Tolak Kenaikan Harga BBM!

Sungguh, pak SBY, kau sangat pandai menipu rakyat. Dengan menunggangi krisis politik di Iran, yang segera memicu kenaikan harga minyak dunia, anda seolah menemukan ‘waktu yang tepat’.

Padahal, sejujurnya, ada atau tidak ada krisis politik di Iran, ataupun terjadi kenaikan minyak dunia, anda akan tetap menaikkan harga BBM. Sebab, itu sudah merupakan perintah tuan anda: negeri-negeri imperialis, yang di belakangnya berbaris korporasi minyak dunia.

Ide liberalisasi sektor energi sudah ada di kepala anda sejak lama. Kami masih ingat, ketika anda menjabat Menteri Pertambangan di rejim Gus Dur, proposal RUU Migas itu diajukan oleh anda. RUU migas itu sepenuhnya mengikuti anjuran IMF dan mendapat sokongan dana dari USAID.

Akan tetapi, Gus Dur masih punya keberpihakan kepada bangsa: ia mengganti anda dan mengulur proposal RUU migas itu. Lalu, seorang penerus anda, Purnomo Yusgiantoro, yang juga pernah menjadi menteri ESDM di pemerintahan anda, melanjutkan proposal tersebut pada tahun 2001. Lahirlah malapetaka itu: UU nomor 22 tahun 2001 tentang minyak dan gas!

Sejak itu, dibukalah pintu seluas-luasnya kepada modal asing untuk menguasai sektor migas Indonesia. Yang paling pertama, tentu saja, pihak asing menguasai sektor hulu dulu: ladang-ladang minyak dan gas Indonesia. Hanya dalam waktu singkat, 80-90% lapangan minyak dan gas Indonesia sudah jatuh ke tangan asing.

Tetapi, sampai di sini, para imperialis itu belum juga puas. Mereka sangat bernafsu menguasai juga sektor hilir migas Indonesia: distribusi dan penjualan BBM. Maklum, Indonesia adalah pangsa pasar yang besar: 230 juta penduduk.

Akan tetapi, di sektor hilir itu masih ada hambatan: monopoli pertamina dalam distribusi dan penjualan BBM. Harga BBM di Indonesia juga masih terbilang rendah karena disubsidi oleh pemerintah. Kalau begitu keadaannya, maka pemain asing akan kesulitan untuk bermain di sektor hilir tersebut.

Apa tuntutan imperialis itu? Segera serahkan proses distribusi dan penjualan itu pada mekanisme pasar. Harga jual BBM harus disesuaikan dengan “harga keekonomian pasar”. Dengan demikian, penentuan harga BBM harus disesuaikan dengan mekanisme harga pasar.

Tuntutan itulah yang hendak dipenuhi pak SBY: mengarahkan harga BBM Indonesia agar sesuai dengan harga “keekonomian”. Dan, kami sangat yakin, pasca ini masih akan ada kenaikan harga lagi.

Sejak tahun 2004 lalu, suda ada ratusan perusahaan swasta yang antre menunggu ijin bermain di sektor hilir. Beberapa diantaranya adalah perusahaan minyak raksasa dunia: British Petrolium (Amerika-Inggris), Shell (Belanda), Petro China (RRC), Petronas (Malaysia), dan Chevron-Texaco (Amerika).

Sejak negeri ini diperintah oleh anda, kebijakan energi negara ini makin amburadul. Pada tahun 2004, sebelum anda menjadi Presiden, produksi minyak mentah siap jual (lifting) nasional masih berkisar 1,4 juta barel perhari. Namun, pada akhir 2011 lalu, produksi minyak Indonesia hanya 905.000 barel perhari. Bahkan, pada tahun 2012 ini, produksi minyak cuma berkisar 890.000 barel perhari.

Penyebabnya gampang diketahui: sebagian besar ladang minyak kita sudah dikuasai oleh perusahaan berbendera asing. Selain itu, kita hanya mengandalkan ladang-ladang atau sumur minyak tua. Rejim anda sangat pelit untuk berinvestasi dan mencari blok minyak yang baru.

Tetapi, ya, itu sudah tugas anda sebagai rejim komporador. Anda memang sudah dipersiapkan oleh negeri-negeri imperialis itu dan dibantu sedemikian rupa untuk memenangkan dua kali pemilu.

Karena itu, kami tahu mengapa anda suka mengangkangi konstitusi, mengabaikan kepentingan nasional, dan menindasi rakyat sendiri. Para pendiri bangsa sudah mengingatkan, seperti tertulis dalam pasal 33 UUD 1945, bahwa “bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.”

Anda mengangkangi perintah konstitusi itu. Dengan demikian, anda juga “memberaki” cita-cita para pendiri bangsa. Anda rela menjadi abdi pada kolonialisme, sebuah sistem yang selama ratusan tahun ditentang dan dilawan bangsa kita.

Baiklah, sebagai penutup editorial ini, kami mengutip potongan puisi penyair besar Indonesia, Agam Wispi, sebagai berikut: “Mereka berkata, jang berkuasa tapi membunuh rakjatnja mesti turun tahta.”

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut