Melawan Penjajahan Asing Dengan Pancasila

Deputi Bidang Pendidikan Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas), Mayjend TNI Tony S.B Hoesodo, mengajak Partai Rakyat Demokratik (PRD) menggunakan Pancasila sebagai senjata melawan penjajahan asing atau imperialisme.

Ajakan tersebut disampaikan oleh Tony saat menjadi pembicara dalam seminar bertajuk “Pertahanan dan Keamanan Nasional Menurut Trisakti” di hotel Acacia, Rabu (25/3/2015). Seminar ini merupakan rangkaian dari acara Kongres ke-8 PRD.

“Jika Pancasila benar-benar dipahami, dihayati, dan dijalankan dengan sebenar-benarnya, maka penjajahan atau imperialisme itu tidak akan mungkin ada,” ujar Tony.

Karena itu, Tony mendukung upaya PRD memperjuangkan masyarakat berkeadilan sesuai amanat Pancasila. Ia juga berharap PRD menjadi partai yang konsisten mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sementara itu, anggota Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Soeripto, berbicara tentang kadaluarsanya cara pandang intelijen era Orde Baru yang melihat ‘ekstrem kanan/eka’ dan ‘ekstrem kiri/eki’ sebagai ancaman terhadap pertahanan nasional.

Menurutnya, ancaman nyata terhadap keamanan nasional sekarang ini justru muncul dalam bentuk baru, yakni globalisasi neoliberal. Kata dia, sistem yang berdasarkan eksploitasi ini harus dilawan secara bersama-sama.

Karena itu, mantan petinggi Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) ini mengapresiasi perjuangan PRD dalam melawan neoliberalisme. Namun, dia menggarisbawahi bahwa perjuangan melawan neoliberalisme tidak bisa dilakukan sendirian.

“Saya sebagai anggota MPP PKS siap bekerjasama dengan PRD (Partai Rakyat Demokratik). Jangan kita sok jagoan menghadapi neoliberalisme sendirian. Kita harus bersatu,” serunya.

Dalam kerangka melawan neoliberalisme, Soeripto mengajak PRD berjuang secara linear dan non-linear. Perjuangan linear bisa ditempuh melalui perjuangan parlementer. Sedangkan perjuangan non-linear ditempuh dengan merespon keadaan yang semakin memburuk.

“Linier adalah target pemilu 2019, non-linier misalnya rupiah sekarang anjlok 19 ribu, apa yang akan PRD lakukan,” kata pria yang kerap dianggap ‘tokoh intelijen tiga zaman’ ini.

Terkait stigma ‘komunis’ yang kerap disematkan ke PRD, Soeripto menyatakan kesediaannya secara pribadi untuk mengadvokasi PRD melawan tuduhan tersebut. Baginya, PRD adalah gerakan progressif yang dibutuhkan bangsa Indonesia.

“PRD adalah gerakan visioner. Jangan memandang ke belakang terus. Saya siap jadi advokat PRD,” tegasnya.

Ia berjanji, sikapnya terhadap PRD ini akan disampaikan juga kepada PKS, baik di daerah maupun di pusat.

Tedi CHO

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut