Marsinah Diusulkan Sebagai Pahlawan Buruh Indonesia

Tanggal 8 Mei, yang merupakan hari gugurnya pejuang buruh perempuan, Marsinah, diusulkan sebagai Hari Perjuangan Buruh Perempuan Indonenesia. Hal tersebut dimaksudkan untuk menegaskan adanya kejuangan buruh perempuan.

“Karena buruh perempuan tak sekedar hadir, tak sekedar buruh, dan tak sekedar perempuan, melainkan buruh perempuan adalah ibu yang berjuang melahirkan anak, adalah buruh yang keringatnya dihisap kapitalis, dan adalah pejuang dalam perjuangan buruh di Indonesia,” kata Ketua Partai Rakyat Pekerja (PRP), Anwar Ma’ruf, di Jakarta, Rabu (8/5/2013).

Menurut Anwar Ma’ruf, setiap tanggal 8 Mei harus diingat adanya Marsinah sebagai pedoman perjuangan untuk menggerakkan semangat buruh-buruh perempuan yang sebagian masih malas berlawan.

Marsinah, yang gugur tanggal 8 Mei 1993, sampai sekarang kasusnya belum terungkap. “ Kasus pembunuhan secara keji di masa pemerintahan militeristik Orde Baru itu tidak pernah dituntaskan oleh rezim neoliberal saat ini,” ujar Anwar Ma’ruf.

Besar kemungkinan, kata Anwar Ma’ruf,  rezim Neoliberal membiarkan kasus ini kadaluwarsa dengan sendirinya supaya kasus ini tidak bisa diganggu gugat lagi di kemudian hari. “Para pelakunya pun bebas berkeliaran hingga saat ini,” tuturnya.

Lebih lanjut, Anwar mengungkapkan, perjuangan Marsinah membela kaum buruh Indonesia belum selesai. Selain permasalahan upah murah, yang dulu juga diperjuangkan oleh Marsinah, para buruh di masa sekarang juga menghadapi kriminalisasi, sistem kerja kontrak, outsourcing, pembrangusan serikat, bahkan kasus yang terakhir adalah penyiksaan dan perbudakan terhadap para buruh.

Selain itu, kata Anwar Ma’ruf, kasus pelecehan seksual dan diskriminasi gender terhadap para buruh perempuan juga masih kerap terjadi hingga saat ini. “Artinya, perjuangan Marsinah untuk memperjuangkan hak buruh, khususnya buruh perempuan belumlah selesai,” jelasnya.

Anwar juga menjelaskan, kriminalisasi dan penyiksaan, seperti yang dialami oleh Marsinah, ternyata tidak hanya dialami oleh kaum buruh di saat sekarang, rakyat pekerja di sektor lain seperti petani, nelayan, pedagang kecil, masyarakat adat, dan yang lainnya juga mengalami hal yang serupa.

“Kriminalisasi, penyiksaan,dan bentuk kekerasan lainnya hampir terjadi dimana-mana, berbarengan dengan konflik-konflik agraria yang kerap kali terjadi di masa sekarang,” ujarnya.

Dengan tidak tuntasnya kasus Marsinah, bagi Anwar Ma’ruf, bukan hanya berdampak pada kaum buruh saja, tetapi  juga akan melanggengkan praktik kriminalisasi dan penyiksaan yang selalu dialami oleh rakyat pekerja lainnya.

Lebih jauh lagi, Anwar mengungkapkan, tidak ada satupun partai politik di parlemen saat ini yang berbicara mengenai pentingnya penuntasan kasus Marsinah. “Artinya juga, partai-partai politik, elit politik, dan rezim neoliberal memang sengaja membiarkan kasus Marsinah kadaluwarsa dan dipeti-eskan,” tegasnya.

Dalam siaran persnya, PRP juga mendesak agar Marsinah dijadikan sebagai Pahlawan Buruh Indonesia karena keberaniannya memperjuangkan hak-hak buruh, khususnya buruh perempuan di masa Orde Baru.

Untuk diketahui,  Marsinah juga memperoleh penghargaan Yap Thiam Hien pada tahun 1993 karena keberaniannya memperjuangkan hak buruh. Ia memimpin para buruh di tempat kerjanya, di PT Catur Putra Surya (CPS) Porong, Sidoarjo, Jawa Timur untuk memperjuangkan kenaikkan upah pokok dari Rp 1.700 per hari menjadi Rp 2.250.

Selain itu, Marsinah juga memperjuangkan kepentingan para buruh perempuan, yang menuntut cuti haid, cuti hamil, dan lain sebagainya. Marsinah kemudian dipanggil ke Markas Komando Rayon Militer (Koramil) setempat karena memimpin aksi buruh di tempat kerjanya. Beberapa kawan sekerjanya bahkan dipanggil paksa karena terlibat dalam aksi-aksi itu.

Hal tersebut sebenarnya menunjukkan, bahwa militer memang benar-benar berpihak dan berada di belakang pemilik modal untuk memberangus buruh yang melakukan perlawanan.

Karena keberaniannya itu juga lah yang akhirnya membuat aparatus militer rezim Orde Baru merasa penting untuk menghilangkan nyawa Marsinah. Bahkan didapatkan bukti, sebelum meninggal Marsinah mengalami penyiksaan yang begitu hebat. Marsinah ditemukan meninggal di sebuah gubuk di hutan Wilangan, Kabupaten Ngajuk, Jawa Timur dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Vagina, tulang pinggul, dan lehernya hancur, perutnya luka tertusuk sedalam 20 sentimeter, sekujur tubuhnya penuh memar, lengan dan pahanya lecet.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut