Membebaskan Pendidikan Dari Belenggu Neoliberal

Beberapa pekan yang lalu, hampir semua pelajar SMU di Indonesia sudah mengikuti Ujian Nasional (UN). Ada banyak cerita pilu dan sekaligus menyedihkan saat pelaksanaan Ujian Nasional itu. Sebut saja: masih ada murid yang tidak boleh ikut UN karena belum bayar SPP, siswi hamil dilarang ikut UN, adanya soal yang bocor, tawuran pasca UN, dan lain sebagainya.

Selain itu, sudah berbulan-bulan mahasiswa Universitas Airlangga berjuang keras menentang kebijakan rektorat untuk menaikkan Sumbangan Peningkatan dan Pengembangan Pendidikan (SP3), yang dianggap akan memberatkan calon mahasiswa baru dari kalangan menengah dan miskin. Kejadian semacam ini bukan cuma terjadi di Unair, tetapi terjadi juga di kampus-kampus lain di Indonesia.

Ada banyak yang tahu, bahwa penetapan tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional mengacu pada kelahiran Ki Hajar Dewantara. Sayang sekali, pengetahuan mereka cuma sampai di situ, dan masih sangat jarang yang mengulas fikiran-fikiran Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan nasional.

Mengenai peranan Ki Hajar Dewantara dalam meletakkan dasar pendidikan, Bung Karno punya komentar berikut: “Karangan-karangan beliau (Ki Hadjar Dewantara) adalah sangat luas serta mendalam, yang tidak saja membangkitkan semangat perjuangan nasional sewaktu jaman penjajahan, tetapi juga meletakkan dasar-dasar yang kuat bagi pendidikan nasional yang progresif untuk generasi sekarang dan generasi mendatang”.

Pada kenyataannya, wajah pendidikan nasional saat ini sangat bertolak belakang dengan semangat Ki Hajar Dewantara. Ada beberapa persoalan krusial yang menjadi bukti bahwa penyelenggaraan pendidikan sekarang telah berkhianat dari gagasan Ki Hajar Dewantara: (1) pendidikan tidak lagi diselenggarakan secara terencana oleh negara dan masyarakat, tetapi sekarang diserahkan kepada mekanisme pasar. (2) tujuan-tujuan pendidikan bukan lagi untuk mencerdaskan rakyat dan memajukan bangsa, melainkan melayani akumulasi profit dan penyedia tenaga kerja murah untuk industri kapitalis.

Akibat dari point pertama adalah adanya pelemparan tugas dari negara dan masyarakat kepada rumah tangga atau individu. Akibatnya, negara tidak lagi berkewajiban untuk menyediakan pendidikan kepada setiap rakyat, tetapi setiap rumah tangga atau individu harus mencari sendiri jalannya untuk mendapatkan pendidikan. Di sini, hanya mereka yang berduitlah yang bisa menikmati pendidikan.

Sementara akibat dari yang kedua adalah nilai-nilai dari pendidikan nasional, seperti kerakyatan, nasionalisme, anti-kolonialisme, dan kemanusiaan, sudah mulai menghilang atau dihancurkan, lalu digantikan dengan faham-faham baru seperti individualisme, hedonisme, pragmatisme, dan lain-lain. Dengan demikian, pendidikan tidak lagi mencipakan apa yang dikatakan oleh Multatuli: “tugas manusia adalah menjadi manusia”. Tetapi, berlawanan dengan itu, pendidikan justru melahirkan apa yang disebut oleh Soe Hok Gie seperti sejenis kerbau yang gampang ditarik atau dibawa-bawa kemana-mana tergantung tuannya menghendaki.

Kita berhadapan dengan dua pilihan yang oleh Tan Malaka, salah seorang pengajar sekolah rakyat di Semarang pada tahun 1921, dikatakan memilih “didikan kerakyatan” atau “didikan kemodalan”. Jika kita memilih “didikan kerakyatan”, maka itu berarti masih ada harapan untuk keluar dari belenggu neo-kolonialisme dan memberi jalan baru untuk kemajuan bangsa di masa depan. Tetapi, jika kita memilih “didikan kemodalan”, maka kita hanya akan menunggu kapan kita musnah sebagai bangsa dan juga sebagai manusia.

Oleh karena itu, bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional hari ini, marilah kita berjuang keras untuk mengembalikan pendidikan kepada jalurnya yang benar, yaitu gagasan-gagasan Ki Hajar Dewantara dan para founding fathers bangsa lainnya. Sudah saatnya pendidikan diselenggarakan oleh negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, muatan dan kurikulumnya harus ilmiah dan demokratis serta mengembangkan kepribadian yang tangguh, kepercayaan pada diri sendiri, harga diri dan cinta kepada rakyat miskin.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Amali

    Konsep pendidikan NKRI mengacu kepada PENGGANTUNGAN CITA CITA NUN JAUH DILANGIT……gurunya yang nggak punya ilmunya (bikin jarum jahit saja nggak bisa apalagi roket dan satelit) jadi yang diajarkan adalah yang “SALEABLE”…lha barang barang yang saleable nggak bisa “merancangnya”, makanya demi PERCEPATAN PENGENTASAN KEMISKINAN…..dicari gampangnya saja….kalau perlu ngutang……wong yang diutangi malah senang…..Nggak usahlah kita teriak teriak nyalahkan para pemimpin……minta saja kebijakan pemimpin PAJAK PENJUALAN (TERUTAMA EKSPOR IMPOR) dibayar sesuai PRODUKNYA (back to capital base bukan finance base)……kalau benar benar dijalankan nggak ada rakyat dipedesaan dan gunung gunung kelaparan PASTI Mie Pangsit , Burger , susu kaleng dibagi keorang miskin cukup pakai KUPON saja…..ayo kalau nggak percaya kita coba yuk….(misalnya di mall dan angkutan masal)