Menabur Benih Perlawanan Sepanjang Jambi-Jakarta

Sudah 10 hari petani Jambi mengayunkan kaki di sepanjang jalan Jambi-Sumatera Selatan (Sumsel). Kini, mereka sudah tiba di kota Pelembang. Jembatan Ampera, yang terkenal itu, sudah mereka dijejaki.

Perjuangan mencapai kota Palembang tidaklah gampang. Hujan deras dan terik datang silih berganti. Tak jarang petani harus menerobos hujan deras. Terkadang pakaian kering sendiri di badan. Sebaliknya, kalau matahari sangat terik, petani hanya berlindung di balik topi caping mereka.

Pegal dan linu sudah pasti. Rasa capek tentu tak terkirakan lagi. Demam dan sakit kepala jadi langganan setiap hari. Maklum, di sepanjang perjalanan, debu dan asap knalpot menjadi menu gratis bagi petani.

Ya, inilah sekilas perjuangan berat para petani Jambi. Mereka ini sedang menggelar aksi jalan kaki (long march) dari Jambi menuju Jakarta. Jarak yang ditempuh diperkirakan mencapai 1000 km. Mereka akan menjelajahi lima Provinsi (Jambi, Sumsel, Lampung, Banten, dan Jakarta), melintasi 20-an kota/kabupaten, dan melewati ratusan desa.

Ada beberapa hal yang dituntut petani Jambi ini: menuntut pemerintah melaksanakan pasal 33 UUD 1945 dan UUPA 1960, pengembalian tanah rakyat yang dirampas perusahaan, dan pencopotan Menhut Zulkifli Hasan.

Orang-orang bijak pernah mengatakan, pengalaman adalah guru yang baik. Tiba di Palembang, Sumsel, Petani sebetulnya baru menapaki 30-an persen perjalanan. Namun demikian, mereka sudah bertemu banyak pengalaman baru.

Yang pertama, mereka mengetahui—dan bahkan merasakan secara langsung—betapa dukungan dan solidaritas terhadap perjuangan mereka bisa mengalir dari mana saja, termasuk dari desa-desa yang mereka lalui. Di sepanjang jalan, petani menuai banyak dukungan dari warga desa yang dilaluinya.

“Di sepanjang desa-desa yang kami lalu, rakyat memperlihatkan antusiasme terhadap perjuangan kami. Tak jarang diantara mereka ada yang berusaha menyemangati aksi kami,” tutur Andi Syaputra, koordinator aksi petani, kepada Berdikari Online.

Bahkan, seperti dilaporkan Berdikari Online, Sabtu (15/12/2012), warga desa tak hanya merelakan tempat mereka sebagai tempat beristirahat, tetapi juga memberi bantuan berupa hasil kebun (Pucuk ubi, papaya, dan rambutan). Nilai bantuan memang tak seberapa, tetapi nilai solidaritasnya tak terhitung.

Yang kedua, mereka mengetahui bahwa konflik agraria, seperti yang mereka alami, ternyata dialami juga oleh rakyat di berbagai desa yang mereka lalui. Ini terungkap dari proses diskusi antara warga desa dengan petani peserta long march.

Pulau Sumatera, dengan kesuburan tanahnya, memang menjadi sasaran penting korporasi agrobisnis. Ini menyebabkan kasus perampasan tanah terjadi hampir setiap saat di sana. Konflik agraria pun paling banyak terjadi di Sumatera, khususnya di Riau (10 kasus), Lampung, Jambi (11 kasus), Sumatera Selatan (9 kasus), dan Sumatera Utara (25 kasus). WALHI sendiri mencatat ada 7000-an kasus konflik agraria yang berpotensi meledak.

Jalur yang dilalui petani, yakni Jambi, Sumatera Selatan, dan Lampung, masuk kategori dari “titik didih” konflik agraria. Dua kasus konflik agraria yang mencuat di nasional, yakni Mesuji dan Ogan Komering Ilir (OKI), akan dilintasi petani. Artinya, dengan interaksi berupa diskusi dan pembagian selebaran, para petani peserta long-march telah menabur benih-benih perlawanan.

Menarik untuk menyimak sebait puisi penyair revolusioner Wiji Thukul berjudul “Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu”: janganlah rampas tanah rakyat/ jangan abaikan kepentingannya/ sebab tanah adalah bumi tempat ibadah kepada tuhannya/ tempat memuliakan dirinya dengan kerja/ jika itu kau lakukan../ berarti telah kau tabur sendiri/ iman kekacauan di negeri ini.

Pesan Wiji Thukul sangat jelas: perampasan hak-hak rakyat akan berbuah perlawanan. Dan saya kira, perlawanan itu tidak akan pernah mereda, melaikan melakukan konsolidasi dan mengakumulasi kekuatan. Meminjam istilah Wiji Thukul: raksasa yang tidur di bawah selimut kedamaian palsu. Begitu selimut kepalsuannya tersingkap, maka raksasa akan terbangun dan meruntuhkan kekuasaan anti-rakyat itu.

Tetap semangat kawan-kawan petani Jambi yang sedang berjuang. Artikel pendek ini saya tutup dengan pesan bapak nasional India, Mahatma Gandhi: “Pertama mereka mengabaikanmu, lalu mengejekmu, kemudian memerangimu, dan akhirnya kau menang.”

Andi Nursal

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • siswagandi

    tetap kan steril dari bayangan penyusup2..

  • Jaya Jaya Jaya lah kalian massa rakyat tertindas yang berjuang melawan ! perjalanan 1000 km mu menjadi inspirasi perjuangan bangsa ini !