Mempersoalkan Kepemimpinan SBY

Di tengah  berbagai persoalan bangsa yang mendera terutama maraknya tindakan intoleransi, korupsi  dan  ekonomi nasional yang tak berkutik di bawah dominasi ekonomi asing, kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) atas Republik ini semakin dipersoalkan dan digugat. Presiden SBY membikin gemas banyak orang karena dianggap lamban, tak memimpin dan membiarkan banyak persoalan yang melanda bangsa dan Republik ini terus bermunculan saling menuntut untuk didahulukan diselesaikan tetapi itu pun seakan tanpa penyelesaian yang pasti dan tanpa tahu dari mana mesti mulai memperbaiki keterpurukan bangsa. Berbagai usulan hanya menjadi wacana dan pemerintah tampak pasif  sementara rakyat terus bergulat dengan kehidupan nyata dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari yang semakin sulit. Karena itu wajar bila semakin hari gugatan atas gaya kepemimpinan SBY yang menjengkelkan itu menjadi  tuntutan agar SBY berhenti saja memimpin negeri yang berpotensi menjadi bangsa besar dan penuh kemakmuran bagi rakyatnya ini. Bahkan untuk itu berbagai landasan di luar rasionalitas dan pemikiran ilmiah yang tentu saja akan merugikan langkah majunya sendiri pun di tempuh.

Memang harus diakui bahwa dua periode Pemerintahan di bawah Presiden SBY dirasakan tak membawa kemajuan kehidupan rakyat. Rakyat justru terus-menerus disuguhi kebejatan moral para politisi, hukum yang terbeli, pendidikan yang mahal, kesenjangan hidup antar warga negara yang semakin tinggi dan begitu gampangnya berbagai kekayaan alam negeri dikelola asing tanpa memberikan  kemakmuran bagi anak negeri. Semua ini mendorong rasa ketaksabaran untuk berubah dan bila memang Presiden SBY tak bisa diharapkan dalam mengatasi karut-marut negeri ini atau justru menjadi batu sandungan dalam mengatasi karut-marut negeri ini, apa boleh buat bila ketidakpuasan terhadap pemerintahan SBY ini menjadi semakin terorganisasikan dan sanggup menghentikan Presiden SBY di tengah jalan sebelum waktu yang diberikan kepadanya berakhir.

Beberapa hal yang mungkin masih bisa dikerjakan Presiden SBY sebelum ketidakpuasan atas kepemimpinannya menjadi gelombang yang dapat menghentikan kepemimpinan SBY. Pertama, Presiden SBY seharusnya fokus terhadap persoalan bangsa terlebih SBY dipilih langsung oleh rakyat untuk menjadi Presiden Republik Indonesia terlepas dari ada kecurangan atau tidak tetapi di situlah terletak legitimasi pemerintahannya. Presiden SBY bisa mencontoh Presiden Sukarno yang juga tak ambil pusing dengan partai yang pernah didirikannya yaitu PNI dalam soal dukungan politik. Dengan bersandar pada dukungan rakyat luas dan program politik yang tepat untuk mengatasi keterpurukan bangsa dan rakyat, insya Allah Presiden SBY bisa menjalankan tugasnya sampai akhir dengan meninggalkan jejak yang baik dan menyiapkan tangga-tangga bagi kepemimpinan nasional berikutnya untuk membawa Indonesia  adil dan makmur.

Kedua, di tengah isu dominasi asing atau penjajahan baru oleh VOC berbaju baru sebagaimana istilah yang disampaikan mantan Presiden BJ Habibie, Presiden SBY tentu saja harus tegas dalam memihak kepentingan rakyatnya yang hampir separohnya bisa dikategorikan miskin. Dengan kata lain Presiden SBY tidak perlu ragu dan takut dalam membela kepentingan nasional. Segala daya upaya harus dipakai untuk terlebih dahulu memakmurkan rakyat negeri atau fokus pada kepentingan nasional termasuk pemanfaatan sumber daya alam sebagaimana amanat pasal 33 UUD 1945. Karena itu patutlah diapresiasi dan didorong menjadi kerja serius berbagai usaha renegosiasi kontrak-kontrak perusahaan-perusahaan pertambangan, minyak dan gas yang dianggap merugikan Indonesia. Soal-soal lain yang terbukti bersalah seperti melakukan korupsi atau melakukan tindakan kriminal dan menyalahi aturan hukum Republik Indonesia harus ditindak tegas agar tidak semakin membikin Indonesia terfragmentasi dan dikemudian hari terpecah-belah.

Bagaimana dengan orang-orang yang tidak sabar, kecewa, tidak percaya terhadap janji-janji dan berkehendak menggugat Pemerintahan SBY yang lamban;  yang macet instruksinya; yang seakan tak memimpin dan justru banyak mengeluh lalu berkehendak menghentikannya? Silahkan terus bekerja dengan keyakinannya itu, berlomba-lomba dan berkejaran dengan waktu. Toh, rakyat sendiri yang menilai dan menjadi sandarannya?

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut