ia berusaha bernegosiasi agar terjadi gencatan senjata.

Romo Soegija juga aktif berhubungan dengan pemimpin Republik: Bung Karno, Sjahrir, dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Romo Kanjeng sering memberikan usulan-usulan kepada pemimpin Republik itu. Dan, sebagai bentuk dukungan kepada Republik, Romo Soegija memindahkan keuskupan dari Semarang ke Jogjakarta.

Gaya diplomasi Romo Soegija juga cukup mumpuni. Ia berhasil menyeret Vatikan sebagai negara Eropa pertama yang mengakui kemerdekaan RI. Kedatangan perwakilan Vatikan ke Jogjakarta, Ibukota Republik, ditemani langsung oleh Romo Soegija ketika bertemu Bung Karno.

Meski mengambil setting tahun 1940-an dan perjuangan kemerdekaan, tetapi film “Soegija” seakan lebih banyak membawa pesan untuk pemimpin dan bangsa Indonesia sekarang.

Paska kemerdekaan, misalnya, film ini mengangkat berbagai pergulatan paska Indonesia merdeka: tentang bagaimana mengisi kemerdekaan ini agar bisa memajukan harkat dan martabat rakyat.

Diceritakan seorang pemuda, yang juga anggota laskar, masih buta-huruf. Menariknya, di tengah-tengah berkecamuknya perang, upaya pemberantasan buta-huruf masih juga dilakukan. Di saat itu, terutama sejak 1946 hingga 1948, pemerintah aktif menggalakkan gerakan memberantas buta-huruf.

Di Film ini ditekankan “membaca sebagai sesuatu yang penting”. Lihat saja, ketika seorang komandan laskar pejuang menganjurkan agar si pemuda tidak hanya tahu membaca “M-e-r-d-e-k-a”, tetapi juga harus membaca karya-karya Tan Malaka dan Vladimir Ilich Ulyanov alias Lenin.

Ini sesuai dengan pesan Romo Soegija sendiri: “Apa artinya menjadi bangsa merdeka jika kita gagal mendidik diri sendiri.”

Kemudian, soal lain yang disorot adalah kebhinekaan. Ada adegan menarik di sini: saat Lingling bertanya ke Romo Soegija, “Romo, apa memang sudah kodrat kami (keturunan Tionghoa) ya untuk selalu dijarah?”

Romo Soegija menjawab dengan bijak, “Ling, kalau nanti kamu masuk sekolah hukum, kamu harus mengusahakan agar negara menjamin hak warganya tanpa memandang suku dan agama apa mereka.”

Juga adegan ketika pejuang kemerdekaan bertempur dengan pasukan belanda. Banyak pejuang yang gugur bersimbah darah. Tiba-tiba seorang pejuang, dengan gaya bermain kuda lumping, mengatakan: “Hai kalau kamu jadi pemimpin, jangan lupa bahwa darah para pejuanglah yang menjadi pupuk bagi tanah negeri ini.”—pesan ini sangat kuat ditujukan untuk pemimpin dan elit sekarang.

Film ini juga berbicara tentang kemanusiaan. “Kemanusiaan itu satu,” demikian kata Romo Soegija. Dan, di film itu kita lihat, Robert, serdadu Belanda yang mengaku sebagai mesin perang itu, harus takluk ketika menyaksikan bayi mungil menangis. Ia rindu dengan ibunya di Belanda sana (yang ternyata anti-perang).

Dan, pesan paling penting film ini disisipkan di penghujung film berdurasi 115 menit ini. Saat itu, Soegija memberi pesan kepada seorang bekas pejuang kemerdekaan, “Kalau jadi politikus, jangan haus kekuasaan. Kalau tidak, nanti jadi benalunya negara.”

Bagi Romo Soegija, politik adalah soal melayani rakyat. Karenanya, seorang pemimpin harus punya mental politik, yakni melayani rakyat. Tanpa itu, pemimpin hanya akan menjadi benalu bagi negaranya.

Terakhir, sekalipun film ini berbicara tentang kisah perjuangan seorang tokoh, tetapi cara Garin Nugroho mengangkatnya ke layar-lebar sangat populer: mengalir, penuh dengan humor, sindiran-satire, dan lain-lain.

Akhirnya, kami merekomendasikan agar anda menyisipkan sedikit waktu untuk menonton film “Soegija”. Film ini sangat penting sebagai sumber inspirasi bangsa kita dan sebagai pijakan persatuan dalam kerangka mengusir imperialisme yang sedang menjajah bangsa kita saat ini.

Andi Nursal

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut