Memperjuangkan Sepakbola: Apakah “Permainan Sedunia” Ini Bisa Menjadi Permainan Rakyat?

Piala Dunia FIFA 2010 di Afrika Selatan telah memulai putaran final 16 besarnya pada 26 Juni. Ia hadir di tengah dengungan terompet vuvuzela yang tak pernah surut, kekalahan tim-tim besar seperti Italia dan Perancis, dan aksi-aksi protes di jalanan oleh warga setempat yang marah atas dana 40 miliar rand yang dibelanjakan pemerintah untuk membiayai acara yang dikelola swasta ini. Sementara itu, kaum miskin Afrika Selatan menderita karena perumahan dan akses layanan mendasar yang di bawah standar.

Sepakbola adalah “permainan dunia” yang dimainkan oleh jutaan orang di seluruh dunia dan ditonton oleh ratusan juta lainnya. Tapi benarkah itu “permainan rakyat”?

Sepakbola itu sendiri seringkali merupakan suatu pertunjukan menegangkan yang menampilkan kepiawaian manusia. Suatu pertandingan sepakbola yang bermutu tinggi dapat dibandingkan dengan seni. Maka tak heran ia begitu populer di seluruh dunia.

Namun permainan itu, tak dapat dipungkiri, disertai serangkaian aspek buruk. Persoalan hooliganisme sepakbola, terutama di Eropa, sudah dikenal baik. Banyak kelab-kelab dan kelompok penggemarnya menjadi lahan subur bagi perkembangan kelompok neo-Nazi dan ekstrim sayap-kanan, seperti English Defence League.

Di tingkat interasional, dukungan terhadap tim nasional mudah sekali diekspresikan menjadi rasisme terang-terangan. Sebuah “kostum pendukung” Belanda yang dirancang untuk Piala Dunia di Afrika Selatan menggambarkan seorang pendukung Belanda menduduki pundak seorang warga Afrika Selatan berkulit hitam. Iklan yang menyertainya memberikan instruksi untuk “menyetir” kaum “Afrika” dengan menarik-narik kupingnya.

Banyak pemain dalam tim nasional Perancis yang keturunan Afrika dan Arab. Ketika Perancis memenangkan Piala Dunia 1998, keberagaman ini dirayakan secara luas sebagai bukti sehatnya multikulturalisme dan tolerannya masyarakat di Perancis.

Namun, ketika Perancis berkemas pulang dalam putaran pertama Piala Dunia 2010 setelah konflik antara pemain dan pelatih, terdapat suara-suara rasisme terselubung. Tajuk-tajuk utama di Perancis menyatakan para anggota tim bersikap “tidak-Perancis” karena latar belakang etnis mereka dan karena dibesarkan di pinggiran kota Paris yang sebagian besar kaum imigran, miskin, serta menjadi tempat aksi-aksi protes yang diwarnai kekerasan beberapa tahun lalu.

Dominasi korporasi

Dominasi korporasi dalam olah raga juga dapat memberikan dampak negatif. Pertumbuhan pesat utang kelab-kelab sepakbola Inggris sejak Liga Utama didirikan pada 1992 – diperparah oleh krisis keuangan global – telah menghancurkan sejumlah kelab yang ada. Bahkan dua kelab terbesar di Inggris – Liverpool FC dan Manchester United – terjerat utang yang besar dan membahayakan.

Afrika Selatan telah menyerahkan sebagian sistem hukumnya kepada FIFA – badan pengurus sepakbola sedunia – selama berlangsungnya Piala Dunia. “Pengadilan Piala Dunia” secara khusus ditugaskan untuk memburu pemalsu barang dagangan dan penjahat kecil-kecilan di acara tersebut.

Namun hanya sedikit tuntutan hukum yang dilancarkan dan banyak yang dipertanyakan keabsahannya. Di antara yang tertuduh adalah dua perempuan Belanda yang ditahan karena mengenakan pakaian yang dirancang oleh sebuah perusahaan yang bukan sponsor resmi Piala Dunia.

Pekerja di Afrika Selatan juga mencoba menggunakan Piala Dunia untuk mengangkat persoalan mereka. Setelah pertandingan antara Jerman dan Australia, staff lapngann menggelar aksi protes menuntut bayaran dan hal-hal lain yang dijanjikan. Aksi mereka diserang oleh polisi kerusuhan dengan kekerasan, gas air mata, dan pentungan.

Menjelang Piala Dunia, pemerintah Afrika Selatan membersihkan jalanan dan pemukiman kumuh untuk “membersihkan” citra negeri tersebut bagi media dan wisatawan. Puluhan ribu kaum miskin Afrika Selatan dipaksa bertempat tinggal di penampungan sementara.

Dalam berbagai hal, sepakbola juga meneruskan hubungn kolonial lama. Di penjuru Afrika, ratusan ribu pemuda bermimpi keluar dari kemiskinan dengan cara dipilih untuk bergabung dengan suatu kelab kaya dari Eropa. Segelintir saja berhasil, tapi ribuan keluarga telah tertipu karena memberikan simpanannya kepada para penipu yang menjanjikan dunia tersebut.

Roti dan sirkus?

Di hadapan ini semua, adalah mudah untuk menulis bahwa sepakbola tak lain dari “roti dan sirkus” jaman modern yang mengalihkan rakyat dari perjuangan untuk masyarakat yang lebih baik.

Pandangan ini mengabaikan kenyataan bahwa rakyat selalu mencari hiburan melalui berbagai macam bentuk budaya. Hak atas inilah yang terancam oleh sisi buruk sepakbola, bukan permainan itu sendiri yang perlu dikecam.

Mengecam permainan itu berarti mengabikan sisi lainnya yang progresif dan kurang diketahui orang. Tim-tim seperti kelab Jerman FC St Pauli dan kelab Inggris Aston Villa, contohnya, memiliki kelompok penggemar anti-fasis dan anti-rasis yang terorganisir baik dan menggelar protes secara reguler untuk melawan rasisme dan kelompok-kelompok kanan-jauh.

Kelab Spanyol FC Barcelona dijalankan sebagai koperasi publik, dan secara reguler memberikan uang kepada UNICEF untuk membeli ijin penggunaan logo lembaga tersebut di kostumnya – bertolak belakang dengan sebagian besar kesepakatan sponsor yang ada. Aston Villa melakukan hal yang sama dengan rumah sakit anak Acorns.

Ribuan pendukung Liverpool FC yang marah atas ketidakbecusan pengelolaan kelab mereka, telah mendirikan “serikat pendukung” yang terdaftar dan bertujuan menempatkan kelab tersebut di bawah kepemilikan penggemarnya. Serikat tersebut – bernama Spirit of Shankly (Semangat Shankly) – memiliki website yang memuat kutipan pelatih legendaris Liverpool, Bill Shankly: “Sosialisme yang kuyakini adalah semua orang bekerja untuk sesamanya, semua orang mendapatkan bagian dari hasil. Itulah pandanganku tentang sepakbola, pandanganku tentang dunia.”

Pengaruh sayap-kiri

Pengaruh sayap kiri di sepakbola bukan hal baru. Pada tahun 1930an, kelab Jerman Unterhaching – yang berbasiskan kelas pekerja bordir di Munchen – dibubarkan oleh Nazi karena “secara politik tak dapat diandalkan”.

Sepakbola juga memainkan peran penting dalam perjuangan pembebasan nasional dan anti-rasis, terutama di Afrika.
Dalam perang anti-kolonial melawan Perancis, Front Pembebasan Nasional Aljazair (FLN) membentuk tim nasional bawah tanah dari beberapa pemain Aljazair terbaik di liga Perancis. FIFA menolak untuk mengakuinya, tapi tim tersebut merupakan kemenangan propaganda besar-besaran bagi perjuangan pembebasan ALjazair. Tim itu memenangkan 65 dari 91 pertandingn melawan tim dari Afrika, Asia dan blok Soviet antara 1958 dan 1962, ketika Aljazair memenangkan kemerdekaannya.

Dalam Piala Dunia 2010, tim Aljazair mempersiapkan diri untuk pertandingan melawan Inggris dengan menyaksikan film klasik tentang perjuangan anti-kolonial, The Battle of Algiers (Pertempuran Aljazair). Sebagaimana diketahui kemudian, ini tidak menghasilkan kemenangan.

Sepakbola juga memainkan peran vital dalam perjuangan melawan apartheid di Afrika Selatan. Aktivis anti-apartheid yang dipenjara di Pulau Robben yang tersohor menggunakan permainan ini sebagai cara mempertahankan organisasi politik dan mengatasi perpecahan internal.

Pada 2005, kelab Italia Inter Milan – yang pernah diasosiasikan dengan politik sayap kanan – menerima tantangan untuk memainkan pertandingan solidaritas dengan pemberontak sayap-kiri Zapatista dari Meksiko. Kelab ini juga memberikan dana untuk proyek olahraga, penyediaan air dan kesehatan di wilayah Chiapas di Meksiko, yang dikuasai oleh Zapaistas.

Menjelang Piala Dunia, tim sepakbola Argentina difoto dengan memegang spanduk yang menyerukan agar Ibu Plaza de Mayo – para ibu dari 30.000 pemuda dan pemudi yang “dihilangkan” di bawah kediktatoran Argentina antara 1976-1983 – dianugerahkan Penghargaan Nobel Perdamaian. Pelatih Diego Maradona merupakan pendukung vokal pemerintah revolusioner Kuba dan Venezuela.

Seperti halnya kelab, tim nasional tidak lagi homogen seperti dulu karena dampak imigrasi. Tim-tim nasional Inggris, Belanda, Swiss semuanya menyertakan pemain dari beragam latar belakang. Dalam tim Jerman, seorang pemain dilahirkan di Brasil, dua penyerang kunci dari Polandia dan seorang lainnya keturunan Turki. Kakak-beradik Boateng, Gerome dan Kevin-Prince, memegang kewarganegaraan ganda Jerman-Ghana, tapi dalam Piala Dunia ini mereka bermain dalam dua tim berbeda – satu untuk Jerman, sisanya untuk Ghana.

Sepakbola – dan semua olahraga lainnya – merupakan medan pertempuran untuk keadilan sosial seperti ajang lainnya.
Ketika menonton Piala Dunia, ingatlah warga miskin kulit hitam di kota-kota Afrika Selatan, staf lapangan yang memungkinkan berjalannya pertandingan, dan buruh murah yang memproduksi bola yang bodoh itu. Dan ingatlah, sepakbola lebih dari sekedar bendera, lagu dan piala.

Duroyan Fertl, Penulis adalah aktivis Socialist Alliance di Australia, tulisan diambil dan diterjemahkan dari Green Left Weekly

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut