Masih Ingat Ricky Martin dan Luis Fonsi? Mereka ikut Aksi Protes Penggulingan Gubernur Puerto Riko

Masyarakat Indonesia tentu belum lupa dengan sosok Ricky Martin, penyanyi kelahiran Puerto Ricko yang mendunia karena lagunya, La Cope De La Vida, yang menjadi tema Piala Dunia 1998, membahana sejagat raya.

Begitu juga dengan Luis Fonsi, yang mendadak populer ke seluruh dunia, termasuk Indonesia, karena lagunya: despacito.

Nah, sejak dua pekan terakhir, Puerto Riko, negerinya dua penyanyi terkenal itu, sedang dilanda aksi protes besar-besaran. Bahkan disebut salah satu aksi protes terbesar dalam sejarah negeri itu.

Penyebabnya, trasnskrip percakapan online Gubernur Ricardo Rosselló dengan teman-temannya bocor ke publik. Transkrip percakapan online itu disebar oleh The Center for Investigative Journalism (CIJ), sebuah media independen di Negeri itu, pada 13 Juli lalu.

Masalahnya, isi percakapan itu banyak yang tidak pantas dan mencederai perasaan umum, karena terang-terangan misoginis dan homophobia. Termasuk mengejek orientasi seksual si penyanyi Ricky Martin.

Tak hanya itu, lewat percakapan itu, sang Gubernur juga mengejek korban badai Maria, yang menghantam Puerto Riko pada 2017 lalu dan meninggalkan ribuan korban jiwa.

Sudah begitu, jauh sebelum kejadian ini, sang Gubernur sudah dirundung tudingan soal penyalahgunaan anggaran publik dan berbagai kasus korupsi.

Tak menunggu lama, aksi demonstrasi pun meledak di jalan-jalan di berbagai kota di Puerto Riko. Seperti di Ibukota Puerto Riko, San Juan, hanya empat hari setelah bocornya transkrip itu, seratusan ribu orang turun ke jalan.

Kemudian, pada 22 Juli 2019, jumlah massa yang turun ke jalan bertambah menjadi setengah juta orang, yang nyaris melumpuhkan seluruh aktivitas di ibukota San Juan.

Banyak video liputan media maupun masyarakat umum menunjukkan jalan-jalan yang tertutup dengan lautan manusia, dengan mengibarkan bendera Puerto Riko dan poster bertuliskan “#RickyRenuncia”.

Nah, dalam aksi protes besar-besaran itu, penyanyi Ricky Martin dan Luis Fonsi terlibat. Selain mereka berdua, ada juga rapper Daddy Yankee, band progressif Calle 13, penyannyi Bad Bunny, penyanyi Nicky Jam, penyanyi Mark Anthony dan lain-lain.

Lewat akun instagramnya, Ricky Martin menunjukkan fotonya dirinya di tengah-tengah aksi demonstrasi. Di tengah terik matahari, tanpa payung, dia bersemangat mengibarkan bendera pelangi.

Luis Fonsi, Daddy Yankee, Bad Bunny, dan lain-lain tak mau ketinggalan. Foto mereka di tengah aksi protes turut menghiasi media sosial artis-artis tersebut.

Perjuangan itu tidak sia-sia, setelah 12 hari aksi protes, pada 25 Juli lalu, Gubernur Ricardo Rosselló menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya. Perjuangan Ricky Martin dan jutaan orang Puerto Riko berhasil.

“Puerto Riko berhasil melakukannya. Dan kami mencapai itu dalam jalan damai. Tanpa senjata, persis seperti Gandhi,” kata Ricky Martin, seperti dikutip teleSUR, Kamis (25/7/2019).

Puerto Riko adalah kepulauan kecil di kawasan Karibia. Meski terletak jauh dari Amerika Serikat (AS), dan diantara beberapa negara, Puerto Riko masih dianggap koloni AS. Hingga hari ini, Puerto Riko masih berstatus negara persemakmuran Amerika Serikat.

Karena status itu, Puerto Riko tak punya pemerintahan mandiri. Wilayah berpenduduk 3,4 juta jiwa ini diperintah oleh seorang Gubernur yang ditunjuk langsung oleh Presiden AS. Tak hanya itu, warga Puerto Riko juga dianggap warga AS.

Di bawah penjajahan Spanyol sejak abad ke-15 hingga abad ke-19, lalu dicaplok oleh AS pada 1898 hingga sekarang. Memang, sepanjang rentang waktu di bawah kolonialisme, muncul gerakan yang memperjuangkan kemerdekaan untuk Puerto Riko. Sayang, hingga kini, perjuangan itu belum berhasil.

Uniknya, seiring dengan desakan kemerdekaan itu, Puerto Riko sudah beberapa kali menggelar referendum untuk penentuan nasib sendiri, seperti referendum 1967, 1993, 1998, 2012. Hasilnya, mayoritas rakyat Puerto Riko tetap menghendaki di bawah naungan AS.

Referendum terakhir berlangsung pada 11 Juni 2019 lalu. Mayoritas besar rakyat Puerto Riko, atau 97,3 persen, justru menghendaki negerinya menjadi Negara bagian AS. Hanya 1,5 persen yang menghendaki merdeka.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut