Mengenang Kawan Wens, Si Militan Dari Pegunungan Kelimutu

Wens

Adakah duka lebih duka yang kita punya
kawan meninggal dan darahnya kental di pipi
tapi kenangan kesayangan punya tempat dalam hati
Adakah tangis lebih tangis yang kita punya
badan lesu dan napas sendat di dada
tapi hasrat dan kerja berkejaran dalam waktu
–Sabar Anantaguna

“Kalian datang begini saya rasa jadi hidup lagi…” Demikian lontaran kata-kata Wens saat kami bertandang ke rumahnya yang sederhana di Desa Nduaria, Kecamatan Kelimutu, Ende, akhir Juli 2015 lalu. Sudah hampir satu tahun Wens terbaring sakit. Kanker kelenjar getah bening telah menggerogoti tubuh kekarnya hingga hanya menyisakan sosok kurus dan pucat. Ia hanya terbaring di atas dipan bambu beralaskan seprei dan perlak, dengan selembar selimut berwarna biru yang menghalau dingin udara pegunungan Kelimutu. Untuk sekedar duduk pun sudah sulit baginya. Otot-otot di kedua kakinya telah kehilangan rasa, lumpuh, kian mengecil dari waktu ke waktu. Tentu itu bukan hal yang mudah bagi siapapun yang mengalami, apalagi bagi seorang Wens.

Lahir dari keluarga petani sederhana tahun 1976, Wenseslaus Sen, nama lengkapnya, dikenal sebagai seorang aktivis yang cerdas dan militan di Kabupaten Ende. Kiprahnya telah dimulai sejak tahun 2006, ketika pertamakali membentuk Forum Pemuda Nduaria untuk Demokrasi. Kegiatan mereka, antara lain, melakukan advokasi terhadap petani di Desa Kuru, Kecamatan Kelimutu, yang saat itu tengah memperjuangkan lahannya agar tidak dijadikan tempat membangun markas Korem. Perjuangan mereka berhasil. Markas Korem Ende tidak jadi dibangun di Desa Kuru sebagaimana direncanakan.

Bersama dua kawannya, Rustam Efendi Saleh (Refis) dan Eustobio Rero Renggi (Cekos), Wens kemudian mulai melakukan pengorganisiran mahasiswa di Kota Ende, sehingga pada tahun 2007 terbentuklah organisasi Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) di kota tempat pengasingan Bung Karno tersebut. Setelah terjadi kaderisasi di mahasiswa, Wens kemudian kembali ke wilayah pengorganisiran yang dirasa lebih cocok sebagai habitatnya, yakni petani.

Tahun 2008 ia kembali harus berhadapan dengan rencana pembangunan Markas Korem Ende. Kali ini di lahan milik Suku Paumere di Kecamatan Nangapenda. Wens sadar benar, bahwa tanah adalah sumber hidup utama bagi kaum tani. Rencana pembangunan fasilitas non-pertanian di atas lahan pertanian akan menggusur kehidupan mereka untuk selamanya.

Penulis teringat, di tahun 2009, ketika ditugaskan sebagai calon anggota legislatif di daerah pemilihan NTT I, kami tidak mengalami kesulitan untuk masuk ke desa-desa yang paling terpencil sekalipun. Bagaimana masyarakat menerima kami dengan sangat baik, meskipun sebagai caleg, logistik yang tersedia jauh dari mencukupi untuk sekedar membuat pertemuan-pertemuan kecil. Di beberapa tempat, seperti di Desa Kuru, sang Kepala Desa sukarela mengorbankan ternaknya untuk disembelih sebagai lauk-pauk saat pertemuan. Hal-hal seperti ini hanya mungkin terjadi karena telah didahului seorang Wens sebagai “pembuka jalan”.

Kesadarannya tentang kehidupan petani tidak sebatas mengadvokasi masalah tanah. Ia mendampingi petani di beberapa desa untuk memajukan produksi dengan membentuk koperasi, serta mengajari petani mengakses internet. Menyadari pentingnya organisasi bagi petani, Wens kemudian melakukan konsolidasi petani dari beberapa kecamatan di Kabupaten Ende untuk kemudian membentuk Komite Tani Ende (KoTa Ende) yang berafiliasi ke Serikat Tani Nasional (STN).

Pada konferensi petani se-Ende di akhir tahun 2008 Wens terpilih sebagai Ketua. Namun sosok ini sangat sulit ditemui di kota. Sebagian besar waktunya berada di pedesaan, hidup bersama petani dan orang-orang miskin. Pernah penulis alami, mendatangi desa-desa yang telah diorganisir oleh Wens. Bersama kami lewati jalan gunung berbatu yang teramat parah rusaknya, dan melintasi sungai-sungai dangkal yang belum dijangkau oleh kendaraan umum karena buruknya infrastruktur.  Kami menggunakan sepeda motor, tapi saat dilakukannya sendiri, Wens hanya berjalan kaki. “Tuhan ada bersama orang-orang miskin”, kata Wens ketika mendiskusikan masalah Ketuhanan dalam hubungan dengan keberpihakan politiknya.

Menurut Laurens Ritan, kader Partai Rakyat Demokratik (PRD) di kabupaten Sikka, sejak dilantik sebagai Kader PRD tahun 2008, Wens tidak hanya fokus mengorganisir petani kabupaten Ende. Bersama Laurens ia turut mengorganisir petani di kabupaten Sikka sampai ke Flores Timur. “Wens adalah kawan yang selalu memberi semangat saat kami lesu. Ia tidak pernah mengeluh. Ia adalah pribadi yang luar biasa,” ujar Laurens.

Wens juga terlibat sebagai inisiator pembangunan organisasi Aliansi Pedagang Ikan (API) di Ende tahun 2012. Di tahun 2013 ia terpilih sebagai Ketua Komite Pimpinan Kabupaten Partai Rakyat Demokratik (KPK PRD) Ende.

Dengan kiprahnya yang nyaris tidak pernah bisa diam, dapat dipahami bila ia merasa telah “mati” ketika harus terbaring tidak berdaya. “Saya ingin sekali menulis, tapi keyboard laptop ini sudah tidak berfungsi”, katanya sembari menunjuk laptop tua nan lusuh di meja samping dipannya. Memang saya sarankan ia menulis sebagai aktifitas yang paling memungkinkan di kala sakit.

Sebelumnya, saat masih sehat, rumah yang kami singgahi di Nduaria itu hanya ia datangi ketika rindu keluarga; sang ayah, seorang kakak perempuan, ipar dan keponakannya. Kami menghabiskan waktu satu setengah jam tanpa terasa dalam perbincangan hangat. Kopi yang dihidangkan di ruang tamu terpaksa dibawa ke dalam biliknya, karena waktu yang begitu disayangkan. Ia tampak benar-benar ‘hidup’ ketika pembicaraan kami sampai ke soal-soal politik dan organisasi. “Tolong kirimkan saya buku-buku tentang ekonomi pertanian, saya ingin praktekkan ketika sembuh nanti,” pesannya ketika hari mulai gelap dan kami akan pamit.

Saya menyanggupi permintaan sederhana itu. Tapi janji belum sempat saya penuhi, hari Minggu, 13 September 2015, seorang kawan dari Ende mengabarkan berita duka, Wens berpulang pukul 03.00 dini hari. “PRD NTT telah kehilangan salah satu kader terbaiknya”, kata pimpinan PRD NTT, George Hormat Kulas, di media sosial. Ya, Wens memang salah satu yang terbaik, jika bukan yang terbaik di antara yang terbaik.

Selamat jalan, Kawan.. Semangatmu abadi.

Jakarta, 14 September 2015

Dominggus Oktavianus, Sekretaris Jenderal Partai Rakyat Demokratik (PRD)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • georgehormat

    Selama mengenal dirinya, tak pernah sekalipun saya mendengarnya
    mengeluhkan beratnya beban perjuangan. Ia nyaris tak pernah muncul di
    media sosial, karena–semua yang mengenalnya tahu–hidupnya diabdikan
    pada pengorganisasian petani di Ende, Sikka, dan Flores Timur. Selamat
    jalan, bung. Hidupmu adalah suluh tak kunjung padam bagi para pelanjut
    angkatan.

  • yono beding

    Luar biasa SAUDARA.. Wens.. sepenggal alkisah dari duniaMu tentang pribadimu sampai pd kesimpulan bahwa kamu punya idealisme yg tak pernah mati bersama jasadmu sobat. Saya kagum padamu kwan. RIP.

  • Saddam Tjahyo

    Ikut berduka cita atas kepergianmu kawan Wens, berkali-kali aku mendengar kabar sakitmu, tapi apa daya tak sanggup ku datang sekedar menghibur dan berkenalan, karena dari banyak cerita kawan, engkau adalah seorang teladan yang patut dipetik pengalamannya. Semoga kawan2 PRD NTT yang merasakan langsung kehilangan ini senantiasa bangkit mencipta Wens-Wens yang baru, yang melanjutkan cita-cita perjuangannya..
    Salam duka ku pada keluarga besarmu yang semoga senantiasa berbijaksana..

    Saddam Cahyo.