“Mastodon dan Burung Kondor”, Kisah atau Tafsir Anti-Revolusi?

Lantunan lagu Guantanamera dinyanyikan perlahan oleh sekelompok musisi dari sudut panggung yang ditinggikan. Lagu rakyat Kuba, yang liriknya diambil dari puisi José Marti ini diaransemen secara etnik, dengan ritme dan nada sedikit berbeda dari yang biasa kita dengar.

Setelah suara musik semakin sayup, seorang lelaki berambut panjang menampak di tengah kegelapan. Ia adalah Jose Karosta (diperankan oleh Totenk Mahdasi Tatang), yang dikisahkan sebagai seorang penyair kharismatik, lakon utama dalam drama berdurasi tiga jam ini.

Pentas drama dan kontradiksi sosial

Adegan tersebut membuka drama karya WS Rendra, Mastodon dan Burung Kondor, yang dipentaskan kembali di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) mulai tanggal 11 sampai 14 Agustus 2011. Kali ini disutradarai istri mendiang, Ibu Ken Zuraida.

Menurut Dwi Klik Santosa, dalam Sinar Harapan, 22 Juli 2011, drama ini dipentaskan pertama kali tahun pada 24 November 1973 di Yogyakarta oleh Bengkel Teater. Pentas kedua dilangsungkan di Gedung Merdeka Bandung, dan ketiga di Istora Senayan pada tahun yang sama. Saat itu WS Rendra menjadi sutradara sekaligus pemeran utama.

Konon, pementasan akbar ini turut memicu terjadinya aksi massa besar-besaran di Jakarta tahun 1974 menentang modal Jepang yang berujung kerusuhan, yang kemudian dinamai Malari (Malapetaka limabelas Januari). Belum dikonfirmasi pada para pelaku sejarah, seberapa besar pengaruh pertunjukan tersebut terhadap peristiwa Malari.

Terlepas sementara dari pertanyaan di atas, lakon Mastodon dan Burung Kondor memang sarat dengan kritik sosial. Kontradiksi langsung jelas tergambar dari bait pertama dialog yang disampaikan oleh Jose Karosta:

    “…Kemudian hatinya pilu melihat jejak-jejak yang sedih dari tani buruh yang terpacak di atas tanah gembur namun tidak memberikan kemakmuran bagi penduduknya. Wahai, tanah airku, alangkah subur lembah-lembahmu namun alangkah melarat kehidupan rakyatmu…”

…dan selanjutnya:

    “…Bagaikan para pangeran di zaman pra ilmiah, para pangeran baru bersekutu dengan cukong asing, memonopoli alat berproduksi dan kekuatan distribusi.”

Meskipun diceritakan dengan latar Amerika Latin, namun orang dapat menangkap maksud Rendra dalam konteks waktu itu. Penyair Binhad Nurrohmat menyebut latar tersebut sebagai “siasat tekstual” yang tentunya untuk ‘menyiasati’ rezim kapitalis-militeristik orde baru yang anti-kritik. Testimoni tentang penindasan struktural dan ‘cacat budaya’ tersampaikan lugas melalui karya ini.

Di atas situasi tersebutlah hadir “mastodon-mastodon” dan “burung-burung kondor”, dua kiasan untuk penindas (mastodon) dan kaum tertindas (burung kondor) dalam tata masyarakat hirarkis. Mastodon merajalela, dan burung-burung kondor tidak berhenti pada mengeluh, tapi juga melawan.

Debat “sesama kondor”

Namun kontradiksinya tidak berjalan sesederhana itu. Dalam mahakarya ini Rendra hadirkan perdebatan di antara “sesama burung kondor”, terutama antara oleh Jose Karosta dan kaum revolusioner yang kuat diwakili oleh Juan Frederico, Fabiola Andrez, dan Profesor Topaz.

Dalam menghadapi penindasan “rezim pembangunan semesta terencana”, Juan Frederico dan kawan-kawannya menghendaki perubahan revolusioner. Berbekal gagasan revolusioner dari Profesor Topaz, mereka menggalang kekuatan di kampus, dan kemudian mengorganisir berbagai lapisan masyarakat untuk melancarkan perlawanan dan merebut kekuasaan. Namun upaya mereka terhalang oleh Jose Karosta yang cukup berpengaruh di kalangan pemuda umumnya.

Jose Karosta digambarkan sebagai penyair yang, seperti Juan Frederico, kritis terhadap kekuasaan Kolonel Max Carlos. Namun ia menolak revolusi, karena menurutnya “akan melahirkan sikap fanatik dan ekstrim” seperti yang dinilainya dari sosok Juan Frederico. Doktrin revolusi yang tidak bisa dibantah hanya akan melahirkan mastodon-mastodon baru.

“…Katakan kepada Juan Frederico, aku tidak mau mengikuti jejak orang fanatik. Aku percaya pada jalannya perubahan berdasarkan perkembangan kematangan kesadaran. Perubahan yang mendadak yang ditimbulkan oleh revolusi hanya akan menghasilkan perubahan semu.”

Balasan serangan sengit pun dialamatkan pada Jose Karosta, yang oleh salah seorang revolusioner disebut sebagai “…bajingan kelas menengah, semuanya serba setengah-setengah.”

Rendra dan konteks penulisan

Posisi Jose Karosta, oleh banyak kalangan, ditafsirkan sebagai posisi politik Rendra sendiri terhadap realitas sosial. Bahkan penyair dan penulis esai, Goenawan Mohamad, berani memastikan ini sebagai posisi yang membedakan Rendra dengan kaum Marxis atau Kiri Baru. Sebuah politik tanpa pamrih kekuasaan, atau “politics of the unpolitical”, katanya sambil mengutip seorang anarkis Inggris, Hebert Read.

Namun, dari sejumlah dialog di dalam naskah, dapat tertangkap kegagapan Jose Karosta menjawab argumen kritis kaum revolusioner. Bahkan Jose Karosta ‘tidak berani’ menyama-ratakan stempel “fanatik” terhadap Profesor Topaz, sang ideolog bagi kaum revolusioner.

Jose Karosta menyimpulkan perbedaannya dengan kaum revolusioner adalah pendasarannya pada “pribadi”, sedangkan kaum revolusioner pada “lembaga”. Ia enggan “berkomplot dengan politisi untuk menggulingkan kaisar”.

Namun, jelaslah, bahwa ia (Jose Karosta) tak bisa membantah keniscayaan hadirnya lembaga—bahkan bagi para seniman, dan ketidakbebasan si “pribadi” dari kontrol sosial, seperti yang diungkap Padre Alfonso dalam salah satu dialog. Pun ia tidak berdaya ketika api revolusi menjalar ke seantero negeri dan mulai memastikan kemenangan.

Siapa yang menulis argumen-argumen kritis tersebut? Rendra. Siapa yang menghadirkan Profesor Topaz, seorang revolusioner “bukan fanatik”, atau Padre Alfonso yang mengkritik “kebebasan pribadi” Jose Karosta? Juga Rendra sendiri.

Tanpa berpretensi ‘membela’ atau ‘menarik’ Rendra menjadi sosok revolusioner, kenyataan ini menunjukkan bahwa posisi Penulis perlu dilihat dalam teks secara keseluruhan, bukan hanya pada sosok Jose Karosta. Bila pun ide-ide tersebut buah dari “ladang workshop (bergulat menggali bersama)”, seperti disebut seorang teman dekat Rendra, Edi Haryono, setidaknya kesadaran tersebut telah tertangkap oleh Penulis.

Keraguan terhadap kesimpulan “politics of the unpolitical” dari seorang WS Rendra kian menguat, manakala naskah ini diletakkan di atas konteks zaman yang bergerak, sekaligus di atas pergeseran posisi politik sang Maestro.

Saya berandai, bila di masa itu ikut menyaksikan Mastodon dan Burung Kondor yang dipentaskan Rendra, kemungkinan besar saya akan menjadi salah seorang yang paling bersemangat mendukung kritik-kritiknya, bahkan menjadi bagian dari massa yang bergerak marah memprotes kezaliman penguasa. Artinya, tekanan pada pendasaran “pribadi” (sebagai bahasa lain dari individu) menjadi berlebihan, mengingat dampak kolektif (massal) yang ditimbulkan dari “agitasi” ala sastrawan tersebut.

Kritik terhadap “kaum revolusioner” yang dipelopori mahasiswa dalam naskah ini dapat pula disambungkan dengan kelakuan mahasiswa Angkatan ’66, yang sekonyong-konyong menjadi bagian dari kekuasaan tiran setelah berperan menjatuhkan pemerintahan Sukarno.

Pun kita menyaksikan pergeseran politik yang mewarnai perjalanan Rendra saat-saat menjelang “Kembali Kepada Alam”.  Pada tahun 2002 Rendra mengusulkan sastrawan Lekra, Pramoedya Ananta Toer, menjadi anggota Akademi Jakarta, sebuah lembaga prestisius yang menjadi penasehat Gubernur DKI Jakarta dalam bidang seni budaya. Kemudian pada pemilu presiden tahun 2009, WS Rendra bahkan ikut terjun langsung sebagai pendukung pasangan calon Megawati Sukarnoputri-Prabowo Subianto dalam deklarasi pencalonan di kawasan pembuangan sampah Bandar Gebang. Bilakah ini dimaknai sebagai “berkomplot dengan politisi untuk menggulingkan kaisar…”?

Tetap relevan

Selebihnya kita bisa menyimak kesaksian dari Ibu Ken Zuraida, yang ingin “meminjam naskah ini untuk berbicara” menanggapi “situasi berbangsa dan bernegara di Indonesia”. Usaha sutradara untuk mengkontekstualisasi naskah terlihat dalam beberapa bagian, seperti mengganti jumlah tahun berjalannya kekuasaan dari “17 tahun” dalam naskah asli, menjadi “13 tahun” dalam pentas sekarang. Juga ditampilkan spanduk dalam adegan unjuk rasa yang bertuliskan “Stop! Jangan Bawa Uang ke Luar. Rebut Kembali Kedaulatan Ekonomi Kita!” dan “Anggaran Belanja Negara untuk Kesejahteraan Rakyat….dan seterusnya.”

Secara umum pentas ini berisi pemaknaan terhadap hakekat berbangsa yang dibingkai kritik ekonomi-politik sampai sosial budaya. Kedalaman kritiknya nyaris memustahilkan penguasa untuk “menulis pembelaan dengan tinta munafik”.  Dialog serius dan filosofis kerap diselingi humor dan satir yang sedikit merilekskan urat syaraf.

Akhirnya, ucapan “Bravo!” patut diberikan kepada seluruh pendukung Ken Zuraida Project, yang telah berjerih-payah hadirkan kembali drama fenomenal ini ke hadapan kita. Di dalamnya nama-nama seperti Amir Husin Daulay dan Arif Budimanta telah turut berperan penting. Meski ditulis sekitar 38 tahun lalu, pertunjukan ini tetap relevan untuk disaksikan, terutama oleh generasi muda yang tengah hadapi tantangan penjajahan baru dewasa ini.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • MS

    waaaaah…begitu ya
    terimakasih untuk penutur, membimbing kami yang belum sempat menyaksikan “_