Mengapa Mahasiswa Venezuela Menentang Revolusi?

Dua puluh empat tahun yang lalu, rakyat Venezuela memberontak terhadap kebijakan neoliberal. Saat itu, tepatnya 27 Februari 1989, rezim sayap kanan Carlos Andrés Perez menaikkan harga bensin. Protes pun muncul di seantero Venezuela.

Rezim Carlos Perez memutuskan mengirim tentara untuk menindas perlawanan rakyat itu. Korban berjatuhan di jalan-jalan. Tercatat 3000-an rakyat Venezuela gugur dalam peristiwa itu. 2000-an orang lainnya hilang sejak peristiwa “Jumat Berdarah” itu. Itulah yang dikenang sebagai peristiwa “Caracazo”.

Yang patut dicatat, gerakan mahasiswa berada di garda depan pemberontakan Caracazo tersebut. Pusat pertama pemberontakan, yaitu Guarenas, adalah kawasan pelajar dan mahasiswa di Caracas.

Caracazo ini punya arti besar bagi perjuangan anti-neoliberal di Venezuela. Tiga tahun kemudian, 4 Februari 1992, sejumlah anggota militer yang terinspirasi pemberontakan rakyat itu juga melancarkan pemberontakan. Pemberontakan ini dipimpin oleh Kolonel Hugo Chavez.

Tanggal 27 Februari lalu, rakyat Venezuela kembali memperingati peristiwa Caracazo itu. Tak hanya itu, ratusan ribu rakyat yang turun di jalan-jalan kota Caracas juga memberi dukungan kepada pemerintahan Hugo Chavez dan keberlanjutan revolusi Bolivarian.

Namun, di tempat terpisah, juga di kota Caracas, segelintir mahasiswa juga menggelar protes. Mereka mengecam pemerintahan Chavez yang tidak menjalani sumpah untuk masa jabatan barunya. Mereka kemudian memblokir jalan di depan kantor pengadilan Caracas.

Januari lalu, di kota Andean Merida, sekelompok mahasiswa juga menggelar protes. Mereka membakar bendera Kuba dan patung Fidel Castro. Tak terima dengan ulah mahasiswa itu, rakyat kota Merida juga menggelar mobilisasi besar-besaran untuk membela Kuba dan revolusi.

Para mahasiswa ini berasal dari dua organisasi mahasiswa oposisi, yakni Gerakan 13—kelompok mahasiswa ultra-kanan dari Universitas Los Andes—dan Persatuan Pemuda Aktif Venezuela (JAVU).

JAVU sendiri diketahui sangat dekat dengan organisasi kaum exile Venezuela (ORVEX), yang berbasis di Miami, Amerika Serikat, tempat semua pelarian politik Amerika Latin tinggal. Termasuk para pembangkang Kuba.

Memang, sejak revolusi Bolivarian di bawah pimpinan Chavez bergulir di Venezuela, gerakan mahasiswa telah memainkan peran sebagai oposisi paling terdepan. Di Venezuela, gerakan mahasiswa telah identik dengan oposisi dan penentang Revolusi.

Pada tahun 2005, sayap kanan Universitas di Venezuela juga berhasil memobilisasi mahasiswa di bawah payung “otonomi perguruan tinggi” untuk menyerang pemerintahan Chavez. Mereka menolak UU pendidikan baru yang memungkinkan orang miskin bisa mengakses Universitas.

Kemudian, atas nama “Kebebasan Pers”, mahasiswa juga mati-matian membela stasiun TV swasta, RCTV, yang terlibat dalam kudeta terhadap Chavez di tahun 2002 dan menjadi pusat kebohongan/disinformasi terkait situasi di Venezuela. Chavez memutuskan tidak memperpanjang lisensi media tersebut.

Memang, tidak semua mahasiswa di Venezuela menjadi pendukung oposisi. Tetapi, harus diakui, sektor mahasiswa telah menjadi kekuatan terlemah di dalam gerakan Bolivarian.

Represi Dan Reformasi Neoliberal

Posisi yang diambil oleh mahasiswa Venezuela jelas ironis. Pertama, posisi yang diambil mahasiswa Venezuela bertolak-belakang dengan saudara-saudaranya di Amerika Latin, seperti di Meksiko, Chile, dan Kolombia. Di negara-negara tersebut, gerakan mahasiswa telah menjadi kekuatan penting dalam penolakan terhadap neoliberalisme. Namun, di Venezuela, mahasiswa justru menjadi elemen reaksioner pendukung Neoliberalisme.

Kedua, posisi mahasiswa Venezuela saat ini bertolak belakang dengan sejarah panjang gerakan mahasiswa Venezuela di masa lalu. Sepanjang 1960-an hingga 1970-an, gerakan mahasiswa Venezuela tercatat sebagai gerakan mahasiswa paling militan di Amerika Latin.

Pada periode itu, dengan terinspirasi oleh Revolusi Kuba, gerakan mahasiswa melakukan gerakan bawah tanah melawan puntofijismo, sebuah demokrasi yang dikarakterisasikan oleh pembagian kekuasaan diantara dua partai: Accion Democratica (AD) dan COPEI. Demokrasi Punto Fijo membawa Venezuela dalam kekacauan ekonomi, sosial, dan politik.

Saat itu, hampir setiap hari terjadi pembunuhan aktivis mahasiswa. Beberapa kali juga kampus ditutup. Seorang aktivis mahasiswa,  Domingo Salazar, dibunuh penguasa Punto Fijo tahun 1979. Kata-kata Domingo Salazar masih terpahat di sebuah mural di Universitas Los Andes, Merida: “Mereka mengatakan kita adalah masa depan, namun mereka membunuh kita sekarang.”

Represi dan pembunuhan aktivis mahasiswa berlanjut hingga 1980-an. Terjadilah peristiwa “pembantaian Cantaura” terhadap anggota Bandera Roja (Bendera Merah) di tahun 1982 dan pembantaian Yumare terhadap aktivis mahasiswa kiri lainnya di tahun 1986.

Jaman itu, kendati ada yang namanya “Otonomi Kampus”, tank dan tentara berkali-kali menerobos masuk kampus dan membantai mahasiswa. Rafael Caldera, Presiden kanan Venezuela dari tahun 1993 hingga 1998, tercatat pernah mengirimkan tank perang ke kampus Central University of Venezuela dan menutup kampus itu selama setahun.

Perlawanan mahasiswa berlanjut hingga 1980an. Termasuk mengambil peranan dalam pemberontakan rakyat “Caracazo” di tahun 1989. Namun, seiring dengan periode itu, rezim neoliberal menerapkan reformasi neoliberal di perguruan tinggi di Venezuela.

Akhirnya, seperti dijelaskan Professor Miguel Angel Hernandez, seorang sosiolog di Central University of Venezuela, sejak itu gerakan mahasiswa mulai menderita kekalahan. Biaya kuliah melonjak tinggi dan proses penerimaan mahasiswa diperketat.

Kemudian, seiring dengan reformasi neoliberal di perguruan tinggi Venezuela, komposisi sosial mahasiswa di Universitas juga berubah. Universitas, yang sebelumnya bisa diakses anak klas pekerja dan kaum miskin, menjadi eksklusif dan hanya bisa dinikmati oleh anak dari klas menengah dan elit. Jumlah orang miskin di Universitas di Venezuela tak melebihi 7 persen pada tahun 1990an.

Dengan demikian, ketika Chavez menang di pemilu 1998, situasi kampus di Venezuela sudah didominasi anak-anak dari kalangan klas menengah dan kalangan elit. Aktivis mahasiswa militan dan radikal sudah menghilang ketika Chavez berkuasa. Kampus-kampus di Venezuela ditandai dengan dominasi budaya hedon dan pemisahan mereka dari realitas rakyat di sekitarnya.

Dengan demikian, mahasiswa kanan di Venezuela ini sebetulnya mewakili kepetingan kaum elit Venezuela, kelompok sosial yang saat ini terancam oleh Revolusi Bolivarian. Banyak diantara mahasiswa terperangkap retorika oposisi, bahwa mereka tidak punya masa depan ketika Revolusi masih berlanjut. Maklum, ketika neoliberalisme masih berlangsung, mahasiswa-mahasiswa ini menikmati perlakuan istimewa, termasuk dalam pekerjaan dan jabatan.

Demokratisasi Universitas

Sekarang ini pemerintahan Chavez sedang berjuang untuk mendemokratiskan Universitas di Venezuela. Maksudnya, universitas di Venezuela harus bisa diakses oleh seluruh rakyat, termasuk sektor paling miskin.

Salah satunya melalui Universitas Bolivarian Venezuela (UBV), yang telah dibuka untuk seluruh rakyat. Selain itu, sejak tahun 2003, melalui program Misi Robinson, pemerintah Venezuela membuka kesempatan kepada mereka yang putus kuliah untuk menuntaskan pendidikan mereka.

Selain itu, melalui Komisi Presiden untuk Kekuasaan Rakyat Mahasiswa (CPPE), pemerintahan Chavez berusaha memfasilitasi mahasiswa yang mendukung revolusi untuk duduk bersama. CPPE juga menyelenggarakan debat terkait partisipasi mahasiswa dalam revolusi.

Sekarang ini sudah mulai berdiri kembali organisasi mahasiswa revolusioner, seperti Juventud y Cambio (Pemuda dan Perubahan)—bertansformasi menjadi Institut Pemuda Nasional (INJ), Federasi Pelajar Bolivarian (FBE), dan Frente Francisco de Miranda (FFM). Aktivis FFM telah berkontribusi banyak dalam mendukung revolusi Bolivarian, termasuk menjalankan misi sosial pemerintahan Chavez.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut