Mahasiswa Yogjakarta Ingatkan Tujuan Pendidikan Nasional

hardiknas diy

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), di Yogjakarta, dimanfaatkan oleh sedikitnya 500-an mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pendidikan (GNP) 2 Mei untuk mengeritik penyelenggaraan pendidikan nasional sekarang ini.

Aksi massa yang dimulai dari Taman Parkir Abu Bakar Ali hingga ke Titik Nol Kilometer itu mengusung sejumlah tuntutan, seperti hentikan liberalisasi pendidikan, cabut UU pendidikan tinggi, hapuskan Ujian Nasional, pencabutan Permendikbud Nomor 49 tahun 2014 tentang standar nasional pendidikan tinggi, dan lain-lain.

“Pendidikan hari ini makin melenceng dari tujuan pendidikan nasional, sebagaimana termaktub dalam konstitusi, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa,” kata Ardy Shihab, salah seorang juru bicara dalam aksi ini.

Menurut Ardy, sistim pendidikan sekarang ini makin mengabdi pada logika kapitalisme, yaitu menjadikan pendidikan sebagai lahan bisnis untuk menumpuk keuntungan.

Akibatnya, kata dia, orientasi pendidikan pun bukan lagi mencerdaskan kehidupan bangsa, melainkan mencari keuntungan dan mencetak barisan tenaga kerja untuk industri kapitalis.

“Pendidikan seharusnya bisa diakses oleh seluruh rakyat tanpa kecuali. Orientasinya harus untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Tentu saja dengan kurikulum dan metode pengajaran yang ilmiah dan demokratis,” terang dia.

Hal senada disampaikan oleh Dana Gumilar. Mahasiswa Institut Pertanian Stiper (Instiper) Jogjakarta ini menganggap pemerintah selaku penyelenggara pendidikan nasional telah melanggar amanat konstitusi dan pemikiran besar Ki Hajar Dewantara.

“Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan itu seharusnya bisa memanusiakan manusia dan menumbuh-kembangkan perasaan kebangsaan,” kata Dana.

Ia menganjurkan, supaya pendidikan nasional bisa menjangkau seluruh rakyat, maka biaya pendidikan harus digratiskan. Caranya, ungkap dia, semua kekayaan alam harus dikelola dengan baik sesuai dengan mandat pasal 33 UUD 1945.

“Kekayaan alam negara ini yang melimpah jangan lagi diserahkan kepada korporasi asing. Sudah saatnya dikelola oleh tangan-tangan anak negeri untuk kemakmuran rakyat dan mencerdaskan kehidupan bangsa,” paparnya.

GNP 2 Mei merupakan gabungan dari LMND (Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi) DIY, GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), SMI (Serikat Mahasiswa Indonesia), FMPR, IMM (Ikatan Muslim Muhammadiah), FAM-J (Front Aksi Mahasiswa Jogjakarta), PPM (Partai Persatuan Mahasiswa), PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia), PMII (Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia), SEKBER (Sekolah Bersama), Social Movement Institut, KPO PRP, PEMBEBASAN, KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), BEM KM INSTIPER, BEM REMA UNY, BEM UMY, BEM UNRYO, FH Atmajaya, Sosiologi Atmajaya, BEM FIS UNY, BEM LPP, BEM Stikes Surya Global, Ekspresi UNY, AKPRO BEM KM UGM, BEM STIKES MADANI, AKS AKK, CAKRAWALA, MAHARDIKA, FMY (Front Mahasiswa Yogyakarta), BEM AKPRIND, FLAC JOGJA.

Medi Muamar

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut