Dilema Konsepsi Pertahanan Nasional Kita

Sudahkah konsep pertahanan nasional kita melindungi kedaulatan bangsa kita? Tidak terhitung berapa jumlah kekayaan alam kita, baik dalam bentuk barang jadi ataupun bahan mentah, yang diangkut keluar. Juga tak terhitung berapa banyak kapital asing yang berdesak-desakan mencari lahan penghisapan di bumi Indonesia.

Ironisnya, semua proses “perampokan” di atas terjadi secara “normal”. Tidak tertangkal oleh konsepsi pertahanan nasional kita.  Anehnya lagi, tak sedikit proses perampokan itu dikawal oleh opsir-opsir yang digaji oleh APBN kita. Inilah yang terjadi di berbagai tempat di Indonesia.

Lalu, ada satu yang lebih ironis lagi: ketika rakyat berjuang mempertahankan jengkal demi jengkal hak-haknya dari penjajah asing itu, maka mereka akan berhadapan dengan Polisi dan Tentara Indonesia. Dalam hati muncul pertanyaan menyakitkan: bukankah rakyat sendiri yang membeli seragam, perlengkapan, dan senjata para aparat itu.

Inilah dilema dalam sistim pertahanan nasional kita. Pertama, konsepsi pertahanan itu gagal melindungi bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Sudah terhitung jumlah kasus TNI/Polri berhadapan dengan rakyatnya sendiri—petani, buruh, mahasiswa, dan rakyat miskin.

Kedua, konsepsi pertahanan nasional kita gagal melindungi kekayaan nasional kita, khususnya kekayaan sumber daya alam. Gara-gara eksploitasi neokolonial itu, sebagian besar sumber daya alam kita terkuras dan terancam habis: cadangan bauksit akan habis sekitar tahun 2018, cadangan besi, nikel, tembaga akan habis dalam 10, 15, dan 45 tahun; cadangan minyak bumi dan gas alam akan habis dalam 11 dan 33 tahun; cadangan batubara habis dalam 64 tahun. Berbagai data juga menunjukkan, sedikitnya 1 juta hektar hutan di Indonesia rusak dan hilang per tahun.

Catatan Salamuddin Daeng, seorang peneliti Institute For Global Justice (IGJ), menyebutkan, sebanyak 175 juta hektar tanah di Indonesia dikuasai oleh pihak asing. Lalu, tak sedikit pulau-pulau cantik nan indah di Indonesia yang kini berpindah tangan ke pengusaha asing.

Di mana angkatan perang kita? Angkatan perang kita tak bisa bertindak karena semua itu dilegalisasi dengan Undang-Undang. Dengan bertamengkan alasan “investasi” sebagai penggerak pembangunan, pemerintah dengan wajah sumringah membuka pintu seluas-luasnya bagi kapital asing. Padahal, 60 tahun yang lalu, para pendiri bangsa kita berseru-seru agar membangun ekonomi secara berdikari.

Yang terjadi, kita memaknai penguatan pertahanan nasional itu dengan modernisasi alat utama sistem persenjataan (Alutsista). Kita sibuk membeli senjata dan peralatan-peralatan perang dari negara-negara maju. Senjata makin modern dan banyak, tetapi penindasan terhadap rakyat dan perampokan kekayaan alam tetap jalan terus.

Konsep pertahanan nasional kita perlu dinilai ulang. Bung Karno pernah mengatakan,  ketahanan suatu bangsa haruslah dipupuk dari tiga hal: ketahanan politik (politieke weerbaarheid), ketahanan ekonomi (economische weerbaarheid), dan ketahanan militer (militair weerbaarheid). Tiga-tiganya tak bisa dipisahkan satu sama lain.

Yang terjadi sekarang, ketiga konsep ketahanan ini bercerai-berai. Sebagai contoh, kita sekarang mempraktekkan konsep demokrasi politik yang bercerai dengan konsep demokrasi ekonomi. Akhirnya, lahir begitu banyak kebijakan politik yang justru bertolak-belakang dengan demokrasi ekonomi.

Prinsip demokrasi ekonomi kita termaktub dalam pasal 33 UUD 1945 (asli). Seharusnya, konsepsi ketahanan militer kita mengacu pada pasal 33 UUD 1945: pertahanan nasional harus melindungi cabang-cabang produksi yang penting dan menguasai hajat hidup orang banyak demi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pertahanan nasional kita (darat, laut, dan udara) mestinya menjaga kedaulatan bangsa kita atas bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya. Yang lebih penting lagi, pertahanan nasional kita mestinya sejalah dengan cita-cita masyarakat adil dan makmur.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Inilah korban kebodohan dan keteledoran kita bersama dalam mencermati sejarah nasional kita , kenapa VOC yang datang menyeberangi samudera ribuan mil dari Negeri Belanda hanya dengan 4 kapal dan 2 kompi pasukan bisa mengalahkan Kerajaan Mataram yang jauh lebih kuat dari mereka? dan akhirnya menduduki dan mengeksploitasi Indonesia selama 350 tahun lebih karena bangsa kita ini mudah diadu domba satu sama lainnya, maka petuah Bung Karno ” jangan sekali kali meninggalkan sejarah ” masih relevan pada masa sekarang ini walaupun penjajahan sekarang tidak memakai tentara pendudukan melainkan djajah cara berpikir kita, budaya dan cara hidup kita dan lyang terpenting adalah penjajahan ekonomi sehingga generasi sekarang tidak mau makan getuk lindri lagi tetapi bangga makan kentang goreng dari Mc Donald yang disebut French Fries.