Mengenang Peristiwa ‘Korban 40 Ribu’ Jiwa Di Sulawesi Selatan

Sebuah mobil jeep melaju kencang memasuki kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, pada bulan Maret 1947. Seorang pria jangkung turun dari jeep, dengan ditemani tiga orang ajudannya.

Pria Jangkung itu adalah Kapten Westerling, komandan Depot Speciale Tropen (pasukan komando baret merah). Westerling menanyakan siapa pembunuh Mayor Larroa, seorang perwira Belanda, dan dimana markas pejuang. Westerling memberi waktu tiga menit untuk menjawab.

Suasana begitu tegang. Andi Monji, salah seorang saksi dalam peristiwa itu, mengisahkan bahwa saat itu Westerling mengambil pistol dan menodongkannya kepada rakyat yang berbaris. Pria kelahiran Turki itu kemudian memberondong rakyat tak berdosa.

Itulah salah satu kejadian dalam peristiwa yang dikenang oleh rakyat Sulawesi Selatan sebagai ‘peristiwa korban 40.00 jiwa’. Peristiwa memilukan ini terjadi pada akhir Desember 1946 hingga awal Februari 1947. Tetapi, ada juga yang menyebut bahwa aksi itu berlangsung hingga Maret 1947.

>>>

Sejak 20-23 Agustus 1945, sekembalinya Dr. Ratulangi dari Jakarta, Sulawesi semestinya sudah punya gubernur resmi. Tetapi, entah kenapa, Dr. Ratulangi tidak mengumumkan dirinya sebagai gubernur dan tidak membuka kantor Gubernur secara resmi di Makassar.

Hal itu tidak terjadi hingga Dr. Ratulangi sendiri diasingkan oleh Belanda. Van Mook, Gubernur Jenderal Belanda saat itu, segera memanfaatkan situasi ini dengan mengangkat semacam handelskonsulen di Makassar. Ini nantinya diubah menjadi Perdana Menteri Indonesia Timur.

24 September 1945, pasukan Australia—sebagai perwakilan sekutu—mendarat di kota Makassar. Seiring dengan proses itu, selain memboncengi kedatangan pasukan sekutu, orang-orang belanda di Makassar mulai mengambil-alih kekuasaan.

Rakyat tidak suka dengan kembalinya kolonialis Belanda. Sebelum kedatangan sekutu, kelompok pemuda radikal sudah mendirikan organisasi perlawanan, yaitu Pusat Pemuda National Indonesia (PPNI). Organisasi ini dipimpin oleh Manai Sophiaan—orang yang kelak ditunjuk Bung Karno sebagai dubes di Rusia (1963-1967).

Pada tanggal 29 Oktober 1945, para pemuda  dan pelajar di Makassar menyerbu dan menduduki Empress Hotel, yang berfungsi sebagai markas NICA. Para pelajar mengibarkan bendera merah-putih di hotel itu. Selain itu, para pelajar juga menyerbu tangsi Polisi di jalan Gowa, kantor gubernur, dan kantor polisi di jalan balaikota.

Semangat perlawanan makin berkobar ketika PPNI menyerukan pengibaran bendera merah-putih di setiap rumah di kota Makassar. Rupanya, seruan ini benar-benar ditaati oleh rakyat. Berkibarlah bendera merah-putih dengan berbagai ukuran.

Sementara itu, pada 15 oktober 1945, raja-raja di Sulsel bersama dengan Gubernur Ratulangi sudah membuat pernyataan bersama untuk mendukung pemerintah Republik Indonesia.

Situasi-situasi itulah yang melandasi pimpinan militer Belanda di Jakarta untuk mengirimkan pasukan komando khusus–Depot Speciale Troepen (DST)- ke Makassar. Pasukan DST ini dibawah komando Kapten Westerling. Perlawanan-perlawanan rakyat itu pula yang menjadi landasan pemberlakukan SOB (darurat perang) untuk afdeling Makassar, Pare-Pare, Bantaeng, dan Mandar.

>>>

Bagi sebagian besar orang Sulawesi Selatan, apa yang dilakukan Westerling dan pasukannya sangatlah kejam dan benar-benar tidak manusiawi. Westerling dianggap tukang jagal yang tak punya belas kasihan sedikitpun.

Akan tetapi, Westerling punya pandangan sendiri mengenai hal ini. Kepada Salim Said, yang pada tahun 1969 menjadi wartawan Ekpress, Westerling mengatakan bahwa apa yang dilakukannya bisa dibenarkan. “Well Mr Said. It’s a war,” katanya.

Tidak hanya itu, Westerling juga tidak mau mengaku kalau dirinya telah membantai rakyat Sulawesi selatan. Ini tentu membuat naik darah orang-orang Sulsel. Menurut Westerling, mereka yang dibunuh adalah ekstremis: perampok, pelaku kriminal, dan pengacau.

Westerling mengisahkan, pernah ada seorang anggota TNI yang tertangkap, tetapi tidak dibunuh. Alasannya, karena orang tersebut adalah anggota TNI. Saat itu, kata Westerling, pihaknya hanya mau menegakkan ketertiban di Sulawesi Selatan.

Tetapi pengakuan Westerling sangat bertolak belakang dengan apa yang disampaikan oleh sejumlah saksi sejarah peristiwa keji itu. Andi Cambo, salah seorang tokoh pejuang yang pernah ditangkap dan disiksa pasukan Westerling, menceritakan bagaimana kekejian pasukan elit kolonial belanda tersebut.

Andi Cambo ditangkap di Leppangan, sebuah kampung di Pinrang, Sulsel. Setelah ditangkap, ia diangkut oleh pasukan Westerling ke sebuah tempat dan mendapat penyiksaan di sana. “Saya digantung oleh Belanda satu jam lebih,” katanya mengisahkan melalui buku tentang sejarah kelahiran Pinrang.

Suatu hari, kata Andi Cambo, pasukan DST dipimpin De Turk mengumpulkan ribuan penduduk di sebuah lapangan. Andi Cambo, yang saat itu ditangan pasukan De Turk, dipaksa menunjuk orang-orang yang menjadi pejuang diantara kerumunan ribuan orang itu. Tetapi Andi Cambo menolak untuk menunjuk seorang pun. Ia pun mendapatkan siksaan berat.

Meski tidak menemukan orang yang disebut ekstremis, pasukan Belanda tetap menyuruh beberapa orang berjejer, lalu ditembak satu per-satu. Kejadian semacam ini terjadi di beberapa tempat di Pinrang.

Saya sendiri pernah mendengar cerita mengenai kejadian ini dari kakek saya. Katanya, ketika pasukan belanda datang ke kampung, semua orang dikumpulkan di sebuah lapangan, lalu dipisahkan antara laki-laki dengan perempuan dan anak-anak. Para laki-laki pun dijejer, lalu ditanyai soal tempat persembunyian pejuang republik. Biasanya, kalau tidak ada yang mengaku, maka seorang mata-mata dipergunakan untuk menunjuk orang.

Adik laki-laki dari kakek saya adalah salah satu orang “korban tunjuk”. Ia ditunjuk oleh seorang mata-mata yang sengaja dipasang oleh Belanda. Ia dieksekusi dengan pistol oleh pasukan Belanda. Padahal, ia sebetulnya bukan pejuang ataupun pengacau; ia dieksekusi karena ditunjuk oleh seorang mata-mata.

>>>

Tetapi banyak orang yang meragukan bahwa korban pembersihan ala Westerling itu benar-benar mencapai 40 ribu jiwa. Menurut Prof. Dr. Rasyid Asba, guru besar ilmu sejarah di Universitas Hasanuddin, angka korban sebesar 40 ribu jiwa itu bukanlah angka yang sebenarnya.

Katanya, klaim korban 40 ribu jiwa itu berasal dari Kahar Muzakkar, seorang putra Bugis yang turut berjuang di Pulau Jawa. Saat itu, Bung Karno mengajak bangsa Indonesia berduka atas meninggalnya 40 penumpang kereta akibat tindakan Belanda. Kahar pun mengomentari pernyataan Bung Karno itu. Katanya, di Sulsel korban mencapai 40 ribu jiwa, tetapi tidak mencuri perhatian pemerintah pusat dan tidak dijadikan hari berkabung nasional.

Salim Said, ketika mewancarai Kapten Westerling pada tahun 1969, menyebut angka 40 ribu jiwa itu sebagai “klaim politik” Kahar Muzakkar. Salim Said menyamakan klaim politik Kahar Muzakkar itu dengan klaim bahwa Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun lamanya. Westerling sendiri, dalam pengakuannya kepada Salim Said, mengaku jumlah korban hanya 463 orang.

Tahun 1947, delegasi Republik Indonesia menyampaikan kepada Dewan Keamanan PBB, bahwa jumlah korban pembantaian terhadap Sulsel oleh Westerling mencapai 40.000 jiwa. Sedangkan pemeriksaan Pemerintah Belanda tahun 1969 memperkirakan sekitar 3.000 rakyat Sulawesi tewas dibantai oleh Pasukan Khusus pimpinan Westerling

Menurut penuturan H Maulwi Saelan, mantan pengawal Bung Karno, daerah yang terkena operasi ini mencapai 13 daerah: Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene, Barru, Sidenreng Rappang, Pinrang, Polewali, dan Mandar.

Dengan luasnya eskalasi operasi, juga dilakukan merata di setiap kampung, maka bisa diperkirakan jumlah korban memang sangat bisa mencapai puluhan ribu.

Akan tetapi, menurut saya, terlepas dari perdebatan soal angka pasti jumlah korban, satu hal yang tak bisa diabaiakan: bahwa rakyat Sulsel telah turut berkorban jiwa dan raga demi mengusir kolonialisme di bumi pertiwi ini. Apa yang dilakukan oleh rakyat Sulawesi Selatan setidaknya sebagai pelengkap betapa heroiknya perjuangan bangsa Indonesia mengusir kolonialisme.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • anangdante

    Orang sul-sel tdk bisa ditekan. Rakyat sul-sel adl rakyat yg semangatnya berkobar- kobar, hingga saat ini…!!!