Mengapa McDonald’s Gagal Di Bolivia?

Bolivia akan menjadi negara Amerika Latin pertama yang merdeka dari McDonald’s? Pasalnya, 14 tahun kehadiran raksasa restoran siap saji itu di Bolivia, dengan dukungan promosi dan jaringan, mereka tetap saja mendapat “rapor merah”.

Akhirnya, pada akhir Desember tahun lalu, McDonald’s resmi menutup 8 restoran terakhirnya di kota-kota utama di Bolivia: La Paz, Cochabamba dan Santa Cruz de la Sierra. McDonald’s akhirnya benar-benar angkat kaki dari Bolivia.

Ini tentu sangat mengagetkan. McDonald’s memiliki 33.000 restoran di seluruh dunia, termasuk 1 di Kuba dan 1 pangkalan angkatan laut AS di Guantanamo, dan melayani sedikitnya 58 juta orang di dunia setiap hari.

McDonald’s muncul pertama kali di Bolivia tahun 1997. Di buka di distrik Calacoto, sebuah daerah kaya di La Paz, restoran siap saji ini segera diserbu pengunjung. Konon, pelanggan harus antre dua jam hanya untuk mencoba rasa makanan yang kelihatan begitu nikmat di iklan-iklan itu.

Tapi, baru saja dibuka, McDonald’s mulai sepi pengunjung.  Akhirnya, pada tahun 2002, raksasa restoran dunia ini dipaksa menutup 8 restorannya di Bolivia.

Apa alasannya? Sebuah cerita yang dibuat BBC di tahun 2002 menyebutkan: harga makanan di McDonald’s terlalu mahal untuk negeri miskin seperti Bolivia. Dengan harga yang cukup mahal itu, makanan McDonald’s dianggap tidak kompetitif di pasar.

Menurut analisa itu, di negeri dengan pendapatan rakyatnya tak lebih dari £50 perbulan, tentu orang berfikir untuk berbelanja £2 hanya untuk hamburger dan kentang goreng.

Akan tetapi, ternyata bukan itu jawabannya. Sebuah film terbaru karya Fernando Martinez, Por Que Quebró McDonald’s en Bolivia, (Why McDonalds Went Bankrupt in Bolivia), berhasil mengungkap aspek kulturan dan sosial mengapa makanan siap saji tidak cocok dengan rakyat Bolivia.

Film yang pernah berpartisipasi di Göteborg International Film Festival, di Swedia, ini juga mengangkat soal makanan khas Bolivia sebagai bagian dari identitas budaya bangsa.

Sang pembuat film berusaha mewancarai koki, sosiolog, ahli gizi, akademisi, dan sejarahwan. Di situ diketahui, rakyat Bolivia bukan menolak hamburger atau cita-rasa makanannya. Akan tetapi, mentalitas kebudayaan orang Bolivia menentang konsep “makanan siap saji”.

Di Bolivia, makanan yang dimakan harus dipersiapkan dengan baik. Jadi, selain soal cita-rasa, juga ada soal pemeliharaan, kebersihan, dan tata-cara penyiapan: makanan harus disiapkan dengan cinta, dedikasi, dan waktu masak yang tepat.

Selain itu, yang sering dilupakan oleh orang di barat, Bolivia adalah negara yang kaya dengan budaya dan keragaman jenis makanan. Hamburger, dengan cita-rasa lokal, juga tersedia banyak di pasar-pasar tradisional di Bolivia. Rakyat Bolivia lebih senang dengan salteñas, majao, chanka de pollo dan lain-lain.

RAYMOND SAMUEL

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut