Martabat Bangsa

Bangsa Indonesia sedang mengalami krisis ‘martabat’. Seolah-olah untuk mencuci diri, Budiono telah mengulang-ulang berbicara soal martabat bangsa, dan menurutnya adalah harus ada solusi berupa pemantapan moral para pemuda. Terakhir (29/7), ketika bertemu Ketua Umum IPNU, Ahmad Syauqi, Budiono telah menunjukkan bahwa musuh terbesar moral bangsa saat ini adalah radikalisme dan liberalisme.

Hal serupa juga dinyatakan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla saat menjadi pembicara dalam momen ‘Sutan Takdir Alisjahbana Memorial Lecture’, di TIM, Jakarta, Selasa (27/7). Jusuf Kalla berpendapat, bahwa pada saat sekarang masalah terpenting yang dihadapi bangsa Indonesia adalah bagaimana membahas, memikirkan, dan merenung tentang ‘martabat bangsa’.

Baik Budiono maupun JK berusaha menjelaskan soal “martabat bangsa” itu dalam bahasa politik masing-masing. Bertitik-tolak dari kasus Ariel-Luna, Budiono telah menuding persoalan moral sebagai biang kerok atas hancurnya karakter bangsa, khususnya di kalangan para pemuda kita. Sementara JK, kendati sedikit lebih maju daripada Budiono, tapi masih memberi penjelasan pada tataran yang sangat abstrak; apa latar penyebabnya dan seperti apa membangun martabat bangsa itu?

Sebagai bangsa yang pernah beratus-ratus tahun di jajah kolonialis, kita harus membangun bangsa (national building); dari kemerosotan jaman kolonial untuk dijadikan bangsa yang berjiwa, yang sanggup berdiri tegak menghadapi segala tantangan. Soekarno berkata, dalam membangun suatu negara (teknik, ekonomi, pertahanan), adalah pertama-tama dan tahap utamanya; membangun jiwa bangsa. “tentu saja keahlian sangat perlu. Tetapi keahalian saja tanpa jiwa yang besar, kita tidak akan mungkin mencapai tujuan. Ini perlunya, atau mutlak perlunya, membangun nation and character building,” demikian dikatakan Bung Karno.

Sekarang ini, jika diperhadapkan situasi kebangsaan yang nyata, maka kita sedang memasuki suatu fase yang disebut ‘nation and character destruction’.

Kenyataan di lapangan ekonomi menunjukkan, bahwa sebagian besar ekonomi nasional dikuasai oleh perusahaan-perusahaan besar asing, sementara rakyat hanya mendapatkan bagian terkecil dari sumber-sumber ekonomi tersebut. Sejumlah lapangan ekonomi yang strategis, misalnya pertambangan, perbankan, transportasi, kelistrikan, dsb, telah diserahkan dan dikuasai modal asing.

Kenyataan di lapangan politik juga masih menampakkan bahwa hak-hak politik rakyat sudah dibuang dan dikesampingkan sedemikian rupa. Rejim neoliberal telah berfungsi sebagai perpanjangan tangan kekuasaan imperialis di Washington, dan memilih untuk berlawanan dengan kepentingan nasional dan seluruh rakyat.

Kenyataan di lapangan budayan pun demikian, kekuasaan asing di lapangan ekonomi dan politik sangat mempengaruhi corak kebudayaan kita. Dalam pendidikan, kesenian, kesusastraan, dan cara hidup bermasyarakat, pengaruh budaya imperialis terlihat sangat dominan, khususnya individualisme dan konsumtifisme.

Pendidikan kita masih berwatak kolonial, yaitu, bahwa pendidikan berkualitas hanya bisa dinikmati kaum kaya, sementara rakyat miskin hanya diberi kesempatan menikmati sekolah rendahan, yang nantinya akan dilempar menjadi tenaga kerja murah.

Film, lagu-lagu, majalah, tarian-tarian masih didominasi oleh kebudayaan imperialis, yang bersifat cabul, membodohi, dan merusak moral rakyat.

Dari keseluruhan kenyataan di atas, Budiono harus memikul tanggung jawab yang sangat besar, karena secara sadar telah menjadi ‘think-thank’ dari pelaksanaan penjajahan ulang (rekolonialisme) di Indonesia, yaitu melalui sistim neoliberalisme. Oleh karena itu pula, ketika Budiono berbicara karakter dan jiwa bangsa, maka itu laksana membuang garam ke lautan.

Kalau mau berbicara soal ‘jalan keluar’, maka pilihannya adalah soal bagaimana merebut kembali kedaulatan nasional (politik, ekonomi, dan budaya); menghentikan praktik kebijakan neoliberal dan mendirikan suatu pemerintahan yang berkarakter anti-imperialis dan anti-nekolim.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut