Mau Mudik, Bagaimana Biar Mudah?

JAKARTA: Lebaran sudah mendekat, sebagian besar rakyat Indonesia di rantau pun bersiap-siap untuk melakukan mudik. Setiap tahunnya, sedikitnya 27 juta rakyat Indonesia yang melakukan mudik, dan sebagian besar memiliki tujuan ke pulau Jawa. Jumlah pemudik yang menggunakan kendaraan umum mencapai 16.250 juta, sedangkan 11 juta orang menggunakan mobil atau motor pribadi.

Untuk Jakarta, kota utama para urban di Indonesia, jumlah pemudik bisa melebihi 2 juta orang. Sebagian besar pemudik ini akan menuju kota-kota di pulau jawa, dengan menumpangi bus, kereta api, kendaraan bermotor, pesawat, dan lain sebagainya.

Ada persoalan terkait hal itu, pertama, jumlah angkutan umum (darat, laut, dan udara) yang tidak sebanding dengan jumlah pemudik. Kedua, kondisi jalur perhubungan, khususnya jalan raya, masih banyak yang rusak dan kurang memadai untuk pemudik angkutan darat. Ketiga, biaya atau ongkos mudik semakin mahal, seiring dengan kenaikan harga bahan bakar dan kebutuhan pokok lainnya. Keempat, persoalan keamanan para pemudik saat melakukan perjalanan, terutama dari ancaman kriminalitas.

Kegundahan ini pula yang meliputi Sarjono, penjual mie ayam keliling di daerah Tebet, Jakarta Selatan. Ia dan 5 anggota keluarganya berniat melakukan mudik ke daerah Malang, Jawa Timur. Menurut pengakuan Sarjono, ongkos yang diperlukan untuk mudik ke malang minimal Rp. 500 ribu per-orang dengan menumpang kereta ekonomi, sehingga pihaknya memerlukan sedikitnya Rp 3 juta sekedar untuk ongkos perjalanan.

“Saya tidak sanggup, mas. Berapa sih pendapatan saya per-bulan. Jadi, kalaupun dikumpul-kumpul selama bekerja setahun tetap saja kurang,” ujarnya kepada Berdikarionline.com

Meskipun terjadi krisis ekonomi, namun sebagian besar warga merasa bahwa mudik adalah rutinitas tahunan yang tidak bisa ditinggalkan. Akibatnya, supaya tetap bisa mudik dan bertemu dengan keluarga di kampong halaman, banyak pemudik yang harus pinjam “ongkos” pada tetangga atau teman-temannya.

“Kalau tidak cukup ongkos, biasanya ibu saya suruh minjam di tetangga, mas. Nanti kalau balik ke sini, kami kerja keras untuk bayar utang,” kata Sarjono.

Untuk itu, Sarjono dan keluarganya sangat berharap agar pemerintah turun tangan untuk mengatasi persoalan ini. Selain kebutuhan angkutan murah dan massal, orang seperti Sarjono juga butuh fasilitas angkutan mudik yang aman, nyaman, dan memadai. Apalagi, dia akan memboyong anak-anaknya yang sebagian masih balita, untuk ikut mudik.

“Saya ingin sekali, Negara ini memperhatikan rakyatnya yang mau mudik. Kita semua mau mudik dengan mudah, harganya mudah, dapat angkutan mudah, dan tidurnya (baca, istirahat) mudah,” kata bapak tiga anak ini.

Kegundahan serupa juga dialami oleh Syamsuddin, mahasiswa asal Sinjai, Sulawesi Selatan. Dia mengaku, bahwa dirinya seringali batal mudik ke kampung halamannya karena tiket pesawat udara sudah habis saat mendekati H -10. Padahal, cara paling mudah dan praktis untuk mudik, menurut dia, adalah menggunakan pesawat.

“Saya agak sulit kalau tidak pakai pesawat. Misalnya, kalau saya menggunakan kapal laut, itu butuh ber-hari-hari di laut dan situasi di atas kapal juga kurang baik. Pasti penuh sesak, tidak ada tempat tidur, ada bau menyengat, dan rawan kriminalitas,” ungkapnya.

Menjelang mudik Idul Fitri 1431 H mendatang, PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni), Jalan Angkasa 18, Kemayoran, Jakarta Pusat, berjanji tidak akan menaikkan harga tiket mudik. Pihaknya menjanjikan, bahwa harga tiket pada saat mudik nanti tetap normal. “Tidak ada rencana menaikkan harga tiket,” kata Mungi P. Retno, Kepala Humas Pelni, Senin (9/8). (Rh/Ulf)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut