Masa Depan Intelektualitas dan Intra-Pluralisme di Tubuh NU

Pada dekade 80-an mulai tumbuhlah iklim intelektualitas di kalangan nahdliyin, dalam arti, wacana-wacana kritis Barat melengkapi kajian-kajian keislaman klasik yang biasanya diajarkan di pesantren-pesantren.

Abdurrahman Wahid pernah tampil sebagai salah satu pemimpin sekaligus pemikir NU yang mendobrak sekat-sekat yang selama ini “mengungkung” NU: sekat-sekat intelektualitas, identitas, dan bahkan sekat-sekat spiritualitas.

Sebenarnya tak hanya Abdurrahman Wahid yang memiliki apa yang oleh kalangan pesantren dinilai “nyleneh,” kerap melakukan pendekatan yang sekilas tak mainstream. Tapi karena ia satu-satunya tokoh NU yang berkaliber internasional, dengan mengingat beberapa ilmuwan Barat pernah menjadikannya obyek pembahasan, maka tenarlah ia sebagai sesosok pendobrak yang bahkan daya dobraknya melampaui NU itu sendiri.

Pada era perang kemerdekaan, pada ranah spiritualitas, orang mengenal yang namanya Sichlan, seorang tokoh muda NU Ponorogo, yang membabarkan ilmu Sumarah yang lekat dengan citra kejawaannya di Ponorogo (Kejawen Modern: Hakikat dalam Penghayatan Sumarah, Paul Stange, 2009). Sedangkan di wilayah Madiun terdapat seorang kyai yang pernah ikut terlibat jihad yang dikobarkan oleh Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari di Surabaya dengan para Pemuda Sumarah hasil gemblengannya: Kyai Abdulhamid Banjarsari. Bahkan kini pun saya masih banyak menyaksikan kyai-kyai Jogja dan Jateng yang memiliki afiliasi keislaman ke NU juga menyecap ilmu Sumarah dan kawruh Harda Pusara. Bukankah pada konteks ini, Gus Dur pernah secara khusus menemui salah seorang sesepuh Paguyuban Ayu Mardi Utama (PAMU) yang lekat dengan nuansa kapitayan-nyadi Temuguru(h) Banyuwangi yang memilih “mengundurkan” saat kematiannya hanya untuk bertemu sang cucu Hadratussyaikh itu (Kematian Seorang Pangeran)?

Persinggungan kalangan apa yang kini karib disebut nahdliyin dengan kalangan kapitayan (Menelusur Kapitayan, Agama Purba Nusantara, Heru Harjo Hutomo, https://alif.id), bukanlah hal yang sama sekali baru. Persinggahan saya pribadi ke berbagai wilayah dalam rangka menganyam yang terpendam telah menemukan berbagai persinggungan antara kalangan sufi dan kapitayan yang telah lama terbina. Secara historis, perang Jawa yang meledak pada tahun 1825-1830 merupakan simpul persinggungan dua corak spiritualitas yang berbeda tapi sama-sama tumbuh di nusantara dan memiliki kesamaan visi dan misi. Saya menamakan persinggungan yang beranjak dari perang Jawa ini sebagai “jejaring Dipanegara.”

Konon ada pertanyaan dari seorang sejarawan Dipanegara, Peter Carey, yang ditinggalkannya untuk penelitian ke depan, salah satunya: nasib para anggota laskar Dipanegara sesudah perang Jawa. Tanpa berangkat dari tinggalan pertanyaan ini sebenarnya saya sudah mulai melacak nasib para laskar Dipanegara yang sebagian besar berujung pendheman atau dikalangan tarekat akrab disebut sebagai khumul (Menganyam yang Terpendam [Seusai Menengok Makam Syekh Yahuda], Heru Harjo Hutomo, https://alif.id). Pada tarekat Akmaliyah orang masih dapat menyaksikan jejak Syattariyah dan Naqsyabandiyah di sana, sebuah tarekat yang secara definitif menjadi simpul gerakan perlawanan Dipanegara di mana seusai perang Jawa sebagian bertransformasi menjadi aliran-aliran kapitayan semacam PDKK (Malang) dan PAMU (Banyuwangi) serta sesidheman tumbuh di pesantren-pesantren—yang kadang mesti berbalut dengan tarekat-tarekat yang dianggap mu’tabarah lainnya.

Perbedaan paham dan aliran sesungguhnya adalah hal yang lumrah di kalangan nahdliyin sendiri, saling sindir yang tanpa caci-maki merupakan guyonan yang dapat ditemui sehari-hari. Siapa yang tak tahu kisah Gus Dur yang njenius, Gus Maksum Jauhari yang njadug, Gus Miek yang njadzab ataupun Mbah Jalil PETA Tulungagung yang nyufi? Meskipun di antara pengikutnya saling sindir, toh semuanya diakui dan diterima di kalangan NU dan menjadi kekayaan tradisi tersendiri.

Pada ranah gerakan-gerakan sosial orang mengenal sosok Kyai Chudlory Tegalrejo, Magelang, yang konon pernah menganyomi dan menjamin banyak orang yang tanpa proses pengadilan divonis sebagai PKI. Persinggungan nyata kalangan nahdliyin dengan kalangan pinggiran yang tertindas juga marak terjadi pada dekade 90-an sampai awal 2000-an sehingga melahirkan apa yang disebut sebagai fenomena “santri-kiri” ataupun “muslim tanpa masjid” (“Mulat Sarira” Sebagai Sebentuk Moderasi, Heru Harjo Hutomo, https://alif.id). Karakter yang enggan untuk ngaya (mati-matian), yang barangkali bersumber dari aforisme al-Hikam yang secara tak tersadari memang menjadi pemoles kejiwaan kalangan yang berangkat dari kultur nahdliyin, menyebabkan seperti tak adanya satu pun aktifis yang berkultur NU pernah dijebloskan dalam penjara (tapol). Spirit al-Hikam ini nyata terbaca saat peristiwa tumbangnya Orde Baru dan pelengseran Abdurrahman Wahid sebagai presiden RI.

Adapun pada ranah intelektualitas, pernah dalam suatu masa kalangan nahdliyin bersinggungan dengan wacana-wacana kritis yang sudah dimulai oleh Gus Dur pada dekade 80-an: liberalisme, hermeneutika, dekonstruksi, dan sebagainya. Bahkan pernah pada suatu Muktamar NU di Lirboyo kekritisan intelektual-intelektual muda NU menjadi pertimbangan dan pembahasan tersendiri. Tapi, seperti biasanya, semuanya berakhir dengan lantunan sholawat yang serasa nasihat orangtua pada anaknya yang masih muda. Dinamika intelektualitas di tubuh NU sendiri memuncak pada seorang Ulil Abshar Abdalla yang pernah difatwa mati. Sikap kalangan nahdliyin sendiri pun juga bersifat intelektual. Gus Dur secara khusus membahasnya dalam salah satu esainya. Demikian pula mertua Ulil sendiri, Gus Mus, yang juga menasehatinya dalam salah satu artikelnya di harian Kompas. Dan, seperti biasanya, semuanya berlangsung seperti halnya nasehat orangtua pada anaknya yang masih muda.

Pada Harlah NU ke-94 kali ini, masihkah intra-pluralisme di tubuh NU seperti di atas tetap dapat dijaga dan lestarikan mengingat gelombang populisme agama semakin merangsek dan mengancam anyaman kebhinekaan dan intelektualitas, yang setelah beberapa kali secara diskursif terbongkar dan dihajar, akhirnya serasa merasuk ke kalangan nahdliyin sendiri tanpa mau meninggalkan pemahaman dan tabiatnya yang lalu.   

Heru Harjo Hutomo, penulis, peneliti lepas, menggambar dan bermain musik

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid