Mendulang Semangat Kartini

Kartini adalah pelopor dari gerakan relovusi Indonesia sejak awal, setelah itu baru munculah banyak tokoh pergerakan mulai Ki Hajar Dewantara, HOS Cokroaminoto hingga Soekarno.

Banyak pemikiran-pemikiran kritis yang ia tulis melalui surat-suratnya yang kemudian menjadi gagasan revolusioner bagi kaum gerakan perempuan saat ini, yakni:

Semangat anti feodalisme

Dengan takdir hidup sebagai putri bangsawan, segala kebutuhan Kartini tentu sangat mudah didapat. Mulai dari penghormatan, kebaktian hingga pengorbanan tanpa pamrih dari masyarakat terhadapnya mengingat statusnya sebagai kaum bangsawan. Tapi Kartini tidak terlena, kondisi ini justru semakin membuatnya miris. Kartini sangat tidak membenarkan tata hidup Feodalisme, karena tata hidup demikian baik dan buruknya tidak memiliki batasan, bahkan tidak memiliki bentuk ataupun isi. Yang menjadi ukuran hidup kemudian adalah anggukan atau gelengan kaum Feodal.

Hakikatnya, feodalisme itu sendiri merupakan Imperialisme pribumi yang hidup di dalam masyarakatnya sendiri. Melalui tata hidup feodal ini tentu yang sangat dirugikan adalah rakyat miskin dan kaum terpinggirkan dimana hak hidup dan hak asasi manusia tercerabut hingga ke akarnya. Praktik hidup seperti itu telah megurangi rasa perikemanusiaan antar lapisan. Nilai manusia tidak lagi terletak pada kemampuan, kecakapan dan jasanya terhadap masyarakat, melainkan pada nilai kebangsawanannya. Semakin tinggi kebangsawanan atau keningratan seseorang, semakin dihargai eksistensinya di dalam tatanan masyarakat yang feodalistik.

Oleh karena itu, Kartini menilai bahwa Feodalisme merupakan sebuah adat yang harus diperangi agar tercapainya tatanan masyarakat yang merdeka, adil dan makmur.

”Bagi saya hanya ada dua macam keningratan : keningratan pikiran dan keningratan budi. Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya…”(Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899).

Kolonialisme

Bila diukur dari jamannya, gagasan-gagasan kartini termasuk kokoh dan mendasar. Ia ingin menghanguskan budaya-budaya feodal yang menghambat kemajuan bangsanya. Ini layaknya Tan Malaka ketika menulis Madilog yang berisi tentang penolakan terhadap logika mistik yang dipakai kabanyakan orang Indonesia dan diganti dengan pemikiran rasional, ini merupakan pengaruh dari seorang tokoh yang pendidikannya sering bersinggungan dengan pendidikan Belanda ataupun masuk didalamnya. Cita-citanya kepada nusa dan bangsa menjadikannya seorang  nasioanalis yang berjiwa kerakyatan. Kartini ingin mengangkat derajat dan martabat bangsanya agar tidak semena-mena terus dijajah oleh banga asing. Ia menginginkan agar bangsa Indonesia mengurusi dan mengatur dirinya sendiri tanpa adanya urusan asing di negeri sendiri. Inilah termasuk relasi antara kartini dan Soekarno yang menelurkan konsep berdikari.

Pendidikan

Pendidikan adalah bagian dari suatu proses yang diharapkan untuk mencapai suatu tujuan. Kartini seorang tokoh pejuang perempuan dengan segala kemampuannya gencar menyuarakan kebebasan bagi kaumnya dari penindasan. Pemberontakan Kartini dikenal dengan gerakan emansipasi wanita. Dilihat dari landasan filosofis timbulnya emansipasi wanita yang gencar di suarakan ini berlanjut pada lahirnya konsep-konsep pendidikan yang diorientasikan kepada kesempatan kerja dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial, politik dan lainnya.

ada anggapan bahwa sekolah itu adalah tempat untuk meningkatkan derajat kehidupan. Dengan sekolah, maka anak tersebut kemudian akan bekerja lebih baik atau mapan daripada ayah atau keturunannya. Pada saat itu, anak perempuan adalah babu untuk sekolah. Ini disebabkan karena pandangan terhadap anak perempuan tidak memerlukan kepandaian apapun didalam hidupnya, mengingat kewajibannya dalam rumah tangga bukan sebagai pencari nafkah. Adalah tidak patut bagi perempuan bangsawan banyak keluar rumah dan bergaul dengan anak laki-laki.

Kemudian dengan tegas Kartini mengatakan, “sebagai seorang ibu, wanita merupakan seorang pengajar dan pendidik yang pertama. Dalam pengakuannyalah seorang anak pertama-tama belajar merasa, berfikir dan berbicara; dan dalam banyak hal pendidikan pertama ini mempunyai arti yang besar bagi seluruh hidup anak…”

Kemandirian ekonomi,

“kebebasan Perempuan hanya bisa datang dari kebebasan ekonomi” (R.A Kartini)

Ungkapan Kartini tersebut merupakan penegasan bahwa hari ini perempuan-perempuan

Miskin haruslah memulai untuk memperbaiki perekonomiannya sehingga mampu memperbaiki kualitas hidup. karena Kemandirian Ekonomi adalah tentang kemerdekaan kunci membangun negara.

Emansipasi

Emansipasi bagi Kartini adalah hasil atau produk perjuangan kolektif dari kelompok atau kalangan yang tidak diuntungkan oleh sistem. Perjuangan emansipasi perempuan tentunya tidak akan berhasil bila pandangan terhadap kaum perempuan yang telah dibangun sangat lama oleh berbagai sistem yang didominasi oleh kaum patriarki sendiri tidak dirubah baik oleh kaum perempuan sendiri dan kaum laki-laki. Kita ketahui bahwa dalam memandang perempuan kita selalu menggunakan kacamata agama dan struktur masyarakat.

Kedua pandangan tersebut menempatkan perempuan pada posisi yang lemah dalam berbagai bidang, sehingga membuat perempuan sulit untuk memposisikan diri dalam meraih kemajuan. Walaupun saat ini kemajuan yang dicapai kaum perempuan telah begitu pesat tetapi dalam prakteknya kaum perempuan tetap menjadi korban dari berbagai praktek penindasan. Perlindungan terhadap kaum perempuan masih jauh dari cukup bila melihat masih maraknya berbagai kasus seperti kekerasan rumah tangga, perdagangan perempuan, poligami, dan ketidakadilan dalam bidang sosial-politik. Jalan parlemen yang dilalui untuk membuat sebuah produk legalitas perlindungan terhadap kaum perempuan pun jauh dari memuaskan, bahkan perwakilan perempuan di parlemen seperti terjebak dalam sistem politik yang kotor dan bahkan ikut terlibat di dalamnya.

Dari beberapa konsep pemikiran progresif Kartini, ini masih menjadi acuan pemikiran yang relevan hingga kini, mengingat situasi kaum perempuan hari ini pun masih banyak mengalami tindakan diskriminatif di beberapa sektor.

Minaria Chrystin N S.H, Ketua Umum Aksi Perempuan Indonesia (API) Kartini

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
Tags: