Mengenal Presiden Baru Kuba: Miguel Diaz-Canel

Kuba akhirnya punya Presiden baru. Miguel Mario Diaz-Canel Bermudez, 57 tahun, ditunjuk oleh Majelis Nasional Kuba sebagai Presiden baru Kuba, Kamis (19/4/2018).

Yang menarik, Miguel Diaz-Canel adalah pemimpin Kuba yang lahir setelah revolusi 1959. Berbeda dengan pendahulunya, Fidel dan Raul Castro, yang merupakan aktor langsung dari revolusi Kuba 1959.

Miguel lahir tanggal 20 April 1960, di provinsi Villa Clara, Kuba. Setelah tamat dari Universidad Central “Marta Abreu” de Las Villas, tahun 1982, dia sempat menjadi bagian dari Angkatan Bersenjata Revolusioner Kuba.

Tak lama kemudian, dia mengajar di almamaternya. Selain itu, dia bergabung dengan Liga Komunis Muda (YCL) Kuba. Tahun 1987, sebagai sekretaris YCL Villa Clara, dia mengikuti sejumlah misi kemanusiaan di Nikaragua.

Tahun 1990-an, dia bergabung dengan partai Komunis Kuba. Di tahun 1993, dia menjabat sekretaris satu di kepemimpinan partai komunis di Provinsi Villa Clara. Saat itu, dia aktif memperjuangkan pengakuan terhadap hak-hak LGBT.

Jalan politik Miguel di partai komunis berjalan sangat mulus. Dalam waktu singkat, dia menduduki posisi kunci kepemimpinan partai di Provinsi Villa Clara dan Holguín. Lalu, di tahun 2013, dia sudah masuk lingkaran elit partai sebagai anggota Politbiro atau Biro Politik.

Tahun 2009, karena perhatiannya pada isu-isu pendidikan, dia ditunjuk sebagai Menteri Pendidikan Tinggi Kuba. Kemudian, di tahun 2012, dia menduduki jabatan sebagai wakil Dewan Menteri.

Setahun kemudian, dia ditunjuk sebagai Wakil Presiden Kuba. Yang unik, dia menjadi orang pertama di luar lingkaran pelaku revolusi Kuba yang menduduki posisi sangat penting itu.

Disambut Barat

Penunjukan Miguel sebagai Presiden baru Kuba mendapat sambutan hangat dari media-media barat. Selain karena orang pertama yang menduduki posisi kunci di pemerintahan Kuba dari luar aktor revolusi, Miguel juga dianggap bergaya dan berpikiran modern.

Sehari-hari, sebagai pejabat tinggi, Miguel lebih sering mengenakan jas, kemeja, kaos, dan jeans. Berbeda dengan Fidel maupun Raul yang kerap mengenakan seragam militer atau pejuang.

Selain itu, dia tak canggung mendengar musik barat, terutama rock n roll. Namun, bagi sebagian besar rakyat Kuba, Miguel juga adalah politisi yang sederhana.

Miguel juga merupakan salah satu pemimpin Kuba yang berjuang untuk memassalkan internet di Kuba. Tentu saja, bagi barat, internet massal akan membuka peluang untuk membuka corak berpikir orang-orang Kuba.

Melanjutkan Revolusi

Jabatan Presiden di Kuba bukanlah jabatan istimewa. Berbeda dengan negara yang menganut sistim presidensial, Kuba lebih condong ke semi-parlementer.

Presiden Kuba tidak bisa mengambil kebijakan sendirian. Semua kebijakan harus melalui Dewan Negara, yang beranggotakan 31 orang. Seluruh anggota Dewan Negara, termasuk Presiden di dalamnya, dipilih oleh Majelis Nasional Dewan Rakyat—semacam parlemen rakyat Kuba.

Dengan demikian, orang yang menjadi Presiden Kuba tidak bisa serta merta bisa memutar haluan kebijakan ekonomi dan politik negeri berhaluan sosialis itu.

Selain itu, Miguel juga dikenal sebagai kader loyal partai komunis. Dalam berbagai kesempatan pidato, dia tidak pernah lupa menggunakan kutipan atau jargon-jargon marxisme.

Dalam pidato pengangkatannya, Miguel berjanji untuk melanjutkan revolusi Kuba. Artinya, dia akan mempertahankan Kuba sebagai negara sosialis.

“Mandat yang diberikan oleh rakyat lewat Majelis ini adalah melanjutkan revolusi Kuba di momen bersejarah ini,” kata Miguel.

Terkait politik luar negeri, dia menegaskan bahwa Kuba tidak akan berkompromi dalam kebijakan luar negerinya. Namun demikian, dia membuka ruang dialog dengan negara manapun yang menghargai Kuba sebagai negara merdeka.

Dia juga menjanjikan modernisasi model ekonomi dan sosial Kuba, sebagaimana sudah dirintis oleh pendahulunya, Raul Castro.

Di penghujung pidato, Miguel mengangkat tangan kiri terkepal meninju ke udara, lalu meneriakkan slogan revolusi Kuba: “tanah air atau mati, sosialisme atau mati, kami akan menang,”

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut