Merdeka Di Mata Rakyat

Merdeka memang bukan perkara gampang. Tidak ada kemerdekaan yang tidak dibayar dengan darah dan pengorbanan. Kemerdekaan diperjuangkan oleh semua anggota bangsa, khususnya golongan yang paling ditindas, tetapi kemerdekaan hanya dinikmati segelintir orang.

66 tahun Indonesia Merdeka menunjukkan itu. Segelintir orang bisa bolak-balik berlibur ke luar negeri, sedangkan mayoritas rakyat mencari makan pun sangat susah. Tidak ada pembagian sembako yang sepi dari rakyat kebanyakan. Nasib sebagian besar rakyat Indonesia belum beranjak dari jaman kolonial.

Tohirin, 20 tahun, misalnya, mengaku kemerdekaan itu masih setengah-setengah. Alasannya, kata Tohirin, kemerdekaan itu hanya bisa dinikmati segelintir orang. Sementara orang seperti Tohirin harus rela mengerjakan apapun demi menyambung hidup di esok hari.

Tohirin adalah penjaga warung ayam goreng di perempatan lampu merah Jalan Tebet Raya, Jakarta. Cita-citanya adalah menuntut ilmu setinggi-tingginya, lalu dipergunakan untuk kepentingan bangsa dan keluarganya. Entah mengapa, negara Indonesia Merdeka ini sangat ‘pelit’ untuk mewujudkan mimpi orang-orang seperti Tohirin.

Nasib serupa dialami oleh Rehan (25 tahun). Pemuda yang mencoba mencari peruntungan nasib dengan menjual martabak ini mengaku kemerdekaan baru sebatas formalitas. “Yang merdeka baru negara, tetapi rakyat banyak belum merdeka,” katanya.

Dalam benak Rehan, kemerdekaan itu sangat sederhana: rakyat gampang dapat pekerjaan, petani bisa bertani dengan tenang, buruh mendapatkan upah yang sesuai, tidak ada penggusuran, dan tidak ada penindasan antar sesama warga negara.

Tetapi orang seperti Rehan tetap optimis. Katanya, kalau pemerintahan bisa diperbaiki, maka jalan memenuhi tujuan kemerdekaan pun bisa dicapai. Dia pun berharap agar kedepannya pemerintahan bisa menjadi lebih baik. “Tidak seperti sekarang. Rakyat susah cari pekerjaan. Dimana-mana kita digusur,” katanya.

Lain lagi dengan nasib Ari, 50 tahun, pemulung asal Jember, Jawa Timur. Ari mengaku Indonesia masih terjajah. Buktinya, bangsa asing masih enak-enakan mengambil keuntungan di negara kita. Sementara rakyat Indonesia sendiri hidup sangat susah.

Ari adalah korban konkret neoliberalisme. Awalnya dia adalah seorang petani di Jember. Lalu, melalui bantuan kredit dari Bank, Ari pun memulai bisnis jual sayur-mayur hasil pertanian. Nyatanya, ia gagal menjalani bisnis itu dan terlilit utang. Ia pun harus menjual tanahnya untuk membayar utang di Bank.

Tetapi, sekalipun berhadapan dengan kesulitan, Ari tetap optimis. Ia dan istrinya rela menjadi pemulung di Jakarta, asalkan dua orang anaknya di Jember tetap bisa bersekolah dengan baik.

Katanya, kemerdekaan hanya dirasakan pejabat dan orang kaya. Tetapi orang miskin tetap terjajah. “Orang miskin itu seperti baju basah yang terus-menerus diperas hingga kering,” katanya.

Di jaman dulu, seingat Ari, pemerintah itu benar-benar menyenangkan rakyat. Tetapi sekarang, pemerintahan benar-benar mengabaikan rakyat. “Rakyat sendiri diperlakukan seperti anjing. Tetapi orang asing begitu dihormati,” katanya.

Di hari kemerdekaan yang ke-66, Ari berharap bahwa pemerintah kedepan bisa menjadi pemerintahan rakyat. “Saya sangat bermimpi bahwa ada pemerintahan yang bisa menghapuskan pengangguran.”

Tetapi Ari tidak seperti kebanyakan klas menengah dan kaum elit di Indonesia, yang mudah pudar kecintaan kepada negerinya dan tergiur dengan segala hal yang berlabel asing. Meskipun ia ditumpuki dengan kesengsaraan di negeri sendiri, Ari tetap cinta mati kepada bangsa dan negaranya. Ia pun tetap optimis bahwa suatu saat keadaan pasti berubah.

Orang-orang seperti Tohirin, Rehan dan Pak Ari hanyalah contoh. Orang-orang seperti dia cukup banyak, bahkan mayoritas besar, di negara ini. Tetangga, kerabat, atau keluarga kita sendiri mungkin merasakan nasib yang sama.

Selamat merayakan HUT Kemerdekaan RI ke 66. Merdeka! (Ulfa Ilyas )

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut