Menengok Sukses Pertanian Kota Kuba

Kalau mau belajar pertanian, datanglah ke Kuba. Negara yang sudah tertempa oleh revolusi itu punya cerita sukses di bidang pertanian. Sistem pertanian organik Kuba mendapat pujian di mana-mana.

Nah, salah satu kisah sukses kuba adalah pertanian kota (urban agriculture). Inilah yang disebut “organoponicos”. Saat ini, Kuba punya lebih 7000-an organoponicos. Selain itu, pertanian kota menempati 3,4% lahan perkotaan.

Di Havana, ada 8% lahan yang diperuntukkan untuk pertanian. Hasilnya, organoponicos menyuplai 90% kebutuhan sayuran di Havana. Mungkin Havana satu-satunya kota di dunia yang bisa melakukan itu.

Organoponicos punya cerita heroik.

Sebelum revolusi, hampir separuh lahan di Kuba hanya dikuasai 1 % tuan tanah. Akhirnya, setelah revolusi, tanah itu dinasionalisasi. Dengan sokongan Soviet, Kuba mulai menjalankan mekanisasi pertanian.

Masalah mulai muncul ketika Uni Soviet runtuh. Dalam setahun kehilangan 80% perdagangannya. Pupuk menghilang di pasar. Bahan bakar untuk menggerakkan mesin-mesin berkurang. Itulah yang disebut “periode khusus”.

Tak hanya itu, embargo ekonomi AS juga digencarkan saat itu. Kuba sangat kesulitan mendapatkan mitra-dagang. Impor juga sangat sulit dilakukan. Akibatnya, ekonomi Kuba diambang porak-poranda.

Pertanian Kuba ikut runtuh. Tahun 1993, Kuba memasuki krisis bahan makanan. Organisasi Pangan PBB (FAO) mencatat, asupan kalori orang Kuba jatuh dari 2600 pada akhir 1980-an menjadi 1000 kalori per-hari pada tahun 1993. Kuba terperosok dalam kelaparan.

Akan tetapi, manusia yang terdidik revolusi tak patah akal. Saat itu, rakyat Kuba mengambil inisiatif menanam sayur dan buah di balkon-balkon, pot-pot kosong, dan atap-atap rumah. Sekedar untuk diketahui, 75% rakyat Kuba tinggal di perkotaan. Namun, sebagian besar mereka berasal dari desa dan punya latar-belakang petani.

Pemerintah Kuba merespon inisiatif rakyat itu. Kementerian pertanian Kuba segera mengorganisasikan pertanian keluarga itu. Tak hanya itu, pemerintah juga menyediakan lahan, menyiapkan bibit, dan pusat-pusat konsultasi pertanian. Berdirilah organoponicos di seluruh negeri dalam bentuk pertanian skala kecil dan koperasi.

Akhirnya, krisis pangan teratasi. Pada Maret 1998, kira-kira 50% produksi sayuran Kuba didapatkan dari pertanian kota. Lalu, pada tahun 2008, sistem pertanian perkotaan di Kuba menghasilkan lebih dari 1,4 juta ton makanan. Pada tahun 2000, tingkat asupan kalori rakyat Kuba berhasil dikembalikan ke 2600 kal/hari.

Pada tahun 2003, pertanian kota telah menyeret 200 ribu orang bekerja di dalamnya. Dengan demikian, pertanian kota juga berkontribusi dalam mengurangi tingkat pengangguran.

Pertanian kota mengubah pola konsumsi rakyat Kuba. Saat ini, rakyat Kuba lebih banyak mengkonsumsi sayur-sayuran. Alhasil, pola konsumsi itu membantu menurunkan penderita penyakit jantung hingga 25%.

Beberapa kebun organik juga menanam obat-obat herbal. Obat-obat itu didistribusikan oleh kementerian kesehatan ke berbagai apotik, rumah sakit, dan klinik. Banyak dokter Kuba mendapat pelatihan terkait penggunaan obat itu. Selanjutnya, Kuba mulai mengembangkan apa yang disebut “apotik hijau”.

Pertanian kota telah membuat Kuba tak bergantung lagi pada impor. Pada tahun 2007, Fidel Castro menulis, “lebih dari 3 milyar orang di dunia ini terancam mati karena kelaparan akibat pengembangan biofuel.” Bagi rakyat Kuba, pertanian kota adalah solusi atas ancaman krisis pangan. Mereka menganggap ini sebagai solusi masa depan.

Pertanian kota juga mengatasi problem sampah. Mengingat, pertanian kota ini dijalankan dengan teknik organik. Jadi, sampah-sampah di Kuba bisa diolah menjadi pupuk bagi pertanian kota. Pertanian kota juga mengubah kota-kota Kuba menjadi “kota hijau”, yang efektif mengurangi emisi karbon secara drastic.

Meski begitu, pertanian kota tetap punya kendala, seperti kurangnya tanah berkualitas, ketersediaan air, dan gangguan hama. Namun, pemerintah Kuba sedang berupaya menggalakkan riset untuk mengatasi persoalan ini.

Begitulah, negeri yang masih diembargo oleh imperialis AS ini terus bangkit. Kuba terus berjuang untuk menegakkan kedaulatan pangan-nya.

Dengan demikian, pengalaman Kuba patut dijadikan pelajaran. Indonesia sekarang ini merupakan negara pengimpor pangan terbesar di dunia. Impor pangan kita mencapai 70 persen. Kita mengimpor 2 juta ton beras per tahun dari Vietnam, Thailand, China, India, dan Pakistan. Jagung dibeli dari India, Argentina, dan AS. Kita mengimpor kedelai (70%) dari AS, Malaysia, Brasil, dan Thailand. Kita mengimpor terigu (100%) dari Australia.

Daging sapi (30%) diimpor dari Australia. Kita juga mengimpor gula 30% dan gandum 5 juta ton per tahun. Lalu, kita mengimpor susu (90%) dari Selandia Baru. Sayuran dan produk hortikultura, seperti wortel, kol, cabe, bawang putih, tomat, dan bawang merah, juga sebagian besar diimpor.

Padahal, katanya, kita negara yang sangat subur. Bahkan, tongkat dan kayu bisa menjadi tanaman. Kita juga menyandang predikat negara agraris. Lantas, kenapa kita bisa berubah menjadi bangsa pengimpor?

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut