Media Dan Pemberitaan Yang Sensasional

Raja kerajaan media dunia, Rupert Murdoch, dilempar es krim oleh seorang demonstran saat ia menghadiri panggilan komite khusus parlemen Inggris. Tidak hanya itu, pemilik mingguan News of The World juga harus emosional tatkala dicecar pertanyaan oleh anggota perlemen.

Rupert Murdoch harus menerima kejadian pahit itu lantaran kemarahan publik Inggris atas perilaku salah satu media miliknya, News of The World, yang telah melakukan penyadapan terhadap sejumlah tokoh dan masyarakat biasa, guna mendapatkan pemberitaan yang sensasional dan bombastis.

Rakyat Inggris sudah terlanjur jijik dengan kejadian itu. Mereka telah merasa ditipu oleh berbagai sensasi dan pemberitaan bombastis media. Media milik kerajaan bisnis Rupert Murdoch itu dikenal punya kebiasaan menggembor-gemborkan skandal seks dan gossip miring tentang para politisi, selebritis, keluarga kerajaan Inggris, dan keluarga orang biasa yang dieksploitasi.

Agaknya, apa yang terjadi di Inggris bisa menjadi pelajaran berharga bagi pemilik media dan jurnalis di Indonesia. Pasalnya, dalam perkembangan akhir-akhir ini, media massa di Indonesia juga hampir mengalami penyakit yang sama dengan News of The World.

Kasus paling terbaru adalah Briptu Norman dan Nazaruddin. Seorang polisi yang pintar menyanyi dan berjoget adalah hal yang biasa, tetapi oleh media telah diubah seolah-olah menjadi hal yang luar biasa. Parahnya: pemberitaan tentang briptu Norman mendominasi layar kaca dan lembaran-lembaran koran harian, sedangkan berita tentang kelaparan dan penderitaan rakyat tak sedikitpun diberikan tempat.

Begitu pula dengan kasus Nazaruddin. Pemberitaan Nazaruddin yang terlampau dominan, sampai-sampai harus ada breaking news untuk menampilkan percakapan via telponnya, membuat kita seperti ‘mabuk kepayang’ dengan topic itu. Situasi ini akan diperparah jika media tidak melakukan verifikasi atau mengabaikan akurasi. Misalnya, dikatakan bahwa Nazaruddin berada di luar negeri, tetapi sebuah rekaman ulang memperlihatkan bahwa Nazaruddin masih di Indonesia—karena ada jingle ‘sari roti’ saat percapakan Nazaruddin.

Kami jadi teringat dengan kritik Njoto, pemimpin redaksi Harian Ra’jat—koran harian milik Partai Komunis Indonesia (PKI)—terhadap adagium pers borjuis: “Anjing menggigit manusia bukanlah berita, tapi sebaliknya manusia menggigit anjing itulah berita.” Bagi Njoto, konsep atau resep seperti di atas adalah konsep dan resep jurnalisme borjuis. Katanya, jurnalisme borjuis menganggap kesakitan orang yang digigit anjing bukanlah sesuatu yang disukai pembaca tetapi orang yang menggigit anjing sebagai peristiwa aneh, sensasional, dan menghibur itulah yang harus ditulis karena layak dijual. Jurnalisme semacam itu tidak peka dengan penderitaan orang, tetapi sangat peka terhadap celah-celah untuk mencari-cari keburukan orang.

Lebih lanjut, Noam Chomsky, seorang kritikus dan ahli lingustik terkenal, menyatakan bahwa hal itu terjadi karena beberapa hal: (1) kepemilikan media terkonsentrasi pada segelintir pemilik modal atau konglomerat yang punya relasi dengan kekuatan-kekuatan politik atau parpol tertentu, (2) orientasi komersil yang terlampau berlebihan, dimana iklan menjadi sumber pendapatan utama, dan (3) tradisi jurnalisme yang masih konvensional, karena masih menggantungkan sumber informasinya pada segelintir elit di dalam masyarakat: pejabat pemerintah, tokoh politik, pakar atau ahli, artis/selebriti dan lain-lain.

Kami beranggapan bahwa demokrasi yang sehat hanya mungkin terjadi jika masyarakat benar-benar terpastikan mendapatkan informasi yang benar. Jika gaya jurnalisme yang mengejar sensasi dan bombastisme masih dominan, maka tidak mungkin ada informasi yang benar-benar akurat dan dapat dipertanggung-jawabkan.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut