Merawat dan Memajukan Karinding

Dewasa ini, Karinding dikenal sebagai sebuah alat musik tradisional dari tanah sunda. Alat musik ini terbuat dari bambu ataupun pelepah aren. Sekitar abad ke-500, Karinding digunakan sebagai alat pengusir “hama weureung” oleh petani, bukan sebagai alat musik. Dalam kajian mitologinya, dikatakan bahwa frekuensi nada yang dihasilkan mampu mendatangkan Dewi Sri sebagai dewi padi. Berbentuk kecil tetapi bisa menghasilkan frekuensi nada yang terbilang cukup unik. Alat musik tersebut mampu menghasilkan nada dari “Do” rendah hingga bertemu “Do” rendah lagi, contohnya “Do-Re-Mi-Do”. Filosofinya yakni ilmu padi.

“Nada yang dihasilkan memang ‘Do’ rendah dengan bertemu ‘Do’ rendah lagi. Ini sebagai simbol ilmu padi. Jika kita sudah punya ilmu tinggi, kita wajib untuk merendah. Makanya Karinding mengajarkan kita untuk tidak arogan dengan apa yang kita miliki,” Ahmad Lamhatunnazdori, penggiat Komunitas Karinding di Balaraja, Banten.

Ncek, sapaan akrab Ahmad, adalah pembina salah satu komunitas penggiat Karinding di Banten, yaitu Barak Karinding atau disingkat “Bakkar”. Mereka juga melestarikan kebudayaan sunda lainnya yang nyaris hilang. Komunitas Bakkar sendiri berlokasi di Kampung Pasir Jaha, Kecamatan Balaraja, Kabupaten Tangerang. Kelompok ini mengorganisir massa rakyat melalui ranah seni dan budaya. Ncek dan kawan-kawannya di Bakkar lainnya berkeyakinan bahwa mengorganisir warga desa harus melalui pendekatan seni dan budaya.

“Pendekatan seni dan budaya, bisa dikatakan salah satu metode pengorganisiran. Dan aku yakin, ini akan terbilang masif. Kurang efektif jika kita mengorganisir massa di desa atau kampung dengan cara–cara yang terbilang modern. Karena dengan pengorganisiran melalui sebuah wadah kebudayaan dan kesenian lokal, nantinya kita lebih mudah untuk berbaur,” ujar pemuda berusia 26 tahun ini.

Tidak hanya Karinding, Komunitas Bakkar juga piawai memainkan Celempung, Bambu Air, Gleger, Songsoe dan Goong Tiup. Akan tetapi, Gitar dan Jimbe juga digunakan agar musik yang dihasilkan tidak terdengar membosankan. Terkadang Bakkar juga memusikalisasikan puisi dan menggunakan teater sebagai ilustrasi dari musik, sehingga tercipta gaya musik yang dinamakan Teater Musik Kontemporer.

Mulanya, komunitas ini didirikan untuk para pemuda yang masing menganggur.  Motifnya adalah memberikan sebuah ruang kegiatan yang memang diperuntukan untuk pemuda dan pengangguran, agar mereka dapat terjun ke ranah seni dan kebudayaan daerah mereka sendiri. Akan tetapi, lambat laun ada banyak orang yang mayoritasnya berprofesi sebagai buruh pabrik ataupun penjaga swalayan ikut berkontribusi dalam pergerakan seni dan budaya asli tanah sunda ini.

Untuk menggali sejarah Karinding lebih mendalam, Komunitas Bakkar melakukan ‘safari’ ke setiap ke berbagai daerah di pelosok Banten, termasuk wilayah Baduy. Oleh masyarakat Badudy, Karinding dipakai untuk mengusir hama.

Komunitas Bakkar sendiri sangat kritis dengan industrialisasi. Menurut mereka, keberadaan industri pabrik dan perumahan elit merupakan salah satu pemicu kerusakan alam yang terjadi di Balaraja dan sekitarnya. Maka dari itu, Komunitas Bakkar menciptakan sebuah karya Teater Musik Kontemporer yang berjudul “Walungan Cisadane” dengan pesan kelestarian sungai agar dapat dijadikan lumbung perekonomian kembali.

Tak jarang Komunitas Bakkar mengenalkan Karinding terhadap setiap petani yang berada di Balaraja dan sekitarnya. Mengenalkan Karinding sebagai alat pengusir hama, guna mengurangi pemakaian pestisida dan herbisida untuk lahan sawah maupun perkebunan.

“Dahulu, saat perang Vietnam berlangsung, Agen Oranye pun menggunakan herbisida untuk menghabisi hutan agar gerilyawan Viet-cong mengidap penyakit. Sekarang, secara terpaksa petani Indonesia menggunakan cairan tersebut untuk bertani ataupun berkebun,” kata Ncek.

Padahal, kata dia, Karinding bisa dikembangkan untuk mengusir hama, sehingga tidak tergantung pada bahan-bahan kimia.

Disamping itu, agresi kapitalisme lewat kebudayaan turut menjadi pelatuk bagi Komunitas Bakkar melestarikan Karinding sebagai bagian kebudayaan Indonesia. Kemudian neoliberalisme berkedok integrasi ekonomi macam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) juga berpotensi membawa masuk kebudayan luar dan meminggirkan pelan-pelan budaya lokal.

“Bagaimana caranya kita bisa bertarung dengan musik dari luar, ya gimana caranya kita bisa menyelinap ditengah kebudayaan yang berkembang. Kita merubah secara lunak. MEA masuk dan mereka membawa kultur baru. Sejauh ini apa yang kita perjuangkan adalah kebudayaan kontemporer,” tegas Neck.

Dia yakin, dengan melestarikan kebudayaan lokal semacam karinding, dipadukan dengan unsur-unsur kontemporer, akan memperkuat daya tahan kebudayaan Nasional kita.

Gilang Andaruseto Prabowo, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten; Kontributor berdikarionline.com Wilayah Banten

Keterangan foto: terlihat anak–anak sedang berlatih Karinding di Sanggar Komunitas Barak Karinding/Dokumen Ncek

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut