Mengenang Gus Dur

Tepat satu tahun sudahbangsa ini kehilangan sosok almarhum KH. Abdurrahman Wahid, atau akrab disapa Gus Dur. Di sejumlah tempat terselenggara acara haul (peringatan tahunan meninggalnya), yang dihadiri kerabat keluarganya, santri, dan masyarakat umum. Begitu banyak hal yang bisa dipelajari oleh bangsa ini maupun bangsa lain dari gagasan besar dan kehidupan almarhum. Semasa hidupnya, oleh sebagian kalangan, Gus Dur dianggap sosok kontroversial karena gagasan-gagasannya yang sering kali lebih maju satu atau beberapa langkah dibanding pemahaman umum terhadap topik yang disampaikan.

Satu di antara sekian banyak gagasan besarnya, adalah usulan agar TAP MPRS/XXV/1966 tentang larangan ajaran Marxisme-Leninisme dicabut. Usulan ini didahului permintaan maaf kepada keluarga korban tragedi kemanusiaan pasca peristiwa G30S, khususnya atas terlibatnya unsur Nahdilin dalam histeria anti-komunis (dan anti-soekarnois) yang dihembuskan Soeharto beserta gengnya. Tidak seperti orde baru dan para penerusnya, bagi Gus Dur, ajaran komunisme sama sekali bukanlah ancaman terhadap bangsa Indonesia, maupun ancaman terhadap agama Islam yang setia dianutnya. Justru dalam salah satu kolomnya Gus Dur menulis irisan-irisan gagasan komunisme dengan dunia Islam dengan mengambil contoh sejarah beberapa negara seperti Libya, Mesir, Irak, Iran, dan Syria.

Gagasan besar lainnya hadir dalam menyikapi konflik berkepanjangan di Timur Tengah, antara Israel dan Palestina. Gus Dur tidak memilih untuk ikut menghakimi Israel, tetapi tidak juga dalam rangka membela kekejaman-kekejamannya atas rakyat Palestina. Gus Dur berpendapat bahwa tidak mungkin perdamaian bisa tercapai di Timur Tengah bila tidak menyertakan Israel sebagai pihak yang perlu diajak berdialog. Sikap dan pendapat ini tentu dapat diulas secara lebih mendalam, untuk mengetahui kebenaran atau kekurangannya. Namun pastinya, dengan ini, Gus Dur telah meninggalkan sebuah pendekatan alternatif terhadap persoalan yang mengganjal bagi dunia Islam. Gus Dur tidak bersikap munafik seperti sebagian kalangan di Indonesia, yang seolah paling keras menolak berhubungan dengan Israel, tapi di sisi lain berhubungan mesra dengan negara pemasok senjatanya (Amerika Serikat).

Masih banyak lagi gagasan dan sikap Gus Dur yang dapat diingat, diulas, dan mungkin diperdebatkan kembali saat ini. Sikapnya yang konsisten mengenai kebebasan manusia, desakralisasi lembaga-lembaga tinggi negara, dan persatuan nasional dalam perbedaan (kebangsaan) adalah aspek lain yang sangat menonjol. Pendapat-pendapat Gus Dur ini berlandaskan pembacaannya yang mendalam terhadap berbagai gagasan besar di dunia, serta pengalamannya menapaki realitas hidup, sejak dari pesantren, bersekolah di luar negeri, dan kembali berkiprah di dalam negeri. Luasnya pengetahuan yang dipadu kebesaran jiwa telah menempatkan Gus Dur sebagai salah satu tokoh bangsa terpenting dalam sejarah Indonesia. Karenanya Gus Dur bukan hanya pantas dikenang, tapi gagasan dan teladannya tetap dibutuhkan untuk menjawab berbagai persoalan bangsa saat ini. Meskipun, mungkin, menanggapi ini semua Gus Dur hanya akan kembali berujar “Ah, gitu aja kok repot!” Semoga damaimu abadi, Gus.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut