Mengutuk Kekerasan Terhadap Penganut Syiah!

Satu lagi kejadian yang membuat rasa perikemanusiaan kita terkoyak: perbedaan aliran dan kepercayaan kembali merenggut nyawa sesama manusia. Ini terjadi di Sampang, Madura, pada hari Minggu, 26 Agustus 2012, dimana sekelompok massa dari penganut aliran mayoritas menyerang kelompok minoritas Syiah. Akibat kejadian itu: dua orang tewas dan beberapa lainnya mengalami luka.

Ironisnya, kejadian semacam ini sudah berulang-kali. Tidak sedikit korban jiwa yang sudah berjatuhan. Tidak sedikit pula kerusakan material yang menyertainya. Sayangnya, pemerintah seakan tak sanggup berbuat apa-apa. Padahal, jika mengacu pada pembukaan UUD 1945, tugas pembentukan negara Indonesia adalah untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia.

Kejadian di Sampang Madura itu menandai adanya bahaya baru dalam masyarakat kita: bangsa Indonesia terus-menerus ‘digiring’ untuk mengingkari prinsip-prinsipnya sendiri. Kita tahu, prinsip kebangsaan kita berlandaskan perikemanusiaan; atau seperti dikatakan Bung Karno—yang mengutip Gandhi: Nasionalismeku adalah perikemanusiaan!

Karena itu, dalam konteks kebangsaan, bangsa Indonesia harus berpijak pada prinsip yang disebut “Bhineka Tunggal Ika”. Artinya, keragaman atau yang berbeda-beda itu sendiri adalah Indonesia. Yang mempersatukannya adalah cita-cita bersama: lepas dari kolonialisme dan membangun masyarakat adil dan makmur. Dan, persatuan itu hanya mungkin jikalau ada toleransi, saling menghargai, saling menghormati, dan gotong-royong dalam membangun bangsa.

Artinya: jika ada yang menganulir keragaman itu, bahkan berusaha menghancurkannya dengan kekerasan, maka ini sama saja dengan menganulir prinsip-prinsip kebangsaan Indonesia: perikemanusiaan. Sama saja dengan mengabaikan terhadap realitas kebangsaan kita: keberagaman. Ini adalah upaya memecah-belah bangsa.

Sikap negara membiarkan kekerasan oleh sekelompok aliran terhadap aliran lain adalah pengingkaran terhadap prinsip-prinsip kebangsaan itu sendiri. Ini sama saja dengan negara sudah ‘murtad’ dari prinsip-prinsipnya sendiri. Padahal, Bung Karno sering mengutip kata-kata Abraham Lincoln: A Nation divided against itself, cannot stand.”

Selain itu, kejadian di Sampang Madura itu menandai kemunduran filsafat agama bersangkutan. Bayangkan, perbedaan interpretasi diselesaikan bukan dengan jalan dialog atau perdebatan, melainkan dengan kekerasan dan paksaan. Mereka mestinya belajar pada pengalaman Haji Misbach, salah seorang aktivis Sarekat Islam, saat berjuang melawan penyimpangan dalam agamanya. Haji Misbach melawan penyimpangan itu dengan tulisan-tulisan dan debat terbuka. Bagi Haji Misbach, penyimpangan harus dilawan dengan dakwah dan pengajaran yang intensif.

Ironisnya, negara campur tangan dalam urusan ini. Bayangkan, negara turut mengadili mereka yang dianggap penganut aliran sesat. Bahkan, tak sedikit penganut aliran yang dianggap sesat dijerat oleh hukum negara. Ini sama saja dengan ‘negara mengambil-alih tugas Tuhan’. Bagi kami, negara mestinya bertindak sebagai fasilitator untuk membuka ruang dialog seluas-luasnya.

Kejadian di Sampang juga memperlihatkan tidak berfungsinya aparatus negara: aparatus pemerintahan, aparatus keamanan, dan intelijen. Penyerbuan terhadap penganut Syiah sudah terjadi berulangkali. Disamping itu, gejolak dan pertikaian antar kelompok sosial ini mestinya sudah tercium oleh intelijen. Sayang, aparatus keamanan kita, baik kepolisian maupun intelijennya, lebih sibuk mematai-matai oposan terhadap pemerintah ketimbang kelompok-kelompok yang mengancam keselamatan rakyat.

Kejadian seperti di Sampang harus diakhiri. Bangsa Indonesia harus kembali dan memeluk teguh prinsip-prinsipnya. Sebab, bangsa yang meninggalkan prinsipnya akan mudah ditaklukkan dan dihancurkan. Sedangkan bangsa-bangsa yang memegang teguh prinsipnya akan bisa mengejar kemajuan dan masa depan yang gemilang.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut