Mahasiswa Quebec Kembali Turun Ke Jalan

Hujan yang mengguyur Montreal, Provinsi Quebec, Kanada, Sabtu (2/6/2012) tidak menghalangi aksi protes yang melibatkan puluhan ribu orang. Mereka kembali memprotes rencana pemerintah menaikkan biaya pendidikan.

Sebelumnya, pemerintah berusaha berdialog dengan mahasiswa. Akan tetapi, kedua belah pihak gagal mencapai titik temu. Akhirnya, pada Kamis (31/5/2012) malam, Menteri Pendidikan Quebec Michelle Courchesne meninggalkan meja perundingan.

Dengan kegagalan itu, CLASSE—sebuah asosiasi mahasiswa yang banyak mengambil peran dalam protes mahasiswa di Quebec—menyerukan aksi protes di jalan-jalan.

“Ketika pemerintah menghentikan dialog, ketika pemerintah mensabotase negosiasi, maka satu-satunya jalan yang tersisa adalah warga memperdengarkan suaranya di jalan-jalan,” kata Gabriel Nadeau-Dubois, salah seorang jubir dari CLASSE.

Sejak kamis malam, protes sudah meletus di berbagai tempat di Quebec. Di Montreal saja, ada lusinan demonstrasi yang berlangsung. Yang terbesar, kata Radio Kanada, berhasil mengumpulkan 10.000-an orang.

“Kami akan terus menggelar rally dan menunjukkan bahwa kita terus termotivasi bahkan ketika musim panas tiba,” kata Gabriel Nadeau-Dubois.

Aksi ini sempat dianggap “illegal” oleh Polisi. Pengerahan pasukan besar-besaran pun, termasuk kendaraan mereka, terjadi dimana-mana. Tetapi, hampir semua aksi yang berlangsung Sabtu lalu berjalan damai.

Sesuai dengan ciri khasnya, mahasiswa dan rakyat Quebec membawa dan memukul panci di jalan-jalan. Ini semacam panggilan kepada seluruh rakyat untuk bersolidaritas menyelamatkan pendidikan. Juga, ini cara rakyat membuat suara mereka didengar oleh pemerintah.

Aksi protes ini jelas makin meluas. Keterlibatan massa rakyat makin besar dalam setiap aksi protes. Sebuah poster bertuliskan “Ini bukan lagi pemogokan mahasiswa, Ini adalah rakyat yang bangkit.”

Dua minggu kedepan, Quebec menjadi tuan rumah sebuah ajang balapan. Tentunya, banyak orang akan mengunjungi provinsi ini. Pemerintah sayap kanan sendiri akan mengganggap penting ajang balapan ini untuk industri pariwisata.

Bagi mahasiswa, ajang itu akan menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyuarakan suara mereka lebih luas lagi. Ini akan menjadi semacam “tribun” untuk menyampaikan pesan mahasiswa.

WILLY SUMANTRI

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut