Di Majalengka, Petani Dihujani Tembakan Gas Air Mata

Polisi kembali bertindak brutal saat menghadapi ribuan petani yang memprotes proyek pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Desa Sukamulya, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Kamis (17/11/2016).

Dalam kejadian itu, polisi menghujani petani dengan tembakan gas air mata. Akibatnya, 16 orang petani terluka karena terkena serpihan material gas air mata.

Selain itu, polisi juga menangkap 6 orang petani, yakni Zaenudin, Carsiman, Tarjo, Darni, Sunardi dan Junen. Empat diantaranya langsung dibawa ke Markas Polda Jawa Barat.

Selain menyebabkan korban, tindakan polisi juga menyebabkan 70 hektar lahan padi yang baru ditanam rusak karena terinjak-injak. Kemudian satu gubuk dan posko petani juga dibakar.

Hingga tadi malam, kondisi desa Sukamulya masih mencekam. Warga takut pulang ke rumah karena takut ditangkapi. Mereka memilih berkumpul di Balai Desa.

Awalnya, sekitar pukul 08.25 WIB, ribuan aparat gabungan Polisi, TNI dan Satpol PP tiba di desa Sukamulya. Rencananya, mereka akan melakukan pengukuran areal pembangunan BJIB.

Petani yang tidak mau lahannya dicaplok begitu saja berusaha mengajak negosiasi. Namun, negosiasi antara polisi dan petani di tengah sawah itu tidak berhasil. Polisi tetap ngotot melakukan pengukuran dan terus merangsek maju.

Sekitar pukul 12.30 WIB, polisi mulai menembakkan gas air mata. Para petani, yang tidak sedikit diantara ibu-ibu, mulai berhamburan menyelamatkan diri.

Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Dewi Kartika mengutuk keras tindakan represif aparat kepolisian tersebut.

Menurut dia, kejadian itu membutikan bahwa pemerintahan Jokowi-JK tidak serius menjalankan reforma agraria.

“Tindakan tersebut juga telah melanggar UU Nomor 2/2012 tentang pengadaan tanah untuk pembangunan bagi kepentingan umum,” ujarnya.

Ketua Front Pembela Rakyat Sukamulya (FPRS) Bambang mengatakan, pemerintah tidak pernah mensosialisasikan proyek BIJB itu kepada warga desa. Dia juga mencium aroma penyimpangan dan indikasi korupsi dalam proyek tersebut.

Lebih jauh, Bambang mengatakan, penggusuran warga Desa Sukamulya melanggar peraturan Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Basic Principles and Guidelines on Develpoment Based Evictions dan Displacement. Peraturan ini menekankan pentingnya memelihara hak-hak warga negara yang digusur demi proyek pembangunan.

“Selama ini pemerintah hanya menawarkan opsi jual bebas dan tidak ada opsi lain yang ditawarkan ke masyarakat,” ujar Bambang.

Desa Sukamulya adalah satu dari 11 desa yang akan terkena dampak penggusuran untuk proyek BIJB. Bandara itu akan dikelola PT BIJB, satu BUMD yang dibentuk pada 2013 lalu. Tak hanya bandara, perusahaan itu juga akan membuat Aerocity yang diperkirakan dibangun di atas lahan 3.200 hektare.

Ahmad Zulfikar 

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid