Manu Chao, Semangat Kolektif Menghadapi Globalisasi

Generasi milenium, di Indonesia khususnya, relatif mengenal beberapa musisi kritis, seperti Bono (vokalis U2), atau grup musik punk Rage Against The Machine (RATM). Sedangkan nama Manu Chao, belum cukup dikenal. Padahal, ia disebut-sebut sebagai musisi paling populer (super star) se-Eropa, Afrika, dan Amerika Latin, juga, sebagai salah satu musisi yang paling terkenal di dunia.

Lintas Batas

Manu Chao adalah musisi revolusioner, yang dilahirkan oleh zaman globalisasi neoliberal, beserta segala dampak buruknya. Manu dikenal sebagai pencampur musik yang bandel, pemberontak yang merakyat, dan bintang yang menggotong sendiri tas pakaiannya tiap bepergian—kesederhanaan yang, di kalangan bintang besar, hanya dijalani oleh Bob Marley dan Joe Strumer.

Lahir di Paris, 21 Juni 1961, sebagai Jose-Manuel Thomas Arthur Chao, dengan orang tua berkebangsaan Spanyol. Orang tua Manu pindah ke Prancis sebagai pengungsi politik, sejak kakeknya dijatuhi hukuman mati oleh diktator Franco. Manu kecil tumbuh di pinggiran kota Paris, yang dikelilingi para seniman, ilmuwan, dan kaum imigran. Ia bermain bola bersama anak-anak kelas pekerja di komunitasnya, dan bermusik dengan kawan-kawannya.

Musik rekaman ia rintis pada pertengahan 1980-an, lewat sebuah band multi-ras beraliran punk, Mano Negra—yang kemudian dijuluki ”The Clash dari Prancis”. Band ini sempat mengeluarkan lima album, dan terkenal di Eropa serta Amerika Latin, sebelum bubar tahun 1990-an.

Perjalanan ke Amerika Latin, di tahun 1990-an, memberi pengaruh besar pada musik Manu Chao selanjutnya. Dalam perjalanan tersebut, ia berkampanye untuk perdamaian, menyikapi konflik domestik yang banyak terjadi di Amerika Latin. Di Kolombia, ia membeli sebuah kereta api tua untuk menjangkau pedalaman, berdialog dengan para gerilyawan, agar bisa pentas di desa-desa basis gerilya mereka. Pernah juga ia pentas di hadapan pendengar, yang semuanya membawa senjata api. Pengalaman ini turut mempengaruhi pandangan politiknya.

Dalam empat tahun perjalanan, yang berlanjut ke beberapa negeri Afrika, ia berkesimpulan, bahwa kebudayaan rakyat di pedalaman negeri-negeri dunia ketiga, tidak begitu akrab dengan hentakan musik rock. Sejak itu Manu mulai mengaransemen lagu, dengan campuran irama Latin, reggae, ska, dan Afrika, tanpa hilangkan cita rasa rock di sebagian karyanya. Karena pencampuran ini, musik Manu sempat diberi label sebagai ”Musik Dunia” oleh BBC Inggris. Namun Manu menolak label tersebut, karena dianggap sebagai kebiasaan neo-kolonial Inggris dan Amerika Serikat untuk menandai musisi dari luar dunia berbahasa Inggris.

Lagu-lagunya dinyanyikan dalam sejumlah bahasa, seperti Inggris, Prancis, Spanyol, Portugis, Italia, Arab, Galicia, dan Wolof (dari Afrika Barat). Tapi sebagian besar ditulis dalam Spanyol, bahasa yang pertama kali ia kenal. Debut album solo Manu Chao, El Clandestino: Esperando La Ultima Ola (si Ilegal: Menanti Gelombang Terakhir), tahun 1998, terjual lebih dari 5 juta kopi. Dan album terbarunya, Radio Bemba, bertahan dalam sepuluh besar album terpopuler di 15 negara yang berbeda. Suatu indikator yang menonjol, di tengah kompetisi ribuan musisi yang menerbitkan ribuan album di Eropa dan Amerika Latin.

Untuk skala Eropa dan Amerika Latin, Garth Cartwright, seorang penulis dan jurnalis lepas BBC, berani membandingkan popularitas Manu Chao dengan The Beatles. Lebih banyak lagi yang membandingkan Manu dengan sang legendaris, Bob Marley; dalam hal popularitas, warna musik, dan kesederhanaan hidup. Mungkin sebuah perbandingan yang berlebihan, tapi mungkin juga tidak. Suatu waktu, Manu sendiri mengungkapkan ketidaksenangannya terhadap perbandingan tersebut. ”Bob adalah Bob, dan dia lah yang terbaik. Bob berada di divisi satu, sedangkan saya di divisi tiga. Bagi saya itu sudah cukup.”

Politik

Mengenai tema politik yang melekat pada karya-karyanya, Manu berkomentar, ”Politik ada di mana-mana. Saat saya menulis musik, saya selalu dipengaruhi oleh keadaan sekitar. Ke mana pun saya pergi di dunia, keadaan sekitar yang saya temui adalah politik.”

Banyak di antara lagunya bercerita tentang realitas penindasan di seluruh dunia. Rainin’ in Paradise (Hujan di Nirwana), misalnya, mengkritik tajam pemerintah Amerika Serikat atas berbagai tragedi yang terjadi di Zaire, Kongo, Irak, Palestina, sampai Kolombia. Demikian halnya lagu Clandestino (Bawah Tanah), La Primavera (Musim Semi), dan Politik Kills (Politik yang Membunuh), menggambarkan sikap politiknya. Kerap ia menempatkan pemerintahan Bush, beserta para politisi yang doyan menipu, sebagai musuh nomor wahid, dalam orasinya di atas panggung konser. ”Anda tidak bisa melawan teror dengan teror, atau kekerasan dengan kekerasan. Kekerasan hanya bisa dilawan dengan menyediakan pendidikan, pangan, dan saling pengertian yang baik.”

Dan, layaknya RATM, Manu sumbangkan royalti penjualan albumnya kepada kelompok pejuang Zapatista di Mexico. Ia juga bersedia bersedia adakan konser gratis di Genoa, di hadapan puluhan ribu massa aksi anti-globalisasi, atau, pada acara Forum Sosial Dunia (WSF) di Porto Alegre. Pada kesempatan lain, konser gratis diselenggarakan di kota Mexico City yang, tanpa publikasi luas, mampu mengumpulkan sekitar 150.000 penonton. Konser ini sebagai bentuk dukungannya kepada para mahasiswa Mexico yang ditangkap, saat aksi menentang kenaikan biaya kuliah.

Penyanyi tetangga

Tidak hanya tema besar seperti perang, imigran, dan globalisasi. Lagu-lagu Manu juga menggambarkan budaya sehari-hari kaum yang terpinggirkan. Seperti pada hits Minha Galera (Orang-orangku) yang berirama pelan, Manu Chao angkat cerita tentang kerinduan pada kampung halaman, pada kawan-kawan penggemar sepak bola, pada musik daerah, gubuk-gubuk, tarian capoera, pada minuman khas daerah, dan pada asap marijuana. Dalam lagu yang lain, ia tuturkan ketertindasan dan harapan masa depan para pelacur. Lagu berjudul Me Llaman Calle (Aku Dipanggil Jalanan) ini diilhami kehidupan perempuan penghibur di sekitar kafe tongkrongannya, di Barcelona. Dia juga membuat lagu yang khusus didedikasikan pada dua orang legenda di bidang yang berbeda, yaitu Bob Marley (musik) dan Diego Armando Maradona (sepak bola).

Selain di studio dan panggung, Manu biasa bermusik dan bernyanyi di mana saja, dengan media berkualitas apa saja—tanpa menuntut standar peralatan atau soundsystem. Kadang di kafe, di jalanan, dan lain-lain. Anda juga bisa bertemu Manu di suatu pelosok sedang bernyanyi di halaman rumah petani. Keakraban dan solidaritas tampak melekat pada karakter Manu, yang selalu merendah terhadap sanjungan, dam keberatan terhadap penyematan ikon atau pengkultusan.

“Saya bukan pemimpin atau “penyambung lidah rakyat” (voice of the voiceless)…. Saya sadar memiliki tanggung jawab, yang mungkin dapat membantu orang lain. Saya bisa menjangkau mikropon yang tidak bisa dijangkau banyak orang. Tapi saya (juga) punya tanggung jawab terhadap tetangga saya, karena saya penyanyi untuk tetangga saya. Di sana ada seorang lelaki yang pergi menyetir taxi, ada seorang yang menjadi buruh di pabrik, sementara saya adalah penyanyi.”

Meski merendah dan terus merendah, bagi jutaan penggemarnya, pamor Manu Chao justru meninggi. Musik dan liriknya mewakili sebuah semangat kolektif masyarakat dunia, di zaman kapitalisme neoliberal, yang mengharapkan perubahan.

DOMINGGUS OKTAVIANUS

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut