Mengenalkan “Bumi Manusia” Dalam Budaya Populer

Belakangan ini media sosial diramaikan dengan meluncurnya trailer film Bumi Manusia karya sutradara Hanung Bramantyo yang direncanakan tayang pada tanggal 15 Agustus 2019 mendatang. Seperti diketahui, Bumi Manusia adalah salah satu dari roman tetralogi Pulau Buru karya penulis besar Pramoedya Ananta Toer yang fenomenal  serta sempat mendapatkan pelarangan edar di masa rezim Orde Baru.

Hal ini memunculkan banyak tanggapan, khususnya dari kalangan pembaca Pram yang idealis. Tak sedikit yang menyambut dan menanggapi hal ini dengan sikap yang skeptis (bahkan sikap itu sebenarnya sudah muncul jauh ketika wacana penggarapan film ini di umumkan setahun yang lewat). Salah satu faktor yang memancing keraguan para penggemar karya Pram terhadap film ini adalah aktor yang terpilih untuk memerankan Raden Mas Minke, yaitu aktor muda alumnus grup Boy Band remaja ala Korea bernama Cowboy Junior-bahkan keraguan juga sebenarnya muncul terhadap sang sutradara sendiri, sebab beberapa film sejarah garapan Hanung dinilai tidak mampu memenuhi ekspektasi penonton. Terutama karena lemahnya dukungan data dan sumber sejarah, sehingga membuat film-film hasil adaptasi sejarah atau fiksi karya Hanung terasa hambar jika tidak mau dikatakan gagal.

Tentunya khalayak dan para penggemar film tidak lagi asing dengan nama Iqbal Ramadhan yang identik dengan penggambaran dan ikon remaja milenial yang mempesona, menarik, serta mewakili semangat hedonisme kebanyakan generasi yang hidup di zaman serba digital seperti sekarang ini. Iqbal dinilai sama sekali tak mampu mewakili Minke yang digambarkan sebagai seorang pribumi terpelajar di masa kolonial, siswa HBS yang tengah jatuh cinta dan terpengaruh secara total oleh pendidikan dan pola pikir Eropa. Meskipun memang fase Bumi Manusia adalah fase awal; fase pembentukan karakter, mental, emosional, serta ideologi sosok Minke, namun rasanya masih sangat jauh jika harus di perankan oleh Iqbal Ramadhan.

Hal-hal diatas memunculkan banyak pendapat dari para pecinta film terlebih para pembaca Pram. Dan pendapat yang paling menarik perhatian adalah menyoal rating jumlah penonton yang diburu oleh rumah produksi film tersebut (dalam hal ini Falcon Pictures). Sebab poin ini semakin menegaskan bahwa keadaan dunia perfilman Indonesia yang di hegemoni kekuasaan modal sangatlah memprihatinkan. Berangkat dari sinilah banyak pembaca Pram idealis yang memprediksi bahwa film tersebut akan sangat melenceng dari apa yang hendak disampaikan Pram dalam novel aslinya. Bahkan mungkin jalannya cerita hanya akan terfokus pada kisah percintaan antara tokoh Annelies Mellema dan Minke yang memang akan memiliki nilai jual tinggi jika dipasarkan ke tengah-tengah remaja masa kini, apalagi dengan hadirnya sang aktor utama yang terlanjur memiliki kesan romantis dan perayu jika berkaca dari film-film sebelumnya yang ia bintangi.

Beberapa hal diatas menjadi kekhawatiran tersendiri dikalangan para Pramis, sampai-sampai muncul wacana pada segelintir penggemar Pram untuk menggelar diskusi atau bedah novel Bumi Manusia secara mendalam sebagai upaya men-counter komodifikasi dan pemerkosaan makna terhadap mahakarya Pram.

Namun alih-alih berusaha men-counter dengan upaya-upaya diatas, justru hal yang paling bijak untuk dilakukan dalam menyambut tayangnya film ini adalah sebagai berikut :

Pertama, sebagai generasi yang lelah dan jenuh di ninabobokan oleh beragam model aparatus ideologis mulai dari tayangan televisi, tuntutan gaya hidup, pergaulan hingga aturan-aturan yang membelenggu munculnya sikap kritis, kita mesti memandang penayangan film Bumi Manusia ini secara utuh, dewasa, visioner, dan tidak berlebihan.

Kedua, jangan terlalu menggebu nafsu seakan paling Pramis ketimbang Pram itu sendiri; fenomena inilah yang kerap muncul di kalangan para pembaca Pram yang obsesif.

Ketiga, anjuran khususnya kepada para pembaca Pram idealis, adalah bagaimana caranya mengapresiasi film ini supaya meledak dan merangkul minat penonton khususnya dari kalangan muda sebanyak mungkin. Sasarannya bukan lagi generasi milenial (gen Y) namun lebih jauh lagi menyasar gen Z akhir dan gen Alpha awal. Harapannya agar mereka tahu siapa itu Pram dan apa karyanya serta perannya dalam kesusastraan Indonesia. Hal ini menjadi alternatif mengenalkan karya Pram secara populer sebelum mengenalkan karya Pram secara substansial.

Jika upaya diatas -yaitu mengenalkan Minke yang untuk sementara terpaksa di ‘Iqbal’kan- meraih sukses yang gemilang. Maka selanjutnya para penonton khususnya dari kalangan muda bisa di dorong maju untuk mengenal Minke yang sesungguhnya seperti di dalam novel. Hal ini berkaca dari pengalaman tayang film berjudul Gie di tahun 2005 yang memiliki target pasar para pemuda-pemudi yang masa kecilnya sempat menyaksikan euforia reformasi ’98. Ketika itu dampak dari besarnya minat penonton untuk menyaksikan aktor Nicholas Saputra berperan sebagai Soe Hok Gie, sedikit banyak mampu menimbulkan gejolak yang berujung pada munculnya hasrat pelajar dan mahasiswa untuk menjadi aktivis.

Meskipun tak bisa pula untuk di pungkiri bahwa generasi yang hidup di masa ini adalah generasi yang terlanjur lena dengan segala hal yang serba instan dan digital yang kemudian secara otomatis memunculkan sikap apatis terhadap isu-isu berkenaan sosial, ekonomi dan politik. Contohnya, mereka akan lebih fasih menyebutkan nama para hero dalam game moba terbaru ketimbang mengetahui siapa itu Soeharto dan apa yang telah di perbuatnya. Apalagi membicarakan Pram beserta karyanya yang tebal.

Jadi kurang pas rasanya jika mereka dipaksa untuk memasuki forum-forum diskusi atau bedah buku yang didalamnya di jabarkan substansi-substansi dan maksud Pram dalam Bumi Manusia secara ilmiah dan teoritis. Alih-alih berharap mereka merasakan gairah dan letupan emosi yang dirasakan kebanyakan pembaca sejati usai membaca Pram, justru malah akan menimbulkan resisten dan memandang para Pramis idealis tak lebih sebagai kuda birahi yang memaksakan faham kedalam kepala mereka.

Dan hal terakhir yang mesti dilakukan, tentunya orang-orang yang mengaku sebagai penggemar Pram mesti datang ke bioskop-bioskop untuk menyaksikan film Bumi Manusia secara otentik, tidak melulu menunggu film tersebut beredar di situs-situs unduhan film ilegal. Hal ini dilakukan bukan dengan tujuan mengamini kapitalisasi industri perfilman Indonesia, namun jauh dari itu khususnya dalam konteks film Bumi Manusia hal ini adalah suatu bentuk apresiasi terhadap karya Pram yang diadaptasi sebagai film ditengah miskinnya budaya literasi bangsa ini.

Namun semua tergantung bagaimana Hanung Bramantyo meramu film ini serta bagaimana Iqbal Ramadhan mendalami sosok Minke. Jika film ini sukses dari segi cerita dan pengemasan serta tidak kehilangan cita rasa Bumi Manusia yang sesungguhnya maka hal ini akan menjadi angin segar di tengah memprihatinkannya perhatian kaum muda terhadap jati diri bangsanya. Namun sebaliknya jika film ini gagal secara ideologis, maka ini akan menjadi tanggung jawab bersama bukan hanya para pecinta sastra bertemakan pembebasan tapi semua aktivis yang mengharapkan kemajuan literasi di negeri tercinta ini.

Dodi Firmansyah, Pramis, penulis dan pernah tergabung di Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi Eksekutif Kota Bandar Lampung.

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid