Memetik Pelajaran Dari ‘Guru Bangsa: Tjokroaminoto’

Guru-Bangsa-Tjokroaminoto (2)

Akhirnya, kisah dan gagasan perjuangan Haji Oemar Said (H.O.S) Tjokroaminoto, yang hari-hari belakangan ini makin ‘asing’ dalam pengetahuan sebagian bangsa ini, di tampilkan di layar lebar.

Tjokroaminoto merupakan nama besar dalam pergerakan nasional negeri ini yang terlupakan. Namanya cuma dikenalkan melalui pelajaran sekolah atau nama jalan. Tetapi kedudukannya dalam pergerakan nasional dan gagasan-gagasannya masih tertimbun jauh dari ingatan sejarah bangsanya.

Garin Nugroho, sutradara yang sudah malang-melintang dalam dunia layar lebar Indonesia, menampilkan sosok Tjokroaminoto melalui film berjudul “Guru Bangsa: Tjokroaminoto”. Film tersebut mulai hadir di tengah-tengah khalayak sejak tanggal 9 April lalu.

Dari judulnya, Guru Bangsa: Tjokroaminoto (selanjutnya disingkat GBT), bisa diketahui bahwa misi utama film ini adalah pembelajaran dan penyadaran. Karena itu, saya berusaha menangkap pelajaran dan penyadaran yang disuguhkan oleh GBT.

/1/ Melawan Sejak Dini

Film GBT dibuka dengan adegan interogasi terhadap Tjokroaminoto di penjara Kalisosok, Surabaya. Ia dituding oleh Belanda telah mendalangi pemberontakan rakyat di Garut, Jawa Barat, pada tahun 1919.

Sorot tajam kamera kemudian menyasar wajah Tjokroaminoto (Reza Rahardian). Lalu, keluarlah kata-kata tajam dari mulutnya: “Saya Tjokroaminoto, seorang jawa dan pendiri Sarekat Islam yang beranggotakan 2 juta orang…”

Selanjutnya, GBT menggambarkan masa kecil Tjokro hingga beranjak dewasa. Sejak dini, Tjokro punya kepedulian terhadap kaum lemah. Ia sangat peka dengan nasib rakyat jelata. Kesadaran itu dipungutnya dari pengalaman sehari-hari.

Kesadaran itu pula yang menggerakkan Tjokro. “Tidak akan ada darah lagi yang tumpah di kapas-kapas ini,” ucap Tjokro kecil ketika membasuh luka seorang kuli perkebunan kapas yang baru saja dihukum cambuk oleh mandor perusahaan.

Kesadaran itu terjaga hingga Tjokro dewasa. Kendati dilahirkan dari keluarga priayi, Tjokro memilih tak berjarak dengan rakyat jelata. Ia seringkali marah dengan perilaku elit, baik pribumi maupun Belanda, terhadap rakyat jelata.

Tjokro muda selalu gelisah. Kondisi sosial di sekitarnya, terutama penindasan yang ditimpakan kepada rakyat pribumi, selalu mendorongnya untuk bergerak. Dalam kegelisahan itulah Tjokro bertemu dengan konsep ‘hijrah’ dan ‘iqra’.

Tjokro menikah dengan Soeharsikin (Putri Ayudya), anak bupati Ponorogo yang diperankan oleh Sujiwo Tejo. Tak lama setelah menikah, Tjokro pindah ke Semarang. Namun, karena desakan dalam diri dan kawannya, Tjokro pindah ke Surabaya.

Di Surabaya, kota yang saat itu menjadi pusat pergerakan, Tjokro menemukan jalan hidupnya: aktivis pergerakan. Dia bergabung dengan organisasi yang lagi naik daun saat itu, Sarekat Islam (SI). Dia juga merintis usaha batik bersama istrinya, Soeharsikin, untuk membiayai hidup dan kegiatan politiknya.

Yang agak aneh, kita tiba-tiba disuguhi oleh adegan dua orang utusan Haji Samahudi, Ketua SI saat itu, yang mendatangi Tjokro. Keduanya melobi Tjokro agar menjadi Ketua SI. Enak sekali, pikirku, tanpa berkeringat dan berjuang, tiba-tiba diminta jadi Ketua.

Takashi Shiraishi, dalam Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat Di Jawa 1912-1926, memberi jawaban. Menurut Shiraishi, penunjukan Tjokro sebagai Ketua SI tidak lepas kepentingan Belanda. “Pemerintah Belanda memerlukan seorang perantara untuk mengarahkan SI agar berjalan pada jalur yang diinginkan,” tulis Shiraishi. Dan orang yang tepat menjadi perantara itu, menurut penilaian Rinkes, Penasehat Gubernur Jenderal urusan Pribumi, adalah Tjokroaminoto.

/2/ Kunci Pembesaran SI

Begitu jadi Ketua, Tjokro merombak SI menjadi ‘organisasi pergerakan’. Sejak itu, seperti diceritakan Ruth McVey di “Kemunculan Komunisme Indonesia”, SI mulai terlibat dalam memperjuangkan taraf hidup dan perekonomian rakyat.

Tak pelak lagi, SI bergeser dari organisasi borjuis, yakni pedagang dan pengusaha, menjadi organisasi massa yang menjangkau petani, kaum miskin perkotaan, buruh, dan rakyat jelata lainnya.

Dalam GBT itu tidak begitu nampak. Tiba-tiba Tjokro tampil sebagai tokoh yang berpengaruh dan dielu-elukan massa. Afdeling (cabang) SI berdiri di mana-mana.

Di GBT diperlihatkan, setidaknya di mata saya, ada dua yang menjadi kuncinya. Pertama, sosok Tjokro yang dekat dengan rakyat jelata. Dia rajin keluar-masuk kampung. Ia menolak sembah dan jongkok. Dengan kedekatan itulah, Tjokro berhasil ‘menggenggam hati rakyat’.

Kedua, keberhasilan dan konsistensi SI menggelar Vergadering atau Rapat Akbar. Rapat akbar memberi pengalaman baru bagi rakyat Hindia-Belanda kala itu, yakni “suasana riang dan gegap gempita, penuh semangat dan rasa solidaritas, dan menempatkan semua orang sama rata-sama rasa.”

Di dalam vergadering ada musik, bendera-bendera, potret-potret, pidato yang berapi-api, ada penyampaian keluhan, pekik perjuangan, dan lain-lain. Semua orang yang hadir di vergadering, tanpa memandang pangkat dan status sosial, duduk sejajar, bebas mengobrol satu sama lain, tanpa harus menghaturkan sembah ataupun jongkok. Tata-hirarki masyarakat Jawa, yang diperparah oleh kolonialisme, dijungkir-balikkan.

Mas Marco Kartodikromo, dalam novel Student Hidjo (1918), mencoba menggambarkan suasana salah satu vergadering saat itu: “Musik yang berbunyi di tempat itu semakin membikin gembira hatinya orang Islam yang ada di situ. Bangsawan Kraton Solo, saudagar, priayi, Gouvernement dan orang partikulir, mereka itulah semua sama menunjukkan kecintaannya masing-masing. Lantaran pengaruhnya Sarekat Islam, itu waktu tidak ada perbedaan manusia, semua mengaku saudara, baik orang yang berderajat tinggi maupun orang yang berderajat rendah.”

Ketiga, isu persamaan yang diusung oleh SI melalui slogan ‘sama-rata, sama-rasa’. Dalam GBT diperlihatkan sosok si penjual dingklik/kursi (Gunawan Maryanto), yang tertarik dengan SI karena semangat persamaan dan egalitarianisme.

Semangat egalitarianisme juga berlaku dalam pakaian. Ia membuat motif-motif batik yang selama ini hanya dikenakan kalangan ningrat, seperti parang rusak, kawung, dan sidomukti, bisa dipakai juga oleh rakyat jelata.

Hanya saja, patut diketahui, yang memunculkan slogan ‘sama rata, sama rasa’ adalah Mas Marco Kartodikromo, jurnalis radikal yang menggawangi Doenia Bergerak. Di tahun 1918, Marco menulis puisi berjudul ‘sama rata, sama rasa’. Slogan ini kemudian digunakan secara luas, terutama oleh kelompok kiri, untuk melukiskan secara sederhana cita-cita sosialisme.

Keempat, perintah Tjokro agar rakyat bumiputera membangun sarekat dan koperasi. Sarekat menjadi wadah bagi massa rakyat yang resah. Sedangkan koperasi menjadi alat mengorganisasikan rakyat secara ekonomi agar berdikari.

Kelima, selain melalui vergadering, SI juga punya mulut lain untuk berbicara luas dengan khalayak, yakni koran. SI punya ‘Oetoesan Hindia’. Sementara SI lokal juga punya koran-koran sendiri, seperti Sinar Djawa (Semarang), Kaoem Moeda (Bandung), dan Pantjaran Warta (Batavia).

/3/ Hijrah Dan Iqra

Pelajaran yang juga menarik dari GBT adalah soal konsep ‘hijrah’ dan ‘iqra’. Kata ‘hijrah’ diucapkan berkali-kali dalam dialog. “Hijrah ini, sudah sampai mana Gus?” kata Tjokro kepada kawan seorganisasinya, Haji Agus Salim (Ibnu Jamil).

Dalam GBT, Tjokro memahami ‘hijrah’ bukan sekedar perpindahan tempat, yakni berpindah dari daerah kaum kafir (darul kufur) ke daerah islam (darul Islam). Sebaliknya, Tjokro menempatkan ‘hijrah’ sebagai praktik emansipatoris, baik secara mental maupun fisik, dari manusia terjajah menjadi manusia merdeka. “Jadilah seperti sumbu api ini, membuat umat menjadi terang,” begitu pesan yang diterima Tjokro dari gurunya.

Begitu juga dengan ‘iqra’. Kata ini tidak dimaknai secara harfiah saja, yakni membaca teks belaka. Tetapi telah diperluas maknanya menjadi ‘membaca keadaan sekitar’. Dengan ‘iqra’, Tjokro menjadi tahu keadaan di sekitarnya, termasuk kondisi sosial-ekonomi rakyatnya.

/4/ Tjokro Yang Moderat Dan Koperatif

GBT juga menggambarkan sosok Tjokro sebagai seorang yang moderat, pluralis, dan anti-kekerasan. Dengan begitu, pantas juga menyebut Tjokro sebagai ‘Gandhi of Java’.

Harus diakui, kendati menyatakan berjuang untuk kemajuan bumiputera, SI tidak pernah berniat menentang ketenteraman dan ketertiban (rust en orde) di bawah kekuasaan kolonial.

Tjokro adalah politisi yang belum terputus sepenuhnya dengan proyek politik etis. Dalam keyakinannya, Tjokro masih percaya bahwa pemerintah kolonial bekerja untuk kemajuan bumiputera. Dan hal itu sejalan dengan agenda SI: untuk kemajuan bumiputera. Karena itu, Tjokro menyimpulkan, tidak ada pertentangan antara kemajuan bumiputra dan kesetiaan terhadap pemerintah. Konsekuensinya, SI dengan setia berjuang untuk kemajuan bumiputera di bawah ‘perlindungan pemerintah’. (Takashi Shiraishi, 1997:84)

Sikap politik Tjokro itu sangat nampak saat berpidato di sebuah vergadering di Semarang, tahun 1917, sebagaimana dikutip oleh Sinar Djawa: “Dengan alasan agama itu kita akan berdaya upaya menjunjung martabat kita kaum bumiputera dengan jalan yang sah. Menurut dalil dari kitab…..(kita lupa dalil dan namanya kitab tadi, red) orang pun musti menurut pada paprentahan rajanya. Siapakah sekarang yang memarentahkan pada kita Bumiputra? Ya, itulah kerajaan Belanda, oleh karena itu menurut syarat agama Islam juga, kita harus menurut parentahnya kerajaan Belanda, kita mesti menepi dengan baik dan setia wet-wet (hukum-hukum) dan pengaturan Belanda yang diadakan buat rakyat kerajaan Belanda.”

Karena itu, dalam aspek organisasi, SI berusaha mendapat status hukum sebagai perkumpulan dari penguasa kolonial. Tetapi, sayang sekali, ide tersebut ditolak pemerintah kolonial karena takut kehilangan kontrolnya terhadap organisasi berbasis Islam tersebut. Sebaliknya, pemerintah hanya mengakui SI-SI lokal. Sementara SI pusat hanya ditempatkan sebagai badan kerjasama dan koordinasi saja.

Kelihatannya, Tjokro dan pimpinan-pimpinan SI lainnya khawatir SI bernasib sama dengan Indische Partij (IP), organisasi politik yang didirikan oleh tiga serangkai, yakni Tjipto Mangungkusumo, Suwardi Suryaningrat, dan Ernest Douwes Dekker. IP adalah organisasi politik pertama di Hindia-Belanda yang menyerukan ‘Hindia untuk orang Hindia’. Dalam perjuangannya, IP juga menggunakan strategi non-koperasi. Dengan demikian, IP menentang rust en orde. Akibatnya, umur organisasi ini tidak panjang. Para pemimpinnya ditangkap dan dibuang keluar Hindia.

Dalam konteks itu, saya kira, kita mengerti betapa moderatnya Tjokro dan SI yang dipimpinnya di hadapan kolonial. Maka jangan heran, dalam GBT diperlihatkan kedekatan Tjokro dengan Rinkes. Kemana-mana ia ditemani oleh Rinkes.

Konsekuensinya, saya kira, Tjokro juga menolak penggunaan jalan kekerasan dalam memperjuangkan cita-cita politiknya. Sebab, jalan tersebut akan menganggu rust en orde. Ia tampak sebagai ksatria di bawah perlindungan pemerintah kolonial.

Tetapi,  saya melihat, GBT punya agenda lain. Dugaan saya, Garin hendak menunggangi sosok Tjokro yang moderat ini, dengan wajah Islam-nya yang anti-kekerasan, untuk menjawab problem radikalisme ekstrem, terutama radikalisme yang mengusung simbol-simbol agama, yang mewabah akhir-akhir ini. Masalahnya, Garin menganggarkan Tjokro yang anti-kekerasan itu terlepas dari konteks historisnya.

/5/ Semaun dan SI Merah

Tetapi, waktu itu, zaman sedang bergerak. Gaya politik dan strategi perjuangan Tjokro, yang masih mengabdi pada politik etis, sudah tidak memadai lagi untuk zamannya.

Di dunia internasional, gerakan nasionalis Asia, khususnya Tiongkok, Filipina, dan Turki, sedang bangkit. Di tahun 1911, di Tiongkok, revolusi nasional yang dikobarkan Sun Yat Sen berhasil menggulingkan kekuasaan feodal yang berkuasa ratusan abad. Tak lama kemudian, tepatnya 1917, revolusi proletar yang dipimpin Bolshevik berhasil menggulingkan kekuasaan Tsar di Rusia.

Di dalam Hindia, kondisi sosial-ekonomi rakyat makin memburuk. Desakan modal asing, terutama perkebunan tebu, mendesak dan merampas tanah milik rakyat. Sawah-sawah berubah menjadi lahan perkebunan tebu. Akibatnya, banyak petani yang berubah menjadi kuli di, baik di kota maupun perusahaan perkebunan.

Belum lagi, rakyat juga dibebani pajak yang tinggi dan kerjapaksa. Situasi inilah yang memicu radikalisme, terutama di daerah pedesaan. Dalam banyak kasus, tanpa kehadiran kaum pergerakan, radikalisme itu mengambil bentuk pada aksi-aksi sepihak berupa pembakaran kebun-kebun tebu milik kapitalis.

SI sendiri tidak bisa menghindar dari radikalisme itu. Dua pemberontakan rakyat yang terjadi di tahun 1919, yakni pemberontakan rakyat di Toli-Toli (Sulawesi tengah) dan Garut (Jawa barat), melibatkan tokoh dan organisasi SI setempat. Dengan demikian, Isu agraria yang dikumandangkan Semaun dan SI Semarang bukanlah isapan jempol belaka.

Dalam konteks itulah kita mesti melihat kemunculan Semaun, Darsono, Mas Marco, dan Haji Misbach. Ketiganya menjadi pelakon utama yang memimpin rakyat Hindia yang sedang bergerak. Ketidakpuasan umum, terutama petani dan kuli-kuli, telah memanggil Semaun dan SI semarang untuk bertindak mewakili kepentingan mereka.

Di bawah Semaoen, SI Semarang lebih banyak menggarap isu-isu yang menyentuh rakyat banyak, terutama kaum buruh dan petani. Sebagimana dicatat Soe Hok Gie dalam skripsi yang kemudian dibukukan dengan judul ‘Di Bawah Lentera Merah’, ada lima isu yang digarap intensif oleh SI Semarang: membela kaum tani dari kerakusan kapitalis perkebunan, menolak pembentukan milisi Bumiputera (Indie Weerbaar), melawan wabah pes, pembelaan terhadap Sneevliet yang didera delik pers (persdelict), dan membela nasib kaum buruh.

Semaoen menjadi pengeritik pedas Volksraad. Menurutnya, dari komposisi anggota Volksraad yang terpilih, hampir tidak ada yang mewakili kaum kromo. Sebagian besar mewakili ‘goepermen’, kapitalis, ningrat, dan boneka Belanda. Karenanya, ia menyebut Volksraad sebagai ‘omong-kosong’; komedi (toneel).

Dalam perkembangannya, SI Semarang berkembang pesat. Pada tahun 1916, sebelum Semaun tampil sebagai Ketua, anggota SI Semarang hanya 1700 orang. Namun, hanya dalam setahun setelah Semaun memimpin, keanggotaan SI Semarang naik berlipat-lipat kali menjadi 20.000-an orang.

Sayangnya, di GBT kita melihat sosok Semaun yang lain: seorang radikal tanpa gagasan yang memadai. SI Semarang—kelak disebut ‘SI Merah’—digambarkan sebagai “Islam pemarah’. Sebaliknya, SI Tjokro digambarkan sebagai seorang ahli strategi politik yang cerdas tapi tenang. Persis seperti kata-kata Tjokro yang termasyhur: “setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat.”

Padahal, tak ada yang menyangkal bahwa Semaun adalah pemuda cerdas, terampil berorganisasi, dan agitator yang hebat. Semua keterampilan itu diraih melalui pembelajaran informal dan otodidak. Juga, tak ada yang menyangkal, bahwa di usia yang relatif sangat muda, yakni 19 tahun, dia sudah menjadi Ketua SI Semarang. Dan di usia 21 tahun, dia sudah menjadi Ketua partai: Perserikatan Komunis Hindia (PKH)—kelak berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).

Di saat bintang Semaun semakin benderang, Tjokro justru semakin meredup. Karenanya, seperti dicatat Takashi Shiraishi, pada tahun 1917, di kongres CSI (SI Pusat) di Batavia, nada bicara pidato Tjokro mendadak menjadi militan. Ia bicara tentang pemerintahan sendiri, penentangan terhadap kapitalisme, dan tidak mentolerir dominasi manusia atas manusia.

Tak hanya itu, sebagai bentuk penolakannya terhadap feodalisme, Tjokro melancarkan gerakan Djawa Dipa, yang bertujuan menghapus bahasa Jawa tinggi (kromo) dan menjadikan bahasa Jawa rendah (ngoko) sebagai bahasa standar. Gerakan ini juga mengganti gelar priayi dengan gelar Djawa Dipa—sebutan “Wiro” untuk laki-laki dan “Woro” untuk perempuan yang sudah menikah. Sedangkan yang belum menikah dipanggil “Roro”.

Selain itu, Tjokro juga mulai ambil bagian dalam gerakan buruh dengan menyerukan SI untuk tampil dalam perjuangan ekonomi, pengorganisian buruh-tani, dan pembangunan koperasi rakyat. Tjokro juga mendukung pemogokan buruh dan perbaikan nasib bumiputera.

Dan di ranah gagasan, untuk mengimbangi pengaruh SI Semarang dan ISDV, Tjokro mulai mengunyah teori-teori marxisme dan sosialisme. Ia mulai menyerap ajaran sosialisme dan menyandingkannya dengan ajaran Islam. Hingga, pada tahun 1924, Ia berhasil menelurkan risalahnya yang terkenal: Islam dan Sosialisme.

Tetapi yang menarik, seperti juga digambarkan oleh GBT, Tjokro tidak alergi dengan ideologi yang beragam, termasuk sosialisme dan komunisme. “Semua ideologi itu baik. Yang bahaya adalah jika tangan ini digunakan untuk menerjemahkannya dalam bentuk kekerasan,” kata Tjokro

/6/ Pesan-Pesan GBT

Selain itu, seperti juga film Soegija (2012), Garin banyak menumpangkan pesan-pesan melalui GBT. Diantaranya: kemanusiaan, pluralisme, dan anti-kekerasan.

Dan, seperti juga Soegija, pesan-pesan itu dititipkan melalui pelakon-pelakon tambahan. Dalam GBT kita menemukan sosok Stella (Chelsea Islan), seorang keturunan Indo yang bekerja sebagai loper koran.

Dalam satu adegan, Stella menanyakan kepada Tjokro perihal kedudukannya sebagai keturunan campuran ketika kaum pribumi punya pemerintahan sendiri kelak. “Siapakah penduduk asli itu? Ayahku Belanda dan ibuku adalah perempuan Bali yang ingin belajar masakan Hindia Belanda. Lalu siapakah aku, Tuan Tjokro?” tanya Stella.

Saya kira, melalui pertanyaan Stella itu, Garin hendak menyindir isu dikotomi pribumi dan non-pribumi yang masih mengemuka hingga sekarang ini. Juga mengeritik praktek diskriminasi dan rasialisme terhadap golongan minoritas.

Juga ada sosok Abdullah (Alex Abbad), seorang Islam keturunan Yaman yang berkolaborasi dengan kolonialis Belanda untuk menindas pergerakan rakyat Indonesia. Juga ada sosok Mbok Tun (Tunik), pembantu di rumah Tjokro, yang penampilannya mengocok perut penonton dengan gaya bicara ceplas-ceplosnya.

Lalu ada sosok dari pewayangan, Bagong, yang kemana-mana membawa tongkat imut berkepala bintang. Bagong berperan sebagai pembawa pesan dan pemantik diskusi dengan Stella. “”Zaman baru telah lahir, Bagong!” kata Stella kepada Bagong.

Dan terakhir ada sosok Cindil, si penjual kursi. Ia menjual kursi di acara-acara vergadering SI. Dan dalam sebuah adegan, Cindil menyindir perilaku elit politik saat ini. “Semua orang butuh kursi!” katanya. Belakangan Cindil digambarkan tertarik dan menjadi anggota SI. Kemana-mana ia mempropagandakan bahwa SI memperjuangkan ‘sama rata, sama rasa’.

/7/ Sejumlah Koreksi

Ada beberapa hal perlu dikoreksi dari GBT:

Pertama, penggambaran soal tokoh sosalis Belanda, Henk Sneevliet, yang punya kontribusi besar dalam memasok teori-teori dan strategi perlawanan di masa pergerakan.

Dalam GBT, Sneevliet digambarkan sangat terkagum-kagum dengan pergerakan pribumi, terutama pengorganisasian massa-nya, karena tidak pernah dilakukan kaum sosialis di Belanda. Di GBT, Sneevliet bilang, “di Belanda kami hanya diskusi di bar dan cafe.”

Garin mungkin lupa, sebelum terbuang ke Indonesia, Sneevliet adalah tokoh gerakan buruh di Belanda. Ia memimpin serikat buruh kereta api dan trem di negerinya. Ketika masih di Belanda, Sneevliet memimpin sejumlah pemogokan buruh. Tahun 1912, ia meninggalkan Belanda karena kecewa dengan gerakannya dihambat oleh serikat buruh yang moderat.

Di Indonesia, Sneevliet berkontribusi besar dalam memasok pemikiran revolusioner tokoh muda SI, seperti Semaun, Darsono, dan lain-lain. Sneevliet juga berjasa menggeser pandangan sejumlah sosialis Belanda, yang awalnya pasif dalam perjuangan anti-kolonialisme di Indonesia menjadi mendukung perjuangan anti-kolonial.

Kedua, Kita disuguhi adegan yang menggambarkan kejadian yang kurang dijelaskan. Salah satunya adalah pemberontakan rakyat Garut, Jawa Barat, tahun 1919. Tiba-tiba saja kita disuguhi gambar Haji Hasan, pimpinan pemberontakan, sedang berzikir sembari memberikan ilmu kebal kepada para pengikutnya. Tak lama kemudian, mereka keluar rumah, berjejer, dan menjadi makanan empuk peluru-peluru Belanda.

Padahal, kejadian inilah yang menjadi pemicu penangkapan Tjokroaminoto. Peristiwa itu dikaitkan dengan kasus “Afdeling B”, sebuah gerakan rahasia yang sedang menyiapkan pemberontakan terhadap penguasa kolonial. Dan Tjokro dianggap terkait dengan gerakan tersebut.

Ketiga, pertempuran jalanan antara pribumi dan Tionghoa di Surabaya. Ini agak membingungkan saya. Peristiwa apa sebetulnya yang hendak disampaikan GBT dengan berbagai gambar itu.

Akhirnya, saya mencoba mereka-reka. Memang, setelah meletusnya revolusi demokratik di Tiongkok tahun 1911, pengaruhnya sampai juga ke kalangan Tionghoa di Indonesia. Nasionalisme Tionghoa di Hindia bangkit. Ini memicu bentrokan dengan penguasa kolonial. Pada Februari 1912, di Surabaya, Belanda melarang pengibaran bendera Tiongkok. Inilah yang memicu kerusuhan antara Tionghoa dan polisi.

Selain itu, sebelum bertransformasi menjadi SI, awalnya adalah organisasi ronda/keamanan—di Solo disebut “Rekso Rumekso”. Di Surabaya, Tjokro sempat membentuk organisasi ronda bernama ‘Talang Pati’ (berani mati), untuk melindungi penduduk dari perkelahian antara Tionghoa dan Arab.

Keempat, Tjokro dikenal sebagai ‘raja mimbar’, yang gaya dan isi pidatonya bisa menyihir massa hingga bisa bertahan menyimak pidatonya hingga selesai. Sayang, Reza Rahardian kurang berhasil memerankan keahlian tersebut.

Kelima, GBT memperlihatkan rumah Tjokro yang menjadi tempat indekos sejumlah anak muda, seperti Soekarno, Semaun, dan Musso. Ada satu anak kos rumah Tjokro yang tidak muncul sama sekali, yakni Kartosuwiryo. Entah apa alasannya.

Tetapi saya terpukau dengan koor yang menampilkan sejumlah perempuan yang menyanyi ceria. Juga lagu “internasionale”, yang selama ini menjadi lagu wajib kaum sosialis dan komunis, bisa lolos sensor di film ini. Apalagi ketika internasionale dinyanyikan dengan riang oleh Semaoen dan kawan-kawannya di dalam gerbong kereta.

Saya kira, kita patut mengapresiasi kehadiran GBT. Ini adalah film pembelajaran politik dan sejarah. Inilah ruang bagi kita untuk melihat kembali sejarah perjuangan bangsa ini. Agar kaum muda Indonesia, yang akan menjadi pewaris bangsa ini, bisa mengenal salah satu sosok guru bangsanya.

Rudi Hartono

Guru Bangsa Tjokroaminoto | 2015 | Durasi: 161 menit | Sutradara: Garin Nugroho | Negara: Indonesia | Pemeran: Reza Rahadian, Putri Ayudya, Maia Estianty, Christine Hakim, Ibnu Jamil, Alex Komang, Tanta Ginting, Chelsea Islan, Sudjiwo Tedjo, Gunawan Maryanto

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut