May Day 2015: Bersatu, Bergandengan Tangan Menghadang Imperialisme

Menjelang peringatan Hari Buruh Internasional lusa, saya jadi teringat kenangan 20 tahun lalu. Pada tanggal 1 Mei 1995, Persatuan Rakyat Demokratik (embrio Partai Rakyat Demokratik/PRD) dan organisasi sayap buruhnya, yaitu Pusat Perjuangan Perjuangan Buruh Indonesia (PPBI), memelopori unjuk rasa perayaan May Day (Hari Buruh Internasional) pertama pada era Orde Baru.

Perayaan dilaksanakan serentak di 2 kota, yaitu Jakarta dan Semarang. Saya dan beberapa kawan seperjuangan anggota Solidaritas Mahasiswa Indonesia Untuk Demokrasi (SMID) Yogyakarta turut berpartisipasi dalam aksi massa di Semarang. Saat mendekati Gedung DPRD Tingkat I Provinsi Jawa Tengah aksi peringatan tersebut segera berakhir karena dibubarkan secara paksa oleh pasukan dakhura dan pasukan trail yang secara membabi buta menabraki para peserta unras.

Memang begitulah keadaannya pada masa Orde Baru. Berlipatganda dari aksi Semarang itulah represi yang terjadi di Haymarket, Chicago, Amerika Serikat, pada bulan Mei 1886. Pemogokan kaum buruh dibubarkan secara paksa, ratusan orang tewas ditembak dan ratusan lainnya ditangkap sebagai upaya menghentikan gerakan buruh yang sudah melibatkan 400 ribu orang. Pemogokan massal tahun 1886 adalah salah satu puncak perjuangan buruh yang telah berlangsung sejak awal abad 19 dimana kaum buruh berjuang melawan penerapan jam kerja 12 hingga 20 jam sehari.

Meski menumpahkan darah ratusan pejuang, peristiwa Haymarket malah memberi semangat bagi kaum buruh di negeri lainnya. Pada tahun 1889 organisasi Persatuan Klas Buruh Se-Dunia pada kongres di Paris menetapkan tanggal 1 Mei 1890 sebagai Hari Buruh Internasional. Meski dewasa ini banyak dari kelas pekerja yang tidak mau lagi disebut buruh karena dianggap kurang bergengsi, kini, mereka juga menikmati sebagian hasil perjuangan kaum buruh sejak abad 19, yaitu 8 jam kerja, upah/gaji yang lebih layak serta lingkungan kerja yang lebih baik.

Peristiwa Haymarket hanyalah salah satu torehan sejarah. Dalam berbagai momentum, kaum buruh berbagai negeri juga menyumbangkan peran yang tidak kalah signifikan dari sektor masyarakat lainnya, termasuk dalam sejarah kemerdekaan RI, dimana embrio perlawanannya banyak mengandalkan sektor perburuhan seperti pemogokan buruh kereta api, buruh perkebunan, dan lain sebagainya. Berbagai bukti sejarah telah membuktikan bahwa kaum buruh bukan hanya mampu mencipta barang ataupun perkakas-perkakas. Kaum buruh adalah juga pencipta sejarah (history maker).

Kini, 129 tahun telah berlalu dari Peristiwa Haymarket, 1886. Roda zaman terus putar.  Modal bertransformasi dalam berbagai bentuknya dan beranak-pinak tanpa mengenal batas-batas negara. Modal besar mencaplok pemodal kecil. Kekayaan pun mengalir dan terkonsentrasi pada hanya sekitar 1% penduduk dunia.

Sekelompok kecil tuan-tuan kapitalis tersebutlah yang sekarang memerintah dunia, menjadikan banyak tuan-tuan presiden dan tuan-tuan anggota parlemen, serta para kaum intelektual menjadi agen langsung ataupun tidak langsung untuk mengekalkan kepentingan mereka dalam mengakumulasi kapital.

Pada akhirnya, kemiskinan tetap merajalela, upah (daya beli) tidak berdaya terhadap jumlah barang beredar, bumi tidak lagi tanah seindah impian. Masing-masing orang berlomba-lomba dan saling berkompetisi untuk mengumpulkan uang, mengutamakan dan mendewakan materi; terjebak commodity fetishism. Siapa dapat dialah pemenang; Yang lain terhempas, malang.

Negeri-negeri berkembang menjadi sapi perahan, nyaman terhisap sambil bermimpi hidup seperti orang orang kaya dalam opera sabun. Tunduk, tak bermartabat, mengidap inferiority complex. Sementara itu, tuan-tuan kapitalis kecil dan menengah harap-harap cemas: terancam bàngkrut. Pilihannya menyerah pada tuan kapitalis besar, menjadi proxy atau melawan dan kemudian tergilas.

Itulah jalannya kehidupan dalam cengkeraman modal.

Dalam situasi seperti ini, tugas baru menanti kaum pekerja untuk mencipta sejarah baru: Membela Tanah Air! Ada yang berpendapat, modal tidak memiliki tanah air, karena itu kaum buruh juga tidak memiliki tanah air. Ya, memang modal tidak memiliki tanah air, karena dia membutuhkan fleksibilitas dari aturan-aturan yang mengekang. Tujuannya yang utama hanyalah caplok, caplok, caplok, untung, untung dan untung. Tetapi selama negara dunia tidak eksis, selamanyalah kaum buruh itu akan memiliki tanah air. Kaum buruh tidak akan stateless. Kaum buruh akan selalu menjadi komponen suatu bangsa.

Ya, membela tanah air! Itulah panggilah sejarah kaum buruh Indonesia saat ini. Bukan untuk bertempur melawan kaum buruh Malaysia, kaum buruh Filipina, dan lain-lain negara berdasarkan nasionalisme-chauvinistik, melainkan bersatu dengan seluruh komponen dalam negeri menghadang laju modal internasional yang mengekploitasi bangsa dan tanah air melalui pasar bebas dan investasi semrawut yang menghisap sumber daya alam kita hingga titik nadir.

Seraya menyatukan  barisan, kita juga akan selalu menjalin persahabatan serta mendoakan hal yang sama untuk kaum buruh di Malaysia, Filipina, Thailand, dan negeri lainnya. Kiranya mereka juga mampu menyatukan diri dengan berbagai komponen bangsanya dalam menghadang imperialisme. Kemenangan perjuangan kita di dalam negeri atas imperialisme serta di tiap-tiap negeri lainnya akan memudahkan jalan umat manusia untuk menghapus penghisapan manusia atas manusia dan penindasan bangsa atas bangsa.

Pada akhirnya, sebagaimana kaum buruh di Haymarket yang tidak membeda-bedakan warna kulit putih atau hitam, sekali lagi, kaum buruh Indonesia, selayaknyalah bersatu dengan sektor rakyàt lainnya. Mari kita hilangkan sekat-sekat sektarianisme, ekonomisme, dan kita perkuat tanah air kita, Indonesia. Mari kita jadikan negara Indonesia sebagai benteng yang kokoh dalam melawan gempuran imperialisme.

Salam gotong royong dan Selamat Hari Buruh Internasional 2015!

Pancasila Dasarnya, Trisaki Jalannya, Republik Indonesia Keempat: Masyarakat Adil Makmur Tujuannya!

Jakarta, 28 April 2015

Harris Sitorus, Wakil Ketua Umum Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP PRD)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut