Menyalakan Kembali ‘Api Kartini’

Di tahun 1964, melalui perjuangan kelompok kiri, Kartini resmi ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Selain itu, tanggal kelahiran Kartini, yakni 21 April, ditetapan sebagai Hari Kartini.

Sejak itulah peringatan Hari Kartini menjadi resmi. Sebetulnya, jauh sebelum tahun 1964, gerakan perempuan dan kaum kiri sudah rutin menggelar peringatan Hari Kartini setiap tanggal 21 April.

Waktu itu kaum kiri-lah yang paling getol mengobarkan kembali “api Kartini”. Gerwani menamai majalah resminya: “Api Kartini”. Boleh dikatakan, Gerwani-lah organisasi perempuan yang paling bersemangat menyulut kembali “api Kartini’.

Di tahun 1963, setahun sebelum penetapan gelar pahlawan untuk Kartini, majalah Api Kartini menulis: “Sesungguhnya gadis ideal yang dikehendaki Kartini sesuai dengan panggilan revolusi, seorang gadis yang tidak hanya dengan ciri perilaku nrimo ing pandum (menerima nasib), tetapi tangkas, berdiri tegak sejajar dengan para rekan laki-laki dalam segala bidang…semangat Kartini…selalu memberontak terhadap segala ketidakadilan, belenggu adat kolot serta derita kaum perempuan dan Rakyat.”

Begitulah Gerwani memaknai api Kartini. Dengan pemaknaan itu, Gerwani menempatkan Kartini sebagai seorang pejuang anti-feodalisme dan anti-kolonialisme. Dengan begitu, Gerwani berharap kaum perempuan Indonesia bisa memenuhi panggilan revolusi nasional.

Saat itu, di bawah era Soekarno, seruan agar kaum perempuan berpartisipasi dalam revolusi memang sangat kuat. Soekarno, yang mengutip Lenin, menyakini bahwa, tanpa keterlibatan kaum perempuan, revolusi tidak akan menang. Saat itu, Soekarno memang mengandalkan mobilisasi kelas popular untuk mensukseskan revolusi Indonesia. Karena itu, perempuan didesak untuk ‘keluar rumah’ dan ambil-bagian dalam mobilisasi untuk revolusi.

Namun, pasca peristiwa G.30.S 1965, keadaan berbalik. Sebuah kontra-revolusi, yang dilakukan oleh militer kanan dan partai-partai sayap kanan, berhasil menyetop Soekarno dan revolusi Indonesia. Bersamaan dengan itu, pihak kontra-revolusi melakukan pembasmian massal terhadap basis popular pendukung revolusi, yakni kaum komunis dan nasionalis kiri. Gerwani juga turut dibasmi.

Di bawah Orde Baru, ‘api Kartini’ dipadamkan. Ia digambarkan tidak lagi tangkas, berdiri tegak sejajar dengan laki-laki, dan selalu memberontak terhadap ketidakadilan, melainkan sosok perempuan yang dikurung dengan baju kebaya dan rambut dikonde. Di masa Soekarno, perempuan digambarkan harus seperti Srikandi, yakni perempuan yang tegar, pemberani, dan mandiri. Sebaliknya, di era Orde Baru, perempuan digambarkan dengan sosok Subadra, yakni perempuan yang anggun, lembut, tenang, setia dan patuh pada suaminya.

Di bawah rezim Orba, Hari Kartini tetap dirayakan, tetapi tanpa penghayatan terhadap perjuangan Kartini. Hanya upacara, perlombaan, karnaval, dan lain-lain. Orba tidak pernah mengenalkan pemikiran Kartini secara luas kepada rakyat. Satu-satunya yang diingat massa hanyalah lagu “Ibu Kita Kartini” karya WR Supratman.

Sekarang ini, di peringatan Hari Kartini tahun ini, berbagai persoalan besar masih mendera bangsa ini. Termasuk kaum perempuan. Bahkan beberapa persoalan itu pernah juga dihadapi oleh Kartini, seperti kemiskinan, soal pendidikan, pengangguran, kekerasan, diskriminasi, dan lain sebagainya.

Kartini dilahirkan di era ketika pribumi sedang mulai menginjakkan kaki di babak penjajahan baru. Soekarno menyebutnya “imperialisme modern”. Sekarang ini, bangsa Indonesia juga sedang berhadapan dengan imperialisme modern yang lebih mutakhir, yakni neoliberalisme.

Karena itu, sudah sepantasnya “Api Kartini” kembali dikobarkan. Kaum perempuan, yang juga menjadi korban utama sistem neoliberalisme, harus bakar kembali api semangatnya. Dalam konteks itu, menurut saya, ada beberapa nilai dari Kartini yang perlu dihidupkan agar menjadi “api” di era sekarang.

Pertama, keberpihakan terhadap rakyat. Kartini, yang dilahirkan di tengah keluarga aristokrat, sangat mencintai dan memihak rakyat jelata. Ketika melihat kemelaratan dan penderitaan, hatinya tergetar marah. Seperti ditulisnya sendiri: “Aku renungi dan pikirkan keadaanku sendiri, dan di luar sana begitu banyak derita dan kemelaratan melingkupi kami! Seketika itu juga seakan udara menggetar oleh ratap tangis, erang dan rintih orang-orang di sekelilingku. Dan lebih keras daripada erang dan rintih itu, mendesing dan menderu di kupingku: Kerja! Kerja! Kerja! Perjuangkan kebebasanmu!”

Kartini hidup terpisah dengan rakyat jelata. Namun demikian, hal itu tidak menghalangi kecintaannya terhadap rakyatnya. Melalui bacaan dan koran, juga sesekali pengalamannya keluar istana, ia menyatakan simpati terhadap rakyatnya. “Disebut bersama dengan Rakyatku; dengannyalah dia akan berada buat selama-lamanya! Aku sangat bangga, Stella, disebut dengan satu nafas dengan Rakyatku,” tulis Kartini.

Kedua, komitmennya terhadap pendidikan sebagai alat pembebasan. Kartini menyebabkan urgensi pendidikan sebagai alat pembebasan: “Oh, sekarang saya mengerti, mengapa orang tidak setuju dengan kemajuan orang Jawa. Kalau orang Jawa berpengetahuan, ia tidak akan lagi mengiyakan dan mengamini saja segala sesuatu yang ingin dikatakan atau diwajibkan oleh atasannya.” [Surat Kepada E.H. Zeehandelaar, 12 Januari 1900]

Ketiga, komitmennya terhadap kemanusiaan dan penentangan terhadap segala bentuk ketidakadilan. Kartini sangat terpengaruh oleh kata-kata Multatuli: “Tugas manusia adalah menjadi manusia.”

Dalam suratnya kepada EC Abendanon, Kartini mengutuk segala bentuk penyiksaan dan eksploitasi terhadap pekerja: “Dari kau tiada lain yang dapat kami harapkan, bahwa kau tidak bisa dan tidak bisa mengizinkan dijatuhkannya pukulan-pukulan atas pekerja-pekerja itu atas perintahmu. Aku sendiri tidak dapat melihat orang dipukul. Penglihatan itu menerbitkan sakit, sakit melihat binatang yang ada di dalam diri manusia, binatang yang tiada terkendalikan, yang mengubahnya sedemikian hinanya dari manusia menjadi hewan.” [Surat kepada EC Abendanon, 17 Agustus 1902]

Keempat, penentangan terhadap kolonialisme. Kartini faham betul bagaimana kolonialisme menguras kekayaan negerinya dan memiskinkan rakyatnya. Dia pernah menulis: “… Sejumlah orang Belanda mengumpati Hindia sebagai ‘ladang kera yang mengerikan’. Aku naik pitam jika mendengar orang mengatakan Hindia yang miskin. Orang mudah sekali lupa kalau negeri kera yang miskin ini telah mengisi penuh kantong kosong mereka dengan emas saat mereka pulang ke Patria setelah beberapa lama saja tinggal di sini” (Vissia Ita Yulianto, 2004).

Kelima, menentang segala bentuk feodalisme. Kartini menyebut feodalisme sebagai penyakit yang menyebabkan hilangnya kesetia-kawanan, merendahkan martabat manusia, dan menghalangi kemajuan masyarakat. “Bahwa yang terbaik harus dikangkangi sendiri dan dianggap sebagai hak pribadi kaum aristokrat, bersumber pada faham sesat, bahwa kaum bangsawan adalah mutlak sebagai manusia lebih mulia, makhluk lapisan teratas daripada Rakyat, dan karena berhak mengangkangi segala hal yang terbaik,” tulis Kartini. (Nota Kartini tertanggal Jepara, Januari 1903).

Inilah beberapa nilai dari Kartini yang sangat relevan. Mungkin masih banyak yang lain. Intinya seperti pesan Bung Karno: “Ambil apinya, bukan abunya!”

Rudi Hartonopengurus Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (PRD)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut