Melacak Jejak Kebangsaan Bersama Sang Merah Putih

Bung Karno dalam pidato 1 Juni 1945 menyampaikan bahwa “Kita hanja 2 kali mengalami nationale staat yaitu didjaman Sri Widjaja dan didjaman Madjapahit. Diluar dari itu kita tidak mengalami nationale staat… Nationale staat hanja Indonesia seluruhnja, jang telah berdiri didjaman Sri Widjaja dan Majapahit dan kini pula kita harus dirikan bersama-sama.”

Atas dasar pemahaman sejarah kekuasaan Sriwijaya dan Majapahit inilah Bung Karno menyampaikan dasar Negara yang pertama, yaitu Kebangsaan Indonesia. “Kebangsaan Indonesia jang bulat! Bukan kebangsaan Djawa, bukan kebangsaan Sumatera, bukan kebangsaan Borneo, Sulawesi, Bali atau lain-lain tetapi kebangsaan Indonesia, jang bersama-sama mendjadi dasar satu nationale staat.”

Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa geopolitik nusantara sebagaimana yang sudah dicapai Sri Wijaya dan Majapahit adalah cita-cita ideal tempat seharusnya sebuah bangsa dan negara  kekuasaan berdiri di Nusantara. Visi dan Misi pendirian kekuasaan bisa berganti-ganti tapi kesatuan wilayah nusantara itulah yang menjadi landasan ideal tempat berdirinya Nationale staat.

Dalam sejarah, sebagaimana kita tahu visi menyatukan nusantara itu pertama kali digagas dan dilaksanakan oleh Kertanegara, raja terakhir Singhasari yang memerintah dari tahun 1268 – 1292 M. Politik menyatukan Nusantara Kertanagara ini tumbuh dengan bersemangat karena dihadapkan pada politik penaklukan Kekaisaran Mongol yang berjubah Tiongkok, yaitu Khubilai Khan, pendiri Dinasti Yuan. Itulah yang dihadapi secara langsung oleh Kertanaga, Raja Singhasari. Permintaan untuk tunduk kepada Kekaisaran Mongol dibalas Kertanagara dengan mempermalukan Khubilai Khan sehingga Khubilai Khan yang marah kemudian mengirimkan armada penghukum terhadap Kertanagara dan Singasari. Armada penghukum itu berjumlah 1000 kapal; mengangkut sekitar 20 ribu prajurit  dengan perbekalan 1 tahun.

Kertanagara tentu saja tahu akibat-akibat menentang Khubilai Khan. Jauh hari sebelum Dinasti Song Selatan dihancurkan Khubilai Khan pada tahun 1279 masehi, Kertanagara pun sudah mulai bersiap menghadapi penyerangan Mongol dengan mengirimkan bala tentara melalui ekspedisi Pamalayu pada tahun 1275 agar bisa mencegah bala tentara Mongol memasuki perairan Jawa dan menjalin persekutuan dengan negara-negara asia tenggara, seperti Champa yang menolak tunduk pada Kekaisaran Mongol, kekuatan super power pada waktu itu.

Pasukan ekspedisi Pamelayu itu berangkat dari Pelabuhan Tuban dengan mengibarkan panji-panji (bendera) Merah-Putih, panji-panji yang kemudian juga dikibarkan oleh Majapahit hampir selama 300 tahun;  kemudian juga oleh Republik Indonesia hingga usianya yang ke-71 pada tahun ini. Dari cerita Pramoedya Ananta Toer, Arus Balik,  bendera Merah Putih tampak pernah mendapatkan saingan yang keras dari  kekuasaan baru yang sedang tumbuh:

“Kupu-tarung lebih bagus daripada merah-putih,”

“Seluruh merah-putih majapahitan itu akan tumpas dari muka bumi.”

“Tentu.”

(Baca: Pramoedya Ananta Toer, Arus Balik, Hasta Mitra, Jakarta, 2002;8)

*

Sayang sekali, Singhasari di bawah kuasa Kertanagara yang sudah bersiap itu tidak mendapatkan kesempatan untuk menghadapi bala tentara Mongol. Kertanaga dijatuhkan dan Singhasari pun tamat. Tetapi jelas bagi kita, visi Kertanagara tidak pernah tamat dan berakhir. Gajah Mada melanjutkan visi ini dan mempertebal tekad dan memperkuat semangat dengan melakukan Sumpah Palapa.

Kita tidak akan bisa memahami semangat Sumpah Palapa Gajah Mada yang asketik itu  jika tidak memahami ritual religi tantris Kertanagara, yang bisa diidentikkan dengan sekadar pesta pora: menari hingga ekstase, makan sepuasnya, minum hingga mabuk-mabukan disertai (sex?)  itu sebagaimana ditulis dalam Pararaton. Tapi jelas bahwa Kertanagara begitu dihormati dalam tradisi Majapahit sebagaimana ditunjukkan dalam Kitab Negarakertagama karya Prapanca:”..dia (Kertanagara) orang suci dan berpantang, bebas dari segala hawa nafsu. Prapanca tidak menyangkal bahwa raja itu minum banyak arak, tapi menjelaskan bahwa minum adalah bagian dari kewajibannya, karena raja suci itu hidup pada masa ketika kekacauan melanda seluruh dunia dan pelampiasan nafsu serta praktik ritualnya yang sakti memampukan dia memelihara tata tertib di Jawa dan sekitarnya. (Baca juga: Bernard H.M. Vlekke, Nusantara, sejarah Indonesia, Kepustakaan Populer Gramedia, Cet. III 2016; 58-59)

Keluasan wilayah itu sendiri semakin diperkokoh dan disatukan oleh ratusan tahun penjajahan Belanda yang menimbulkan perasaan senasib sepenanggungan rakyat dan bangsa-bangsa di nusantara sehingga semakin mantab dan bulat tekad untuk menjadi satu bangsa, satu tanah air  dan satu bahasa, sebagaimana ditunjukkan dalam Sumpah Pemuda 1928.

Dalam hal tertentu, pendudukan Belanda yang berpanjikan Merah-Putih-Biru mengingatkan serangan Khubilai Khan yang menyebabkan panji-panji Merah-Putih mulai dikibarkan sebagai lambang perlawanan. Merah-putih terus berkibar ratusan tahun di nusantara di bawah Majapahit. Kesatuan Kebangsaan yang tak merdeka di bawah kekuasaan Merah-putih-biru Belanda itu di nusantara, tentu memudahkan jiwa-jiwa merah-putih nusantara di masa lalu  untuk mengembalikan ingatan kejayaannya bersama Merah Putih.

Begitulah Bung Karno pun tak bisa mengelak pada Pidato 1 Juni 1945 yang sedang mencari dasar negara yang hendak didirikan itu yaitu mengingat Majapahit. Republik Indonesia pun lantas mengambil semangatnya dari Merah-Putih hingga hari ini yang barangkali Merah-Putih itu adalah hasil renungan seorang Tantris, the drunken master of Nusantara: Kertanagara, yang kontroversial.

AJ Susmana, Wakil Ketua Umum Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP PRD) dan penggiat Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut