Menyambut Rencana “Musyawarah Pemuda Pergerakan”

Musyawarah Pemuda Pergerakan (sebelumnya disebut Kongres Pemuda Pergerakan) akan diselenggarakan di Jakarta, pada hari Senin, 30 Mei 2011 nanti. Musyawarah ini, antara lain, akan menghadirkan utusan dari berbagai daerah, yang masing-masing akan memaparkan pengalaman perjuangan kolektifnya menghadapi neoliberalisme. Selain itu, akan didiskusikan pula situasi nasional dan internasional sebagai landasan untuk menentukan platform politik bersama.

Liputan khusus Berdikari Online melaporkan, bahwa gagasan “Musyawarah Pemuda Pergerakan” ini bermula dari rangkaian diskusi dan kegiatan bersama kalangan pemuda pergerakan di Jakarta, dalam merespon perkembangan situasi sosial politik.

Dari berbagai pertemuan tersebut, ditarik suatu kesimpulan umum, bahwa rezim neoliberal di bawah SBY-Boediono telah gagal menghantar kesejahteraan bagi rakyat, atau juga sebaliknya, gagal menghantar rakyat menghampiri pintu kedaulatan dan kesejahteraan.

Kondisi ini melahirkan banyak protes maupun kritik, baik dalam aspek ekonomi, politik, maupun sosial budaya. Secara khusus kecaman juga banyak dialamatkan kepada pemerintahan SBY-Boediono sebagai pihak yang paling bertanggungjawab dalam memimpin arah perjalanan bangsa selama hampir satu dekade terakhir.

Tentunya, kegagalan ini bukanlah semata kegagalan individu pejabat negara, melainkan kegagalan sistemik. Tapi kegagalan sistemik ini mempunyai hubungan timbal-balik dengan aparatus yang menciptakan dan menjalankannya. Pemerintahan SBY-Boediono, pengusaha multinasional, akademisi, maupun media massa pendukung neoliberal adalah pihak yang menciptakan dan menjalankan sistem yang gagal ini.

Sistem kapitalisme liberal (neoliberalisme) menempatkan kepentingan akumulasi modal di atas kepentingan manusia; atau dengan kata lain, sistem ini mengabdi pada modal (kebendaan) bukan pada kemanusiaan.

Karena itu, kerangka acuan Musyawarah Pemuda Pergerakan menyebutkan masalah ini: “Manusia membutuhkan cara baru yang didasarkan pada suatu azas dan prinsip yang berbeda dengan kapitalisme, suatu prinsip yang menghentikan secara total penghisapan manusia atas manusia dan menghilangkan sama sekali penindasan suatu bangsa atas bangsa lain.”

Para inisiator Musyawarah Pemuda Pergerakan menyadari rumitnya persoalan yang dituai dalam fase perkembangan kapitalisme sekarang. Dalam pasar bebas, tuntutan memenuhi kebutuhan hidup manusia semakin menggila. Banjir informasi serta kecepatan transportasi bukan saja telah memecah-belah perhatian manusia ke dalam berbagai fenomena persoalan, melainkan juga menghancurkan tatanan nilai kolektif yang sebelumnya hidup dalam masyarakat.

Namun persoalan yang mendasari seluruh fenomena adalah liberalisasi ekonomi-politik, yang membawa negeri ini ke dalam kuasa penuh kapitalisme. Di sini terletak bangunan dasar yang di atasnya terbangun berbagai persoalan sosial lain.

Musyawarah Pemuda Pergerakan ini bukan untuk menjawab seluruh persoalan yang ada, seperti resep obat super mujarab untuk mengobati segala jenis penyakit. Bahkan belum tentu akan mengobati satu per seribu dari persoalan.

Tetapi, dengan agenda ini, sebagaimana agenda pergerakan lainnya, semestinya akan melahirkan rekomendasi tugas atau kerja kongkrit para pemuda pergerakan dalam merespon situasi aktual. Dengan demikian, maka musyawarah ini dapat ditempatkan sebagai upaya permulaan bagi konsolidasi lanjutan yang lebih luas, dalam bingkai persatuan nasional seluas-luasnya, dalam semangat gotong royong melawan imperialisme.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut