Memotong Generasi Tua?

Bakar foto SBY
    Usianya baru menginjak 15 tahun ketika ditunjuk sebagai sekretaris Sarekat Islam (SI) cabang Surabaya. Setahun kemudian, tepatnya tahun 1916, Semaun–nama pemuda itu–sudah ditunjuk sebagai propagandis VSTP dan sekaligus editor koran kiri–Si Tetap. Semaun, yang bukan keturunan Priayi, dikenal sebagai pemimpin partai termuda dalam sejarah Indonesia. Ia memimpin PKI dalam usia 21 tahun.

Orang-orang yang memimpin republik ini, ketika baru saja diproklamasikan, adalah sebagian besar merupakan tokoh-tokoh yang masih muda; Bung Karno menjadi Presiden dalam usia 44 tahun; Hatta menjadi Wapres pada usia 43 tahun; Sjahrir menjadi Perdana Menteri dalam usia 36 tahun; dan, Tan Malaka menulis “Naar de Republiek Indonesia” (Menuju Republik Indonesia) dalam usia 29 tahun.

Tidak heran, karena bercermin pada kehebatan para pendiri bangsa itu, sejumlah kaum muda pun berani mendeklarasikan: Sudah saatnya kaum muda memimpin. Bagi mereka, kehancuran bangsa sekarang ini tidak terlepas dari buah tangan kaum tua. Bahkan, tidak sedikit kaum muda sekarang ini yang menjeneralisir seluruh kaum tua sebagai “produk gagal”.

Wenry Anshory, aktivis dari Front Aksi Mahasiswa Universitas Indonesia, menganggap seluruh golongan tua sekarang ini sebagai penyebab kerusakan bangsa. Oleh karenanya, semua golongan tua sekarang ini, termasuk yang mengambil jalur oposisi, dianggap sebagai produk gagal dan sudah saatnya diganti.

Menurut Wenry, kaum muda pergerakan sangat pantas untuk mengambil-alih kekuasaan, karena mereka merupakan motor perubahan dan punya gaya berfikir yang progressif. Ia juga menganjurkan agar kaum muda lebih pro-aktif untuk “merebut”, bukan menunggu tongkat estafet dari golongan tua.

Hal senada juga disampaikan oleh Haris Rusli Moti, aktivis dari Petisi 28, yang menganggap generasi tua sebagai golongan tidak tahu diri. “Banyak politisi tua, yang terkadang sudah sempoyongan, tetapi masih sangat bernafsu menduduki jabatan,” kata alumnus Universitas Gajah Mada (UGM) ini.

Pada tahun 2007 lalu, bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda, sekelompok pemuda dan intelektual juga pernah menyuarakan hal yang sama. Dalam pernyataan politiknya, para pemuda itu, antara lain, menulis: “Sudah tidak bisa lagi berharap kepada “mobil bekas” untuk menaiki tanjakan yang terjal. Kalaupun “mobil bekas” diperbaiki, itu bukan solusi. Lebih baik membeli “mobil baru”. Kepemimpinan nasional saatnya diserahkan kepada kaum muda.”

>>>

Aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD), AJ Susmana, punya pendapat berbeda dengan para aktivis pemuda di atas. Menurut alumnus jurusan Filsafat UGM ini, kendati “pemuda” menjadi kosa kata politik dalam perjuangan dan menjadi magnet yang menyeret kaum muda untuk terlibat dalam perjuangan, tetapi kaum muda kemudian tidak diletakkan dalam kategori umur tapi roh atau semangat muda.

Menurut AJ Susmana, kalau kaum muda didasarkan pada kategori umur, maka hal itu hanya akan memecah-belah persatuan nasional. Oleh karena itu, menurut mantan aktivis Komite Pendukung Megawati (KPM) ini, identifikasi kaum muda harus dilekatkan pada fikiran atau gagasan dan semangat juang.

Akan tetapi, menurut Haris Rusli Moti, ketika berbicara soal kelanjutan suatu bangsa, maka kita akan berbicara dua hal. Pertama, kita akan berbicara mengenai sejarah sebuah bangsa, yang akan disusun sebagai filosofi untuk membangun bangsa. Kedua, berbicara soal bagaimana menyelamatkan generasi muda sebagai penerus bangsa.

“Ini bukan soal dikotomi tua-muda, bukan soal egoisme kaum muda untuk meraih posisi-posisi politik dalam rangka karir pribadi, melainkan untuk menyelamatkan generasi muda hari ini dan mempersiapkannya untuk melanjutkan perjalanan bangsa,” kata Haris Rusli Moti.

Termasuk dalam perjuangan kaum muda ini, menurut Haris Rusli Moti, adalah pertempuran dua filosofi, yaitu filosofi kaum muda melawan filosofi kaum tua. Filosofi kaum muda adalah pancasila, sedangkan filosofi orang tua dicopypaste dari luar, yaitu faham liberalisme.

Pemuda yang punya filosofi inilah yang akan melanjutkan perjuangan bangsa, bukan pemuda tanpa filosofi. Pemuda tanpa filosofi di sini mengacu kepada golongan pemuda yang sekedar mencari karir politik untuk kehidupan pribadi, termasuk keturunan para elit tua yang sedang berkuasa sekarang ini.

Dengan begitu, Moti pun tidak menyangkal keterlibatan orang-orang tua yang progressif, yaitu orang tua yang sadar dan bersedia memberi tongkat estafet kepada kaum muda. Contohnya, kata Moti, adalah Tjokroaminoto.

Tidak sedikit golongan tua, atau mereka yang berumur di atas 40 tahun, juga punya fikiran progressif. Sebagai misal, mereka-mereka yang pernah hidup di era orde lama atau era Bung Karno, juga punya keinginan-keinginan untuk membebaskan bangsa ini dari imperialisme dan menata masa depan yang lebih baik.

Trikoyo Ramidjo, seorang pejuang kemerdekaan yang kini berusia 85 tahun, punya cita-cita kuat untuk berjuang menghapuskan imperialisme dan kapitalisme di Indonesia. Hanya saja, karena faktor usia yang sudah lanjut, Trikoyo tidak bisa berakfitas maksimal sebagaimana halnya dengan para pemuda yang masih segar-bugar.

Dalam sebuah kejadian, Bung Karno pernah dibuat marah-marah oleh aksi sejumlah mahasiswa, kira-kira tahun 1966, yang menghina pejabat negara saat itu, seperti Johannes Leimena dan Subandrio. Padahal, kata Soekarno, orang-orang yang dihina itu adalah pejuang-pejuang pemuda yang rela berkorban demi bangsa dan negara. J Leimena, misalnya, adalah salah satu tokoh penting di balik Kongres Pemuda II dan Sumpah Pemuda tahun 1928.

Dalam musyawarah pemuda pergerakan mendatang, gagasan persatuan nasional melawan imperialisme akan dinomor-satukan, sebagai prasyarat untuk mengusir penjajahan asing sekarang ini. (Agus Pranata & Rudi Hartono)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut