Menolak Rencana Kenaikan KRL

Sabtu, 19 Juni 2010 | 02.58 WIB | Editorial

Seperti yang sudah diduga, kenaikkan tarif dasar listrik pun berdampak sistemik. Kenaikkan tarif dasar listrik yang mungkin mulai berlaku awal Juli nanti sudah menjadikan, PT Kereta API Indonesia untuk berencana menaikkan tarif kereta rel listrik yang melayani rute Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang dan Bekasi (Jabodetabek.) Berapa pun jumlah kenaikkan itu walaupun atas nama penyesuaian dengan tarif dasar listrik yang menaik, terlebih dengan mengatas-namakan peningkatan pelayanan, kita merasa tertampar dan terhina.

Siapapun yang pernah naik Kereta Rel Listrik ekonomi Jabodetabek di saat jam-jam padat yaitu berangkat kerja dan pulang kerja tentu akan merasa dan berpikir betapa dirinya tidak dimanusiawikan tetapi diperlakukan bagaikan binatang atau barang mati. Kereta begitu penuh, membludag sampai ke atas gerbong, berdesak-desakan, berkeringat, panas dan seringkali tidak aman alias bisa kecopetan. Singkatnya, pelayanan kereta rel listrik itu sampai sekarang sangat memprihatinkan dan tidak membikin nyaman para pelanggannya.

Kenapa KRL yang tidak nyaman dan memprihatinkan itu tetap menjadi pilihan rakyat dalam menggunakan alat transportasi?

Jawabannya jelas: rakyat yang miskin secara ekonomi karena kerja tak cukup untuk menopang kebutuhan harian keluarga memilih KRL sebagai pilihan transportasi karena murah bahkan bisa dikatakan cepat karena bisa terbebas dari kemacetan. Sayangnya, kesetiaan rakyat dalam menggunakan KRL ini tidak ditanggapi dengan baik oleh para pengelola jasa perkeretaapian di Indonesia: pelayanan masih buruk: tidak bersih, tidak nyaman seringkali masih tidak tepat waktu dan terbatas sehingga para pengguna berdesak-desakan.

Kami mendukung berbagai rencana untuk memaksimalkan alat transportasi murah, cepat dan massal. Tapi kita juga melihat bagaimana rencana-rencana itu terbengkalai seperti tak ada pertanggung-jawaban: busway, monorel, misalnya. Ini menunjukkan bagaimana pemerintah tampak tidak bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan rakyat akan transportasi murah, cepat dan massal. Pemerintah juga tampak pragmatis dalam memenuhi kebutuhan alat-alat transportasi massal itu yaitu dengan mengimpor alat-alat tranportasi bekas yang belum tentu terjamin keamanannya daripada bersusah payah menghidupkan kembali industri nasional kereta api di Madiun, misalnya.

Daripada berpikir untuk menaikkan tarif KRL di tengah pelayanan yang masih buruk ini, lebih baik PT KAI memprioritaskan lebih dahulu untuk meningkatkan pelayanan yang baik dan nyaman bagi para pengguna jasa KRL. Kalau tidak, tentu saja akan menuai protes dan penolakkan. Bagaimana pun penyelenggaran KRL adalah bagian dari pelayanan publik. Karena itu seharusnya semakin nyaman dan dapat diakses oleh masyarakat dengan mudah termasuk para penyandang cacat.

Di tengah situasi seperti itu tentu saja kami menolak rencana kenaikkan tarif KRL Jabodetabek.

Anda dapat menanggapi editorial kami di [email protected]

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut