Membangun Harapan Di Tahun 2012

Kita sudah menginjak tahun 2012. Banyak harapan yang tersemai di tahun baru ini. Setidaknya, bagi sebagian besar rakyat Indonesia, kehidupan di tahun 2012 harus jauh lebih baik dibanding tahun sebelumnya.

Bagi sebagian besar rakyat Indonesia, tahun 2012 harus memberi kepastian akan kehidupan mereka. Setidaknya, negara harus menjamin hak-hak rakyat yang bersifat dasar: hak untuk mendapatkan penghidupan yang layak, hak berserikat dan menyatakan pendapat, hak untuk ikut serta dalam kehidupan politik, dan hak beragama atau kepercayaan tertentu.

Mari melihat sekilas kehidupan rakyat di tahun 2011. Sepanjang tahun, kehidupan rakyat sangat sulit. Sebagian besar diakibatkan oleh kebijakan neoliberal yang makin menderas. Harga-harga sembako terus melangit karena pemerintah lepas tangan terhadap pasar. Produk pertanian dalam negeri membusuk karena diserbu oleh produk impor. Industri dalam negeri terus berjatuhan karena pemerintah meliberalkan perdagangan. Nilai real upah buruh kian merosot karena pemerintah setuju mempraktekkan politik upah murah. Layanan publik serba mahal karena perusahaan-perusahaan negara sudah dijual kepada swasta. Masih banyak lagi yang tidak tersebutkan…

Sementara itu, pada saat yang bersamaan, perusahaan asing makin lahap dalam menguras kekayaan alam kita: minyak, batu bara, gas, tembaga, emas, bauksit, dan lain-lain. Mereka juga merampas tanah-tanah rakyat, mencemari lingkungan kita, dan menggunduli hutan kita. Begitu rakyat memprotes hal itu, pemerintah hanya menjawab singkat: “jangan ganggu investasi. Inilah motor pembangunan!”

Tahun 2011 adalah tahun neokolonialisme 100%. Rejim SBY-Budiono doyan betul mengikuti jalan neoliberal. Padahal, seperti banyak diperingatkan banyak cendekiawan, neoliberal merupakan jubah baru dari neokolonialisme.

Karena itu, menghadapi tahun 2012, kami menjadi sangat khawatir. Pasalnya, kita masih menapaki tahun 2012 dengan rejim dan haluan ekonomi yang masih sama: neokolonialisme. Saya menjadi khawatir, tahun 2012 justru akan menjadi tahun intensifikasi neokolonialisme.

Kekhawatiran kami kian menjadi-jadi, tatkala Presiden SBY menyampaikan pidato menyambut tahun 2012. Dalam pidatonya yang cukup singkat, SBY mengimbau agar setiap kalangan untuk menciptakan “kestabilan politik”. Singkatnya, Presiden meminta agar jangan lagi ada “kegaduhan politik”. Ironisnya, pidato itu disampaikan atas nama rakyat Indonesia.

Himbauan SBY di atas adalah ironi. Bagaimana mungkin orang disuruh tenang, sementara kebijakan negara membiarkan pihak kolonialis menjarah kesejahteraan rakyat secara brutal.  Bagaimana mungkin rakyat disuruh diam, sementara tanah-tanah mereka dirampas oleh perusahaan asing. Bagaimana mungkin kita tidak mengeluarkan suara protes, jika rejim berkuasa membiarkan kolonialisme merampok seluruh kekayaan alam dan sumber-sumber kemakmuran rakyat kita.

Artinya: jika SBY menyuruh kita diam, itu berarti dia menghendaki agar penindasan terhadap rakyat jangan diganggu. Dia menghendaki penembakan petani di berbagai daerah tidak usah dipersoalkan. Ia menghendaki agar penindasan terhadap pemogokan buruh dibiarkan saja.

Himbauan SBY membawa pesan sangat dalam: jangan ada kegaduhan politik, supaya proyek neokolonialisme berjalan terus. Yang dibutuhkan oleh SBY adalah ketenangan dan kestabilan bagi proyek neokolonialisme. Ini sama persis dengan gaya gubernur jenderal Hindia-Belanda dulu.

Pidato SBY itu hendak membunuh harapan kita di tahun 2012. Kita perlu tegaskan: selama praktek neokolonialisme masih berlangsung, maka tidak mungkin terjadi perubahan dalam kehidupan rakyat kita. Oleh karena itu, menapaki tahun 2012 ini, mari menggelorakan perlawanan terhadap neokolonialisme. Mari gelorakan terus “Gerakan Nasional Pasal 33 UUD 1945!”

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut