Mantan Diktator Guatemala Diseret Ke Pengadilan

Pengadilan Guetemala telah memerintahkan proses pengadilan terhadap diktator Efrain Rios Montt. Rios Montt, yang saat ini berusia 86 tahun, dianggap terlibat dalam genosida terhadap 1.750 masyarakat adat selama kekuasaannya.

Mendengar keputusan itu, kerabat para korban menyalakan petasan di luar gedung Mahkamah Agung untuk merayakan keputusan ini. Berbagai testimoni mengalir dari keluarga para korban.

Lembaga Human Rights Watch menyebut keputusan pengadilan itu sebagai langkah maju untuk mendorong demokratisasi dan penegakan HAM di Guetemala.

“Fakta bahwa seorang hakim telah memerintahkan pengadilan terhadap seorang mantan kepala negara adalah kejadian luar biasa di sebuah negara yang berlaku impunitas terhadap kejahatan di masa lalu,” kata kelompok sutradara Amerika, Jose Miguel Vivanco.

Tak hanya itu, pengadilan juga telah memerintahkan persidangan terhadap pensiunan jenderal militer, Jose Rodriguez, yang terpaksa menghadiri persidangan dengan kursi roda.

Hakim yang memerintahkan proses pengadilan ini, Miguel Galvez, mengatakan, dua orang perwira militer akan hadir di pengadilan pada tanggal 31 Januari mendatang untuk presentasi bukti.

Sampai saat ini, Rios Montt masih dikenai tahanan rumah. Sementara Jose Rodriguez sedang menjalani perawatan di sebuah rumah sakit militer.

Tetapi pengacara Rios Montt berdalih, ketika Rios Montt berkuasa, ia tak mengetahui pembantaian yang dilakukan tentaranya. Karena itu, pengacara Rios Montt akan mengajukan banding atas keputusan hakim Miguel Galvez.

Pada tahun 1982-1983, periode kekuasaan Rios Montt, Guetamala jatuh dalam tahun-tahun penuh ketakutan, teror, dan represi. Rios Montt melancarkan kudeta militer atas sokongan imperialisme AS.

Di bawah proyek memerangi gerilyawan komunis, pemerintahan Ronald Reagen di AS mengucurkan anggaran dan dukungan militer kepada Jenderal Rios Montt di Guetemala.

Sekalipun berkuasa dengan keji dan brutal, Reagen menyanjung Rios Montt sebagai orang yang “berdedikasi terhadap demokrasi”. Padahal, pembantaian terhadap rakyat terjadi hampir setiap hari di jalanan.

Di tahun 1983, Jenderal Rios Montt digulingkan oleh jenderal Mejia Victores. Lalu, pada tahun 2005, amandemen konstitusi melarang bekas diktator bisa menjadi calon Presiden.

Kemudian, pada tahun 1996, Alvaro Arzu terpilih sebagai Presiden. Ia menandatangani perjanjian damai antara pemerintah dan gerilyawan, yang sekaligus mengakhiri perang saudara selama 36 tahun.

Sayangnya, pada 1999, Alfonso Portillo dari Front Republiken Guetamala (FRG), partai sayap kanan bentukan Rios Montt, memenangi pemilu Presiden. Lebih buruk lagi, karena FRG mayoritas di parlemen, Rios Montt ditunjuk mengepalai Kongres.

Begitu berkuasa, FRG berniat mengubah konstitusi perihal larangan bekas diktator mencalonkan diri sebagai Presiden. Seturut dengan itu, Rios Montt mengajukan diri sebagai kandidat Presiden di pemilu 2013.

Beruntung, Rios Montt kalah dalam pemilu itu. Ia hanya mengumpulkan 19,3 persen. Meskipun demikian, Rios Montt tetap terus menikmati impunititas atas kejahatan HAM yang pernah dilakukannya.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut