Menghidupkan Kembali Pancasila

INDONESIA mempunyai tiga ratus etnik yang berbeda-beda, tidak kurang dari 200 bahasa, dan penduduknya memeluk banyak agama dan aliran kepercayaan. Sekarang ini, negeri kepulauan ini sudah dihuni sedikitnya 230 juta jiwa rakyat.

Tanpa sebuah alat pemersatu, maka mana mungkin bisa mempertahankan keberlangsungan bangsa yang sangat “bhineka” ini. Dengan begitu banyak suku bangsa, agama, bahasa, pemikiran dan gagasan, jika tidak diberi sebuah dasar dalam menyusun masa depan bangsa ini, maka sudah pasti bangsa ini berumur pendek. Disinilah perlunya sebuah dasar untuk menyusun sebuah negara sebesar Indonesia ini.

Pancasila bukanlah ciptaan Bung Karno, bukan pula wahyu yang diturunkan dari langit, melainkan diciptakan oleh bangsa Indonesia sendiri. Bung Karno sendiri mengatakan, “aku hanya menggali Pancasila daripada buminya bangsa Indonesia, setelah terpendam 350 tahun lamanya.”

Lima prinsip dalam pancasila itu, yaitu Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme, – atau perikemanusiaan, Mufakat, – atau demokrasi, Kesejahteraan sosial, dan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa, adalah dasar yang menjadi pengikat begitu banyak gagasan atau pemikiran dalam menyusun Indonesia merdeka.

Sekarang ini, misalnya, ada kelompok tertentu yang memaksakan kebenaran mutlak keyakinannya kepada mayoritas bangsa Indonesia, bahkan bercita-cita hendak mendirikan negara agama, tentu saja bertentangan dengan ajaran Pancasila itu sendiri. “Republik Indonesia itu bukan negara agama, tetapi adalah negara nasonal, di dalam arti meliputi seluruh badannya natie Indonesia,” kata Bung Karno.

Di tengah-tengah berbagai persoalan bangsa dewasa ini—persoalan kemiskinan, perampokan sumber daya oleh pihak asing, munculnya separatisme dan usaha mendirikan negara agama, dan banyak persoalan lainnya—ada banyak orang yang merindukan Pancasila kembali diajarkan di sekolah-sekolah.

Itu patut dihargai, bahwa masih ada keinginan untuk terus mengajarkan pancasila kepada generasi bangsa, akan tetapi apa yang lebih penting adalah mengamalkan pancasila dalam praktek kehidupan sehari-hari.

Kita tidak mau lagi seperti jaman orde baru dimana Pancasila selalu dilafalkan hampir setiap hari oleh penguasa, tetapi praktek korupsi, membunuh demokrasi, dan penindasan terhadap rakyat tetap jalan terus. Orde baru memaksakan agar Pancasila diajarkan di sekolah-sekolah, penataran-penataran P4, aparatus negara, dan lain-lain, tetapi praktek pejabat pemerintah dan penguasa tidak pernah pancasilais. Ajaran-ajaran pancasila pun dibuat seperti doktrin-doktrin kaku yang anti-kritik dan perdebatan, sehingga dengan sendirinya telah membunuh pancasila sebagai sistim filsafat yang hidup.

Apa yang penting adalah, mengutip istilah Bung Karno, mengambil apinya pancasila, bukan abunya. Kalau Pancasila menjadi dasar negara, maka dia harus menjadi jiwa dan pedoman dari semua kebijakan pemerintah. Maka, tidak dibenarkan pemerintah menerapkan pencabutan subsidi, meliberalkan perekonomian, merampas tanah rakyat, menggusur rumah-rumah orang miskin, membiarkan pengangguran, dan lain-lain.

Dan, lebih penting lagi, pejabat juga harus menunjukkan teladan sebagai pancasilais di hadapan rakyat. Tidak dibenarkan seorang pejabat mengumpulkan harta atau memperkaya diri sendiri, apalagi jika diperoleh dengan jalan korupsi. Seorang pejabat pancasilais harus mendengar, menyerap, dan menjalankan apa yang dikehendaki rakyat, bukan mengabaikannya.

Hanya dengan begitu, kita akan sampai pada cita-cita kemerdekaan kita: masyarakat adil dan makmur, berdasarkan keadilan sosial.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • integrasi orang2 islaam dan pancasila, kan terjadi terutama bila semua orang2 islam mampu hafal terjemahan faatihah.

  • abdurahman

    Dewasa ini, pemerintah/negara seakan kebingunan dengan keadaan yang terjadi di negeri ini, korupsi, demonstrasi, perkelahian antar sekolah, kampung dll. Ada wacana untuk mengangkat kembali pancasila yang ditinggalkan oleh bangsa ini agar negara ini menjadi aman tenteram dan damai. Menurut saya bukan itu saja yang harus diangkat, tetapi bagaimana kita mengamalkan agama Islam dengan baik dan benar menurut Allah SWT dan Rasulnya sehingga Bangsa Indonesia ini menjadi bangsa yang aman, tentram dan damai.