Media Dan Keberpihakan Kepada Kekuasaan Dan Bisnis

Apakah anda puas dengan informasi dari media massa saat ini? Perkembangan teknologi telah memungkinkan informasi berpacu dengan waktu. Dengan mejeng sebentar di depan laptop, anda bisa ‘mengklik’ berbagai informasi dari berbagai belahan dunia.

Lalu, apakah dengan hal itu rakyat kita bertambah cerdas? Ah, jangan bicara pencerdasan rakyat. Perkembangan media massa sudah sampai pada titik yang memprihatinkan: mengontrol dan mengarahkan seluruh aspek kehidupan dan perilaku rakyat banyak.

Edward S. Herman dan Noam Chomsky mungkin pemikir pertama yang berusaha membongkar politik keberpihakan media secara lengkap. Karya keduanya, Manufacturing Consent: The Political Economy of the Mass Media, seolah menjadi kitab suci para kritikus media untuk membongkar tabir gelap tersebut.

Kedua pemikir AS itu memulai dengan sebuah postulat dasar: media massa berfungsi untuk memobilisasi dukungan kepada kepentingan khusus klas yang mendominasi negara dan swasta.

Herman dan Chomsky menguraikan lima filter untuk menjelaskan mengapa media arus-utama di AS selalu menjadi propagandis kepentingan elit. Pertama, yang mempengaruhi isian media massa adalah kepemilikan media yang sangat terkonsentrasi di tangan segelintir elit atau korporasi besar. Secara objektif, kata Herman dan Chomksy, kebutuhan mereka mengenai keuntungan sangat mempengaruhi operasi pemberitaan dan keseluruhan konten media.

Kedua, iklan telah menjajah media massa dan menjadi sumber pendapatan terbesar. Dalam banyak kasus, media akan sulit beroperasi secara bebas karena dikontrol oleh kepentingan pemilik iklan ini.

Ketiga, sumber informasi media. Media massa sangat bergantung pada informasi yang disediakan oleh pejabat pemerintah, pemilik bisnis, dan kelompok pakar. Media terkadang hanya mengunyah mentah-mentah press release atau pernyataan pemerintah. Media arus utama juga sering memilih narasumber yang tidak berbobot untuk menjelaskan suatu persoalan. Lebih parah lagi, sumber-sumber informasi ini, khususnya pejabat pemerintah dan kelompok bisnis, sering mensubsidi media bersangkutan. Akibatnya, mereka tidak menerobos pendapat yang sudah digariskan oleh si pemberi informasi.

Keempat, penciptaan apa yang disebut pakaian “anti-peluru” (flak) untuk mendisiplinkan media-media yang keluar jalur. Biasanya, senjata ini dipakai dengan mempertanyakan akurasi pemberitaan media massa. Dengan begitu, kelompok bisnis dan penguasa bisa melecehkan media bersangkutan. Dan, tidak ada pilihan lain selain mengikut petunjuk pemberitaan yang dikehendaki oleh kelompok bisnis.

Kelima, senjata anti-komunisme sebagai alat untuk mematikan atau mengkondisikan para pekerja media agar tetap berjalan dalam rel “kepentingan kapitalis”. Di Indonesia, senjata “anti-komunisme” sangat efektif untuk membuat media menjauh dari iklim yang progressif dan revolusioner.

Dengan demikian, kita jangan heran dengan model pelaporan media-media arus utama terhadap sejumlah isu sensitive: perang irak, invasi ke Afghanistan, agresi ke Libya, dan masih banyak lagi.

Di Indonesia, keadaan semacam itu juga terjadi. Kepemilikan media massa sangat terkonsentrasi di tangan segelintir kapitalis. Sudah begitu, sebagian besar kapitalis media itu sudah punya afiliasi politik dengan partai-partai besar: Golkar, Demokrat, PAN, dan Nasdem.

Pada tahun 2010 lalu, seorang professor dari Lincoln School of Journalism, Richard Lance Keeble, berusaha mengungkap keterkaitan berbagai media massa dengan lembaga intelijen Inggris dan AS.

Kata professor itu, lembaga intelijen sering memanfaatkan media massa untuk kepentingan propaganda mereka. “CIA, M15, dan M16 sering memanfaatkan media massa untuk mengembangkan cerita,” katanya.

Misalnya, sejak 1948-1977, lembaga intelijen Inggris (M16) mengoperasikan lembaga bernama Information Research Department Office (IRD), yang menampung banyak wartawan dan kantor berita di seluruh dunia. IRD, yang diciptakan oleh pemerintahan partai buruh, menciptakan banyak sekali propaganda palsu untuk menjatuhkan negara-negara sosialis.

Baru-baru ini, M16 juga menggunakan media massa untuk menyebarkan informasi palsu perihal keberadaan senjata pemusnah massal di Irak. Propaganda itu dimaksudkan untuk menakut-nakuti masyarakat eropa dan memaksa mereka menerima argumentasi penyerbuan ke Irak.

Pada tahun 1970-an juga tersingkap kejadian penting: CIA membuat perjanjian dengan New York Times untuk mempekerjakan 10 agen mereka sebagai wartawan atau pegawai di biro asing.

Bahkan, lebih mengejutkan lagi, CIA mempergunakan Gloria Steinem, yang juga dikenal sebagai seorang feminis, sebagai agen mereka untuk menyusup ke tengah-tengah gerakan mahasiswa marxist di eropa. Gloria Steinem selalu mengaku sudah radikal sejak mahasiswa dan menjadi marxist.

Pada bagian lain, dua penulis Kanada, Richard Poulin dan Melanie Claude, berusaha melihat bagaimana media menyebarkan seksualisme kepada remaja. Kaum muda dihadapkan dengan gambaran seksual di koran, internet, video game, dan TV.

Situasi ini, kata Richard Poulin dan Melanie Claude, menciptakan masyarakat hiper-seksual, dimana badan perempuan terfragementasi dan terobjektifikasi, dimana nilai keperempuanan tereduksi menjadi sekedar atribut fisik dan kemampuan mereka untuk tampil seksi dan menggoda.

Media massa kapitalis, yang telah memperlakukan perempuan sebagai komoditi, berperan dalam menormalkan dan mempromosikan pornografi dan prostitusi. “Pembebasan perempuan, salah satu agenda penting feminisme, telah diubah oleh pasar neoliberal menjadi kemudahan perempuan sebagai alat kesenangan laki-laki,” katanya.

Kedua penulis di atas melihat, hiperseksualisme di media massa dan “kebebasan seksual” dalam masyarakat kontemporer hanya menguntungkan laki-laki (Poulin and Claude, 312).

Dengan berkedok “trend atau gaya hidup terbaru”, dengan penekanan pada keseksian bentuk tubuh, membuat perempuan menjadi sasaran empuk perbudakan seksual dari para lelaki. Di sini, yang bermasalah bukanlah cara pandang laki-laki yang tidak bisa mengontrol nafsu, melainkan media massa yang mengarahkan dan mengkondisikan perempuan untuk menonjolkan seksualitasnya.

Media massa juga seringkali menjadi alat industri besar melalui kampanye kesehatan. Kita sering melihat bagaimana media menggunakan hasil penelitian kesehatan untuk menyimpulkan bahwa produk makanan tertentu tidak sehat dan membahayakan kondisi kesehatan.

Kebanyakan yang disebut “makanan tidak sehat” adalah makanan yang disajikan di pinggir jalan atau penjual makanan keliling, yang sebagian besar pelakunya adalah rakyat miskin. Sedangkan perusahaan makanan besar, yang tidak pernah membuka proses pembuatan makanannya ke publik, justru dianggap sehat hanya karena bermodalkan lisensi tertentu.

Hal-hal di atas hanyalah sebagaian kecil penjelasan bagaimana media massa menjadi instrumen kepentingan bisnis untuk kepentingan profit semata. Jadi, jangan berfikir media mencerdaskan rakyat. Akan tetapi, yang terjadi adalah sebaliknya: media menipu dan menghegemoni rakyat demi kepentingan kapitalisme.

IRA KUSUMAH (Kontributor Berdikari Online)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut