Menhut Tak Kunjung Selesaikan Tuntutan Petani

Petani-Jambi1

Pemerintah sama sekali tidak ingin rakyatnya sengsara. Kata-kata itu diucapkan oleh Menteri Kehutanan RI, Zulkifli Hasan, ketika mengunjungi petani di dusun Kunangan Jaya II, Batanghari Jambi, pada tanggal 14 Januari lalu.

Dalam pertemuan itu,  Menhut Zulkifli Hasan menjanjikan akan memberi kesempatan pengelolaan hutan kepada masyarakat di bekas area konsesi PT. Asialog.

“Nanti, kalau sudah dikasih tanah, jangan dijual ya bapak-bapak,” kata Ngatono, Kepala Dusun Kunangan Jaya II, menirukan ucapan Menhut Zulkifli Hasan pada pertemuan itu.

Usai pertemuan, sang menteri memanggil Ngatono dan Nurlela, petani dari Mekar Jaya, Sarolangun, untuk maju kedepan. Di situ, Menhut memberikan uang Rp 10 juta kepada Ngatono dan Nurlela.

“Kata Pak Menteri, uang itu bukan sogokan, tapi hanya pengganti uang bensin,” kata Ngatono.

Tak hanya itu, Menhut Zulkifli Hasan juga menjanjikan Rp 40 juta kepada Ngatono dan Nurlela ketika tiba di Jakarta. “Tapi, terus terang, kami tidak butuh uang itu. Makanya kami tolak. Yang kami mau, Menhut mengeluarkan SK tentang HTR (Hutan Tanaman Rakyat) kepada petani,” kata Ngatono.

Akan tetapi, Ngatono dan petani Jambi lainnya kembali harus menelan pil kekecewaan. Pada tanggal 21 Januari lalu, pihak Kemenhut memang memanggil sejumlah perwakilan petani dari dusun Kunangan Jaya II dan Mekar Jaya.

Dalam pertemuan itu, pihak Kemenhut kembali menawarkan pola Kemitraan. Padahal, sejak awal petani sudah menolak pola kemitraan itu. Maklum, petani sudah cukup lama mengalami intimidasi dan teror dari pihak perusahaan.

“Kami sudah cukup lama diteror dan ditakut-takuti oleh perusahaan. Tiba-tiba sekarang kita disuruh bermitra, ya, kami tidak mau. Lagipula, kami merasa punya hak atas tanah itu,” kata Ngatono.

Menurut Ngatono, petani Kunangan Jaya II dan Mekar Jaya sudah bulat menuntut HTR. Karena itu, ia berharap agar pihak Menhut Zulkifli Hasan segera merealisasikan janjinya soal HTR,” katanya.

Petani Tetap Terabaikan

Sementara itu, ratusan petani Jambi dan Mesuji (Lampung) masih bertahan di depan kantor Kemenhut RI di jalan Gatot Subroto, Jakarta. Mereka membangun tenda dan menginap.

“Kita sudah 68 hari menginap di sini, tapi Menhut Zulkifli Hasan tak kunjung menyelesaikan persoalan kami,” kata koordinator aksi, Andi Syaputra.

Tak hanya itu, kata Andi, petani Jambi dan Mesuji juga sudah berjalan kaki ribuan kilometer untuk mendesak Menhut segera menyelesaikan persoalan yang menimpa petani.

Tapi, Menhut Zulkifli Hasan tetap bergeming. Alih-alih memenuhi janjinya, pihak Kemenhut malah memungut kembali tawaran usang, yakni kemitraan, yang sudah lama ditolak petani.

Akhirnya, Jumat (25/1) kemarin, ratusan petani Jambi dan Mesuji (Lampung) menggelar aksi mimbar bebas di depan Kemenhut. Petani mendesak Menhut segera merealisasikan janjinya.

Setelah beberapa jam berorasi, pihak Kemenhut mengirim Kepala Pusat Humasnya, Sumarto, untuk menemui petani. “Dia (Sumarto) keluar menemui petani. Bukannya memberi solusi, eh, malah membujuk petani agar menerima solusi kemitraan dengan perusahaan,” ujar Andi Syaputra.

Petani Jambi dan Mesuji sangat kecewa. Mereka menganggap Menhut tidak punya empati untuk menyelesaikan persoalan petani. “Bagi kami, petani Jambi dan Mesuji, sikap Menhut ini mempertegas kalau dirinya adalah antek asing dan korporasi,” kata Andi Syaputra.

Menurut rencana, petani Jambi dan Mesuji akan terus menggelar mimbar bebas di depan Kemenhut. Sementara, untuk menyemangati perjuangan petani, musisi reggae kerakyatan Dompak akan bernyanyi bersama-sama dengan petani.

Andi Nursal

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut